Oleh : Saifunnajar
(Dosen IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Pembaca yang luar biasa.
Pernahkah masing-masing kita merasa menghadapi kesulitan yang luar biasa. Entah itu soal yang menimpa diri kita, isteri, anak keluarga, atau kehidupan kita yang sangat sulit, membuat perasaan kita suntuk dan tertekan. Lalu kemudian sekonyong-konyong menemukan jalan keluar dari kesulitan tersebut.
Sebenarnya begitulah dalam hidup ini. Penulis ini sudah berusia 65 tahun sudah tidak terbilang lagi jumlah kesulitan yang dialami, namun ya ada saja solusi dan jalan keluarnya. Maka kesulitan harus dihadapi dengan lapang dada dan dengan hati gembira. Anggap saja kita sedang berolah raga, memberikan kesempatan lawan dapat angka, nanti ada waktu kita yang nambah angka, kalah menang dalam permainan soal biasa.
Benarlah Firman Allah jangan berputus asa apa yang luput darimu, dan jangan pula terlalu gembira apa yang datang kepadamu.
Maka nikmati hidup ini seperti kita dalam kapal Ferry yang sedang di alun ombak. Indah rasanya sekali di bawah sekali di atas. Di atas ombak laut maksudnya.
Tahukan kita bagaimana sebenarnya hakitat hidup ini. Allah berfirman siapa yang bertaqwa kepada Allah. maka dia diberi solusi dari kesulitan.
Dan memberikan rezeki dari arah yang tidak diduga-duga.
Firman-Nya lagi kalau kamu menolong Allah, maka Allah akan menolong kamu. Ayat ini sangat cukup meyakinkan kita.
Ada hadis yang menarik untuk kita simak yang juga dapat memotivasi kita dalam hidup ini.
Imam Munziri yang lahir (581-656 H) mengutip hadis muttafaqun alaih dengan Riwayat Bukhari, Muslim dan Nasa-i, meletakkan hadis tersebut nomor satu bab pertama tentang motivasi kerja ikhlas dan jujur dalam melaksanakan setiap amal kebaikan. Dalam kitabnya At-targhib wa Tarhib jilid pertama. Hadis ini merupakan kisah tiga orang yang terkurung di dalam gua (Hadis Ashhabul-Ghar) tentang keikhlasan dan bertawassul dengan amal saleh.
Terjemahan hadis itu sebagai berikut:
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:
“Ada tiga orang dari umat sebelum kalian yang sedang berjalan. Mereka kehujanan lalu berteduh ke dalam sebuah gua di gunung. Tiba-tiba sebuah batu besar jatuh dari gunung sehingga menutup pintu gua tersebut.
Mereka berkata satu sama lain:
‘Sesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu ini kecuali dengan berdoa kepada Allah dengan menyebut amal saleh yang pernah kalian lakukan dengan ikhlas.’
Orang pertama berkata:
‘Ya Allah, aku memiliki dua orang tua yang sudah lanjut usia, dan aku tidak pernah mendahulukan siapa pun sebelum mereka dalam hal memberi minum, baik keluarga maupun harta.
Suatu hari aku mencari kayu bakar hingga terlambat pulang. Ketika aku datang, kedua orang tuaku telah tertidur. Aku telah menyiapkan susu untuk mereka, namun aku tidak ingin membangunkan mereka, dan aku pun tidak mau memberi minum anak-anak atau harta sebelum mereka.
Aku berdiri sambil memegang bejana susu itu hingga fajar, sementara anak-anakku menangis kelaparan di bawah kakiku. Ketika orang tuaku terbangun, barulah aku memberi mereka minum.
Ya Allah, jika aku melakukan hal itu semata-mata karena mengharap wajah-Mu, maka lepaskanlah kami dari kesulitan ini.’
Maka batu itu bergeser, tetapi mereka belum bisa keluar.”
Orang kedua berkata:
‘Ya Allah, aku memiliki seorang sepupu wanita yang sangat aku cintai sebagaimana cinta terberat seorang laki-laki kepada wanita. Aku pernah mengajaknya berbuat maksiat, tetapi ia menolak.
Suatu ketika ia mengalami kesulitan hingga datang kepadaku. Aku memberinya seratus dua puluh dinar dengan syarat ia mau menyerahkan dirinya kepadaku. Ketika aku hampir menindihnya, ia berkata:
“Bertakwalah kepada Allah dan jangan engkau merusak kehormatan ini tanpa hak.”
Maka aku pun menjauhinya, padahal ia adalah orang yang paling aku cintai, dan aku tinggalkan emas yang telah aku berikan.
Ya Allah, jika aku melakukan itu karena mengharap wajah-Mu, maka lepaskanlah kami dari apa yang kami alami ini.’
Maka batu itu kembali bergeser, tetapi mereka masih belum bisa keluar.”
Orang ketiga berkata:
‘Ya Allah, aku pernah mempekerjakan beberapa pekerja dan aku telah membayar upah mereka semua kecuali satu orang. Ia pergi meninggalkan upahnya.
Aku mengembangkan upah itu hingga menjadi banyak, berupa unta, sapi, kambing, dan budak.
Beberapa waktu kemudian ia datang dan berkata:
“Wahai hamba Allah, berikanlah upahku.”
Aku berkata:
“Semua yang engkau lihat itu adalah upahmu.”
Ia berkata:
“Wahai hamba Allah, jangan engkau mempermainkanku.”
Aku menjawab:
“Aku tidak mempermainkanmu.”
Lalu ia mengambil semuanya dan pergi tanpa meninggalkan sedikit pun.
Ya Allah, jika aku melakukan itu karena mengharap wajah-Mu, maka lepaskanlah kami dari kesulitan ini.’
Maka batu itu pun bergeser seluruhnya, dan mereka keluar dari gua itu dalam keadaan berjalan.”
Imam an-Nawawi berkata dalam Syarah Shahih Muslim :
“Hadis ini menjadi dalil bolehnya bertawassul dengan amal saleh, dan bahwa amal yang dilakukan dengan ikhlas menjadi sebab terkabulnya doa dan hilangnya kesulitan.”
Allah tidak menilai banyaknya amal, tetapi keikhlasan hati di balik amal tersebut.
Birrul Walidayn: Amal yang paling cepat membuahkan pertolongan.
Orang pertama bertawassul dengan baktinya kepada orang tua.
Imam al-Ghazali berkata:
“Keridaan Allah tergantung pada keridaan orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka keduanya.”
Ibnu Hajar al-‘Asqalani menegaskan dalam Fathu al-Bari:
“Dalam kisah ini terdapat isyarat bahwa birrul walidayn adalah amal yang paling utama setelah iman.”
Menahan Diri dari Maksiat: Puncak Kejujuran Iman.
Orang kedua meninggalkan zina dalam kondisi mampu dan sangat mencintai.
Imam Ibn Rajab al-Ḥanbali berkata dalam kitabnya Jami al-Ulum wa al-Hikam:
“Meninggalkan dosa ketika mampu melakukannya merupakan tanda keikhlasan iman dan ketinggian takwa.”
Imam al-Qurṭubi menulis dalam Tafsir al-Qurtubi :
“Barang siapa meninggalkan maksiat karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.”
Jadi, perlu diingat biasanya takwa sejati diuji saat ada kesempatan berbuat dosa.
Amanah dan Keadilan adalah Amal yang Menyelamatkan.
Orang ketiga menjaga amanah upah pekerja.
Imam Malik berkata:
“Tidak akan baik keadaan umat ini kecuali dengan amanah dan kejujuran.”
Ibnu Taimiyah menegaskan dalam kitabnya as-Siyasah Asy-Syar’iyyah:
“Allah menolong negara yang adil meskipun kafir, dan tidak menolong negara yang zalim meskipun Muslim.”
Kejujuran dalam muamalah adalah pondasi keselamatan sosial.
Ibnu Hajar menyimpulkan hadis ini dalam Fathu al-Bari :
“Batu itu bergeser secara bertahap sesuai kadar keikhlasan doa mereka.” Artinya pertolongan Allah sering datang perlahan, bukan sekaligus, sebagai ujian kesabaran dan keyakinan.
Pembaca yang Budiman.
Jika hidup terasa sempit, jangan hanya mencari solusi duniawi. Carilah kembali amal ikhlas yang pernah kita lakukan, walau kecil dan tersembunyi.
Imam Sufyan ats-Tsauri berkata:
“Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagiku daripada menjaga keikhlasan.”
Semoga Allah menjadikan amal-amal kecil kita sebagai sebab terbukanya pintu pertolongan-Nya. Amin.






