Oleh : Samsul Nizar
(Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Menurut KBBI, kata kursi memiliki 2 (dua) makna, yaitu : (1) tempat duduk yang ber-kaki dan bersandaran. (2) kedudukan atau jabatan (berikut berbagai fasilitas yang diperoleh). Makna majazi ini menjadikan pemilik “kursi” selalu dihormati, ditakuti, dipuja, dibela, dan varian istimewa lainnya. Akibatnya, pesona dan “gemerlap cahaya kursi” membuat manusia jadi gila hormat, silau, terpukau, lupa diri, bahkan “menjual harga diri”. Padahal, pesonanya “bak bara” yang berpotensi menghantarkan manusia pada awalnya dipuji tapi berakhir di balik jeruji besi. Anehnya, fenomena ini tak menyurutkan asa meraih “kursi” dengan menghalalkan segala cara. Padahal, eksistensi “kursi” berkaitan dengan karak-ter keluarga perlu direnungkan, antara lain :
Pertama, Menyadarkan bahwa hanya Allah pemilik kursi (kuasa) yang hakiki, berupa keluasan kekuasaan, ilmu, dan keagungan-Nya yang abadi tanpa batas. Hal ini sesuai firman-Nya : “….. Kursi-Nya (ilmu dan ke-kuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung” (QS. al-Baqarah : 255).
Menurut Ibn Katsir, manusia yang sadar atas “kursi-Nya” (kuasa Allah) akan selalu tawadhu’ tanpa kesombongan. Sebab, setiap amanah akan dipertanggungjawab-kan dihadapan-Nya (QS. an-Nahl : 93).
Eksistensinya akan berwujud nikmat-Nya bila digunakan untuk kebajikan dan kebaik-an. Hulunya bila “kursi” yang diraih dengan cara yang benar dan hilirnya bermuara pada penghambaan dan khalifah rahmat-an lil ‘alamin. Raih dengan cara yang benar. Bila tak mampu dan menimbulkan fitnah, sebaiknya jangan memaksa diri bila hanya sekedar memenuhi ambisi tak bertepi.
Sebab, kursi (posisi) bisa berisi murka-Nya bila diraih dengan cara bathil. Cara ini akan ditopang oleh kumpulan manusia munafik (ambisius) “seputar tali pinggang”. Hiasan sumpah atas nama Allah menjadi senjata kemunafikan. Anehnya, manusia justeru lebih percaya kemunafikan sebagai kebenaran dan menyingkirkan pemilik kejujuran. Padahal, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan : “Sungguh yang paling aku khawatirkan atas kalian semua sepening-galku adalah orang munafik yang pintar berbicara” (HR. Imam ath-Thabrani).
Melalui hadis di atas, Rasulullah ﷺ meng-ingatkan agar umatnya mewaspadai sosok munafik yang anggun dalam tampilan dan bijak menguntai kata bak “madu tapi racun berbisa”. Namun manusia tak mau menya-dari. Silau tampilan saleh dengan untaian kata “menjual Allah dan Rasul-Nya” untuk mendapatkan hasrat yang diinginkan. Padahal, Allah secara tegas melaknat para penjual agama untuk meraih ambisi yang tak bertepi (QS. al-Baqarah : 41).
Kedua, Mengingatkan manusia atas cara dan keterbatasan kursi yang diraih. Apa-kah telah menyerahkan pada yang berhak atau justeru “rekayasa berpihak”. Sebab, semua pemberi dan penerima amanah (kursi) akan mempertanggungjawabkan-nya dihadapan Allah (QS. an-Nisa’ : 58).
Ibnu Katsir menjelaskan bawa ayat di atas menekankan dua perintah utama, yaitu : (1) menunaikan dan memberikan amanah kepada pemiliknya. Bila dinafikan, maka dosa akan ditimpakan bersamaan murka-Nya. (2) menetapkan hukum secara adil. Bila dinafikan, maka timbul kezaliman.
Ketiga, Kenikmatan duduk di kursi mem-buat manusia lupa. Meski kursi dipoles “emas permata”, tapi di bawah kursi terdapat debu dan di bawah marmer mengkilap ada tanah tempat akhir semua kehidupan. Hari ini masih terdapat sosok manusia yang duduk dengan pongah, tapi esok mungkin akan terbaring di dalam tanah tanpa daya. Hal ini diingatkan melalui firman-Nya : “Darinya (tanah) itulah Kami menciptakanmu, kepadanyalah Kami akan mengembalikanmu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkanmu pada waktu yang lain” (QS. Thaha : 55).
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat di atas, bahwa Allah menciptakan manusia dari tanah, mengembalikan ke tanah (alam kubur), dan membangkitkan-nya pada hari kiamat. Demikian siklus yang akan dilalui. Untuk itu, semua hanya sebatas pinjaman (amanah) selama hidup di dunia. Setiap pinjaman (amanah) pasti akan diminta pertanggungjawaban. Ketika itu, tak ada yang mampu ditutupi meski dengan “seonggok materi”. Lidah yang selama ini lihai berkelit akan kelu. Lidah tak lagi mampu berkelit (berbohong) yang selama di dunia begitu piawai dilakukan.
Sadarlah, setiap rezeki yang berawal atau berasal dari kejahatan adalah haram. Hal ini sesuai kaedah fiqh yang menyebutkan “segala sesuatu yang mengantarkan kepada yang haram, maka ia juga haram“. Andai berupa rezeki yang dimakan dan dipakai oleh keluarga (anak keturunan), maka sama dengan memasukan butiran api neraka dan memakaikan zirah (baju besi) lempengan neraka. Secara zahir, keluarga terlihat begitu bahagia, bangga, bahkan tampil hedon. Padahal, secara hakikat justeru wujud kezaliman atas ke-luarga dan zuriyatnya. Sebab, buah tran-saksi tersebut dinikmati dengan penuh kebanggaan oleh keluarga. Sungguh, tak ada kedamaian bagi diri dan keluarga yang menikmati suatu yang haram (subhat).
Demikian ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah pada umatnya. Untuk itu, wajar bila Abu Dujanah begitu menjaga makanan bagi keluarganya. Kisah Abu Dujanah yang membuat Rasulullah menangis bangga. Sebab, meski ia hidup dalam kekurangan, tanpa atribut, gelar yang tinggi, dan tanpa “kursi”, tapi ia mampu menjaga diri dan keluarganya dari sesuatu yang haram. Kualitas iman yang menghantarkannya meraih keutamaan dengan ridha-Nya.
Sungguh, tak selamanya kebahagiaan datang dari gemerlap dunia dan istana yang megah. Kebahagiaan datang dari hati yang sadar betapa kecilnya diri dihadapan Allah. Sungguh, kebenaran hanya hadir dari hamba yang jujur. Kebenaran sulit ditemukan dari tembok istana megah yang diisi manusia munafik, bermulut manis, berbungkus asesories shaleh, dan penuh kepura-puraan. Meski bisa menipu sesama-nya, tapi ia tak pernah mampu menipu Allah dan Rasul-Nya (QS. al-Baqarah : 9).
Sebab, semua tipu daya yang dilakukan hanya akan menipu diri sendiri (akibat perilaku). Namun, kesemuanya tak pernah disadari. Sebab, hati dan panca inderanya telah terkunci (QS. al-Baqarah : 7).
Meski lidah bersumpah atas nama Allah, fasih melantunkan kalam-Nya, tau halal atau haram, tapi semua perilaku kesalehan yang ditampilkan sebatas menyembunyi-kan kotornya hati dan rusaknya iman dalam diri. Manusia yang demikian telah melupakan debu di bawah kursi (keduduk-an) dan tanah di bawah keramik indah yang dipijak. Debu yang berwujud kotornya diri dan tanah yang selalu menunggu jasad kembali ke asalnya. Untuk itu, Islam memotivasi manusia bekerja maksimal, tapi sesuai aturan agama. Dengan demikian, kebahagiaan dunia dan akhirat akan mampu diraih (QS. al-Baqarah : 201).
Sungguh, kehadiran kursi menghadirkan daya tarik yang acapkali melupakan tujuan utama sebagai ‘abd dan khalifah di muka bumi. Sebab, manusia acapkali takut tak dapat “kursi” ketimbang takut tak memper-oleh cinta Ilahi. Bagi nafsu terbimbing oleh iman, “kursi” merupakan amanah (vertikal-horizontal) yang perlu dilaksanakan sesuai aturan Allah, Rasul-Nya, dan hukum yang ada. Namun, bila asa nafsu tanpa iman, eksistensi “kursi” akan menjadi penyebab terjualnya harga diri. Sebab, hukum dan puji bisa “dibeli” sesuai “transaksi yang disepakati”. Semua untuk memuaskan keinginan nafsu yang tak berujung. Kepuasan nafsu tak pernah surut sampai jasad kembali ke asalnya dan mulut terisi dengan tanah (asal kejadian). Hal ini diingatkan oleh Rasulullah ﷺ : “Andai bani Adam memiliki dua lembah penuh dengan harta, niscaya dia akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi perut bani Adam selain tanah” (HR. Bukhari dan Muslim).
Melalui hadis di atas, Rasulullah meng-ingatkan tentang sifat serakah manusia yang tidak pernah merasa puas. Frasa ini merupakan kiasan untuk menggambarkan sifat manusia yang tanpa henti mengejar harta dan ambisi, sampai akhirnya tanah (kematian) yang bisa memenuhi “perutnya” (keinginan). Untuk itu, Rasulullah meng-ingatkan agar umatnya tak terperangkap dalam keserakahan duniawi yang mem-bius dan membelenggu. Keserakahan yang acapkali menggiring melakukan prilaku ter-cela (zalim, serakah, dan varian lainnya).
Islam mendorong agar manusia mengejar dan meraih kehidupan dunia. Namun, upaya tersebut harus sesuai al-Quran dan hadis, serta dilakukan tanpa melupakan akhirat. Bila aturan Allah dan Rasul-Nya dilakukan, maka keberkahan hidup akan diraih. Tapi, bila aturan Allah dan Rasul-Nya sengaja dilanggar, maka kenestapaan abadi (dunia akhirat) yang pedih akan dipetik. Bahkan, kenestapaan yang diturunkan-Nya akan menimpa seluruh keturunannya. Hal ini dinyatakan Allah melalui firman-Nya : “Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya” (QS. al-Anfal : 25).
Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa Allah memperingatkan agar manusia waspada terhadap fitnah dan serakah yang bisa me-nimpa semua orang. Siksa-Nya bukan saja menimpa pelaku kezaliman, tapi keluarga dan manusia umumnya. Sebab, mereka ikut menikmati hasil dan sengaja membiar-kan kezaliman tanpa berupaya mencegah-nya. Hanya keluarga yang memiliki iman dan kehormatan akan selalu mendorong tegaknya amanah, kejujuran, dan ajaran-Nya. Sebab, setiap “kursi” terbuka ruang “fitnah” (cobaan) diri dan cermin karakter keluarga yang tersembunyi, yaitu keluarga fujuraha atau taqwaha (QS. asy-Syams : 8). Keluarga taqwa akan selektif menerima rezeki. Sebaliknya, keluarga fujur justeru mendukung transaksi haram tanpa peduli agama. Padahal, semua yang dihasilkan berupa unsur api neraka. Pada waktunya, semua janji-Nya pasti terlihat dan terbukti. Tatkala siksa-Nya hadir, ia berwujud azab pada pelaku kezaliman dan murka bagi yang membiarkan terjadinya kejahatan.
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.
Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 22 Desember 2025


