Oleh : Samsul Nizar
(Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Manusia tersentak pilu. Siklon tropis senyar telah membuat alam meronta dan korban berjatuhan. Sebenar-nya, alam sedang “bersabda” untuk mengingatkan manusia atas kebesaran Allah (QS. al-Baqarah : 164). Ketika “alam bersabda”, asma Allah menggema seantero pelosok negeri. Gema yang terbangun oleh rasa takut ketika “alam bersabda” sesuai perintah-Nya. Namun, kadangkala gema asma-Nya tak selamanya berkorelasi dengan tumbuhnya keinsafan, kesadaran, dan taubat an-nasuha pasca “alam diam dan tenang”. Padahal, “sabda alam” merupakan firman-Nya (ayat kauniyah) yang bertujuan untuk menyadarkan hamba atas buah perbuatannya. Namun, begitu alam telah kembali “bersahabat”, manusia justeru meneruskan berbagai prilaku kemungkaran dan keserakahan, bahkan semakin menggila. Seakan, manusia begitu kuat, hebat, dan hidup selamanya.
Dalam al-Quran, Allah SWT telah meng-ingatkan penyebab “alam bersabda” dan tujuan berbagai fenomena yang terjadi. Hal ini terlihat pada firman-Nya : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. ar-Rum : 41).
Melalui ayat di atas, Allah mengingatkan ketika manusia tidak patuh terhadap atur-an Allah, maka timbul berbagai musibah. Wujudnya bisa berupa bencana alam, terbukanya aib diri dan keluarga, bahkan kehancuran peradaban. Meski semua janji Allah pasti adanya, namun manusia acap-kali mengingkari, mendustakan, serta alpa memikirkan untuk menyadari makna per-ingatan-Nya. Padahal, semua fenomena dan “sabda alam” muncul disebabkan ulah manusia (personal atau komunal). Bila perbuatan kebajikan yang dilakukan, maka “sabda alam” akan membawa kenikmatan bagi semesta. Tapi, bila kezaliman dan ke-mungkaran yang ditradisikan, maka semes-ta akan murka dan membawa azab-Nya.
Ada beberapa pelajaran atas fenomena alam yang perlu direnungkan, antara lain :
Pertama, Sabda alam hadir sebagai peng-ingat atas kealpaan dan kemungkaran yang dilakukan manusia. Hal ini sesuai firman Allah : “Dan apa pun musibah yang menimpamu, maka itu disebabkan oleh apa yang dilakukan tanganmu, dan Allah memaafkan kebanyakan dari kesalahanmu itu” (QS. asy-Syura : 30).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelas-kan bahwa berbagai musibah (alam) yang menimpa manusia adalah akibat langsung dari perbuatan dan kesalahan yang dilaku-kan. Namun, dengan rahman dan rahim-Nya, Allah telah memaafkan berbagai kesalahan manusia. Sebab, ampunan-Nya lebih besar daripada murka-Nya. Tapi, ma-nusia acapkali “mempermainkan” ayat-ayat Allah dengan tetap kufur atas semua yang telah diperingatkan-Nya. Bahkan secara khusus, dalam QS ar-Rahman pertanyaan berulang sebanyak 31 kali, yaitu : “Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?”. Ayat ini merupakan pertanyaan retoris yang menantang jin dan manusia yang acapkali mengingkari (kufur) atas semua nikmat-Nya.
Kedua, Membuka aib prilaku (manusia) yang disembunyikan. Ada kalanya, melalui “sabda alam”, terbongkar kebusukan yang disembunyikan atas amanah yang dipikul. Mulai kualitas (kekuatan) pembangunan yang penuh “intrik, kolusi, dan negosiasi”, perambahan hutan yang di luar batas (se-rampangan), bukti eksploitasi penambang-an sumber daya alam tanpa aturan, bah-kan adakalanya terselip khianat ketika pendistribusian bantuan kemanusiaan.
Sungguh, alam sedang “membongkar” ulah manusia yang disembunyikan. Kadangkala ia menimpa pada komunitas “seputar ikat pinggang” pelaku kezaliman, tapi ada kala-nya menimpa manusia tak berdosa di luar lingkungan pelaku kejahatan.
Ketiga, Menyadarkan manusia atas ke-Mahakuasaan Allah yang sering dilupakan. Bagi pemilik iman dan hidup sesuai aturan-Nya, sabda alam akan menambah dan memperkokoh keimanannya. Baginya semua fenomena alam merupakan ayat Allah agar hamba ingat “jalan pulang”. Tapi, bagi pemilik iman dan agama sebatas lipstik (permainan), sabda alam merupakan bentuk murka-Nya. Hal ini diingatkan Allah melalui firman-Nya : “Kebajikan (nikmat) apa saja yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan keburukan (bencana) apa saja yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri…..” (QS. an-Nisa’ : 79).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelas-kan bahwa segala kebaikan adalah karunia Allah SWT. Sedangkan segala musibah (ke-burukan) yang terjadi akibat dari perbuatan dosa yang dilakukan oleh manusia.
Fenomena “sabda alam” yang telah dan sedang terjadi akan berpotensi terulang kembali pada setiap generasi. Ada 2 (dua) jenis “sabda alam” yang difirmankan-Nya sepanjang zaman, yaitu : (1) “sabda alam” sebagai bentuk cinta-Nya untuk menguji, menyaring (memfilter), dan memperkokoh keimanan hamba. (2) “sabda alam” terjadi sebagai bentuk murka-Nya terhadap manusia yang ingkar dan menyebabkan terjadinya musibah.
Ada kalanya murka Allah tertuju pada pelaku kemungkaran, tapi berdampak pada manusia lain yang tak bersalah. Bila musibah terjadi karena murka-Nya, maka begitu zalim pelaku kemungkaran yang menyebabkan turun azab-Nya.
Dalam sejarah, kedua bentuk “sabda alam” di atas bagaikan dua sisi mata uang. Ia terjadi pada saat yang sama untuk me-nyampaikan pesan pada pelaku kezaliman dan penjaga kebenaran. Sungguh, Allah telah menyampaikan fenomena “sabda alam” dalam al-Quran sebagai pedoman, bukan sebatas bacaan. Beberapa “sabda alam” yang dinukilkan dalam al-Quran antara lain : (1) banjir bandang yang me-nimpa kaum nabi Nuh AS (QS. Hud : 44).
Bencana ini adalah hukuman bagi mereka yang ingkar dan keras kepala. Sementara, bagi Nabi Nuh dan pengikutnya yang beriman, musibah ini adalah ujian ketaatan dan janji keselamatan melalui bahtera besar yang dibangun sesuai perintah Allah SWT. Ujian ini memperkokoh keimanan mereka yang taat dan menjauhkannya dari orang-orang zalim. (2) angin topan dan kekeringan yang menimpa umat nabi Hud AS (QS. al-Haqqah : 6-8). Ia menjadi azab bagi kaum ‘Ad yang begitu keras kepala, sombong dan ingkar. Sementara musibah tersebut menjadi ujian bagi nabi Hud dan pengikutnya untuk tetap teguh dalam dakwah di tengah penolakan dan tekanan. (3) gempa bumi yang menimpa umat nabi Syu’aib AS (QS. al-A’raf : 91) dan nabi Shaleh AS (QS. al-A’raf : 78). Bencana ini menjadi hukuman bagi kaum yang zalim yang melanggar aturan Allah, memper-tegas bukti kekuasaan-Nya, dan menguji keimanan para pengikut nabi yang senan-tiasa berpegang teguh pada ajaran-Nya. (4) hujan batu yang ditimpakan pada umat nabi Luth AS (QS. Hud : 82). Sebab, kedurhakaan umat yang telah melampaui batas karena menyukai sesama jenis. Ke-kejian prilaku kaum Sodom menyebabkan terjadinya musibah gempa bumi, hujan batu, hingga angin kencang.
Semua penyebab “sabda alam” dan ber-bagai musibah lainnya begitu jelas terlihat dipelupuk mata. Tapi, manusia acapkali mendustakan dan melakukan kesesatan (pengingkaran) secara sadar dan berulang. Seakan ayat-Nya tak pernah dijadikan pelajaran (pedoman). Seakan, manusia sedang ingin “menguji” kebenaran dan kuasa-Nya. Padahal, Allah telah sampai-kan melalui firman-Nya : “Dan Kami turunkan kepada mereka hujan [batu] ; maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu” (QS. al-A’raf : 84).
Ayat di atas menunjukkan betapa kuatnya dampak kesesatan suatu kaum yang me-ngundang murka-Nya. Namun, manusia acapkali melupakan fenomena alam sebagai bagian firman Allah. Manusia hanya mengkaitkan musibah alam dalam perspektif keilmuan (scientific). Pada sisi lain, hadir tabi’at “menghakimi” sesama untuk mencari “kambing hitam” persoalan. Padahal, punca persoalan acapkali tak di-kaji dan terlupakan. Akibatnya, begitu “sabda alam” bergelora meluluhlantakkan semesta, hadir “kesalehan” hakiki. Begitu “sabda alam” reda, suara asma Allah terdengar sayup-sayup dan akhirnya sirna.
Pertanyaan kondisi keimanan yang perlu dijawab setiap manusia. Apabila “sabda alam” mampu menyadarkan, memperkuat keimanan, dan mengingatkan manusia “jalan pulang”, maka ia menjadi hamba yang beruntung (QS. al-Anfal : 2). Tapi, bila “sabda alam” tak pernah mampu menyadar-kan diri atas kebesaran Allah dan berupaya mengoreksi kesalahan atau kezaliman yang dilakukan, maka ia menjadi hamba yang celaka (QS. al-Baqarah : 7) bahkan lebih hina ketimbang binatang ( QS. al-A’raf : 179). Mereka adalah manusia yang telah mengingkari ajaran dan cahaya agama.
Meski “sabda alam” disebabkan ulah oknum pelaku kejahatan, tapi ketika ben-cana terjadi, ia akan menimpa semua yang ada. Tak terkecuali hamba pelaku kebajik-an. Allah Maha Adil pada setiap hamba-Nya dengan menghadirkan musibah sebagai media memperkuat keimanan bagi hamba yang shaleh (QS. al-Baqarah : 155-157). Tapi, “sabda alam” (bencana) tampil sebagai siksaan (murka) bagi hamba yang berbuat salah atau ingkar (QS. al-Anfal : 25). Semoga “sabda alam” mampu memperkuat keimanan hamba terpilih dan menyadarkan pelaku kezalim-an. Ketika semua elemen manusia mampu mengambil pelajaran untuk memperbaiki diri, maka musibah akan berganti nikmat-Nya. Namun, tatkala “sabda alam” tak mampu mengetuk “sisi penghambaan” dan merubah sifat dan prilaku, maka musibah akan selalu hadir. Bahkan, kehadirannya akan tampil dalam skala lebih besar yang tak pernah terfikirkan dan terbayangkan.
Semoga masih tersisa hamba pilihan yang mampu mengetuk pintu ampunan-Nya. Munajat penghambaan agar musibah se-gera diganti dengan nikmat-Nya, seiring hancurnya pelaku kezaliman yang menye-babkan hadir murka-Nya, aamiin.
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.
Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 1 Desember 2025


