Oleh : Samsul Nizar
(Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Dikisahkan, pada suatu hari datang se-orang pemuda menemui nabi Isa AS. Ia menyampaikan keinginannya agar diper-bolehkan ikut untuk menyebarkan agama Allah. Melihat keseriusan si pemuda, akhir-nya nabi Isa mengizinkannya.
Setelah seharian melakukan perjalanan, keduanya berhenti di tepi sungai untuk beristirahat. Nabi Isa mengeluarkan bekalnya berupa 3 (tiga) potong roti. Masing-masing memakan 1 (satu) potong roti. Nabi Isa menyimpan 1 (satu) potong roti yang tersisa. Ketika nabi Isa pergi mencuci mukanya di sungai, si pemuda diam-diam mencuri roti tersebut dan memakannya. Ketika kembali, nabi Isa tak menemukan roti tersebut, lalu bertanya, “siapakah yang mengambil roti yang tersisa ?“. Si pemuda mengatakan, “demi Allah, aku tak tau“. Nabi Isa diam dan keduanya melanjutkan perjalanan.
Di tengah perjalanan, nabi Isa bertemu dengan kawanan rusa. Ia menangkap 1 ekor anak rusa untuk disembelih dan dipanggangnya. Setelah memakan daging rusa tersebut, nabi Isa berdoa pada Allah agar rusa tersebut kembali dihidupkan. Be-gitu rusa hidup kembali, nabi Isa berkata, “Demi Allah yang memperlihat padamu atas mukjizat yang telah Allah berikan dengan menghidupkan rusa yang telah mati. Nabi Isa lanjut bertanya, “siapakah yang mengambil sepotong roti tadi ?“. Si pemuda tetap teguh berkata, “demi Allah, aku tidak tau“. Lalu, keduanya melanjutkan perjalanan. Di tengah hutan, nabi Isa AS mengumpulkan pasir dan batu, seraya berdoa, “Yaa Allah, jadikanlah semua pasir dan batu ini menjadi emas”. Dengan izin Allah, semua gumpalan pasir dan batu yang dikumpulkan berubah menjadi emas. Lalu, nabi Isa membagi rata emas tersebut menjadi 3 (tiga) bagian, seraya berkata : “semua emas ini akan ku bagi secara adil. 1 bagian untuk diriku, 1 bagian untuk engkau wahai pemuda, dan 1 bagian lagi untuk orang yang telah mengambil rotiku yang hilang”. Setelah mendengar kata nabi Isa, si pemuda tersebut akhirnya mengaku dan berkata, “demi Allah, sebenarnya aku-lah yang telah mengambil dan memakan rotimu tadi“. Mendengar pengakuan si pemuda, nabi Isa tersenyum dan berkata : “wahai pemuda, ambilah semua emas ini untukmu”. Mendengar kata nabi Isa, si pemuda tersenyum senang bisa memiliki semua emas dan lupa tujuan utamanya. Akibatnya, nabi Isa pergi meninggalkan si pemuda sendirian di tengah hutan.
Tak lama setelah nabi Isa pergi, si pemuda bertemu dengan 2 (dua) orang begal yang serakah. Awalnya, ketiganya sepakat untuk membagi rata emas tersebut. Namun, sifat serakah dan licik membuat ketiganya ingin memiliki semua emas. Ketiganya saling membunuh dan akhirnya tak satu pun yang mendapatkan emas tersebut.
Kisah di atas merupakan fenomena nyata prilaku manusia serakah sepanjang se-jarah. Sifat yang menerpa semua elemen. Bahkan, semakin tinggi status, semakin berpotensi berprilaku serakah, lupa diri dan sejarah. Kisah nabi Isa dan pemuda serakah menampilkan pelajaran atas karakter manusia, yaitu :
Pertama, Menutupi kerakusan dengan ber-bohong atas nama Allah (sumpah palsu). Meski telah melihat begitu nyata kuasa Allah (mukjizat), namun tetap tak pernah mau mengaku kesalahan yang dilakukan. Untuk menutupi kebohongannya, manusia begitu “ringan” menjadikan Allah sebagai alat pembenaran diri. Begitu fasih dan ringan bersumpah atas nama Allah. Ter-hadap Allah dan Rasul-Nya saja dipermain-kan, apatahlagi pada sesama. Begitu kejinya sifat manusia. Menutupi keserakah-an dengan kemunafikan. Anehnya, ucapan pembohong justeru memperoleh keper-cayaan komunal sebagai suatu kebenaran. Akibatnya, kebohongan, kemunafikan dan kezaliman terus terjadi tanpa hambatan. Padahal, pembelaan (pembenaran) atas ke-salahan berarti ikut melakukan perbuatan dosa yang semisal.
Dalam Islam, bersumpah atas nama Allah merupakan ungkapan yang dianjurkan. Tujuan untuk menguatkan kebenaran yang ada. Namun, Islam sangat mencela bila sumpah palsu yang mengatasnamakan Allah. Sebab, perbuatan tersebut merupa-kan dosa besar. Allah berfirman : “…laknat Allah akan menimpanya, jika dia termasuk orang yang berdusta” (QS. an-Nur : 7).
Begitu jelas ancaman Allah, tapi manusia justeru mempermainkannya. Tampil bak pemuda yang ingin bersama nabi menye-barkan agama, ternyata juateru menjual agama untuk kepentingan duniawi.
Kedua, Manusia tak akan pernah mengaku salah meski nyawa taruhannya. Manusia hanya akan mengaku -bahkan meski tak pernah dilakukan– bila “onggokan emas dan tahta” menyilaukan matanya. Begitu keserakahan menghantui manusia tanpa iman sepanjang hidupnya. Hal ini diingat-kan oleh Rasulullah melalui sabdanya : “Anak Adam akan menjadi tua, tetapi akan tetap muda dalam dua perkara yaitu tamak akan harta dan ingin umur panjang” (HR. Muslim).
Demikian sifat manusia serakah begitu mudah mempermainkan sumpahnya. Ke-jujuran atas kebohongan akan terbuka bila disuguhkan materi dan posisi. Ia tak lagi malu dan ragu untuk mengakui semua kemunafikan dan kebohongannya. Ternyata, keserakahan akan terlihat bila dijanjikan kemewahan. Bahkan, manusia rela menjual iman dan harga dirinya. Rasulullah bersabda : “Andai anak Adam memiliki emas satu lembah, niscaya ingin memiliki lembah berikutnya. Tidak ada yang dapat mengisi mulutnya (hawa nafsu) kecuali tanah (maut). Allah menerima taubat siapa saja yang bertaubat kepada-Nya” (HR. Muslim).
Hadis di atas begitu jelas menggambarkan bahwa sifat keserakahan terhadap harta akan senantiasa berlangsung, bahkan hingga usia renta (senja). Semua akan berakhir ketika “mulut terisi tanah” (mati). Ketika masa tersebut tiba, tak ada lagi berguna penyesalan.
Sungguh, harta dan tahta yang diperoleh secara batil akan mendorong pemiliknya berbuat zalim dan menginjak kebenaran. Namun, prilaku ini terus menerus terjadi. Padahal, Allah SWT begitu terang menjelas-kan akibat yang menimpa kaum terdahulu yang menentang para nabi dan Rasul-Nya. Berbagai tradisi umat terdahulu begitu nyata (khianat, fitnah, bergunjing, sumpah palsu, “menyembah” (berharap) dengan makhluk, serakah, menghalalkan semua cara, dan varian lainnya).
Demikian perumpamaan tipu daya iblis dan karakter hamba yang serakah dengan mudah bersumpah palsu untuk meraih ke-inginannya. Padahal, Allah telah meng-ingatkan melalui firman-Nya : “Manusia mengira bahwa hartanya dapat mengekal-kannya. Sekali-kali tidak !. Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Huthamah” (QS. al-Humazah : 1-4).
Ayat di atas terkait karakter manusia yang serakah dan munafik sepanjang masa. Bila kisah nabi Isa AS dan pemuda serakah di atas ditarik pada fenomena akhir zaman, semua prilaku berangkat dari karakter generasi sebelumnya yang akan menentu-kan karakter generasi sesudahnya. Ungkap-an ini merujuk pada kearifan sosial yang menggambarkan sifat, prilaku, dan kondisi suatu generasi sering kali mencerminkan warisan yang diterima dari keluarga dan generasi sebelumnya. Dalam Islam, konsep ini berkaitan dengan pendidikan anak, warisan budaya, dan tanggungjawab orang tua. Seyogyanya, manusia khawatir atas karakter keturunannya (QS. an-Nisa’ : 9). Kekhawatiran yang mendorong untuk menampilkan tauladan mulia yang mem-buahkan amal jariyah. Tapi, bila generasi saat ini mencontohkan prilaku nista dan diikuti generasi selanjutnya, maka ia akan memanen dosa jariyah sepanjang masa. Hal ini semakin parah bila contoh keburuk-an yang ditinggalkan “meracuni” generasi muda melalui makanan dari sumber yang haram untuk membesarkannya. Mereka enggan mentauladani sikap Abu Dujanah yang menjaga keluarga dan generasi masa depan agar tumbuh dari rezeki yang halal. Sebab, Islam mengingatkan bila generasi (zuriyat) tumbuh dari “butiran api neraka”, maka kehadirannya akan “membakar” per-adaban masa depan bangsa.
Pilihan begitu jelas (hitam dan putih) untuk “menulis” bentuk dan karakter generasi masa depan. Bagai kanvas kehidupan, se-mua lukisan dan warna yang dipilih pelukis (keluarga) akan berdampak pada wujud lukisan generasi selanjutnya. Untuk itu, makna esensi Sumpah Pemuda perlu di-pahami secara benar, terutama ketauladan-an keluarga dan elemen bangsa.
Sungguh, ketika melihat fenomena prilaku manusia akhir zaman, maka terlihat cara yang telah Allah sampaikan pada hamba-Nya. Dalam sejarah, paling tidak ada 2 (dua) pilihan bagi generasi muda bila ingin mengimplementasikan Sumpah Pemuda, yaitu : (1) konsisten tampil dengan misi para pahlawan untuk merdeka dan mem-bangun negeri. Meski berat dan penuh tantangan, tapi bila istiqamah dan upaya berhasil, maka pembangunan akan bisa dinikmati oleh generasi setelahnya. (2) melanjutkan kesalahan generasi sebelum-nya. Akibatnya, kesalahan semakin solid dan menggurita. Sejarah membuktikan, model generasi yang demikian akan di-hancurkan oleh Allah pada waktunya. Se-bagaimana azab yang telah menimpa kaum nabi Luth AS dan nabi Nuh AS.
Sungguh, momentum Sumpah Pemuda perlu dipahami secara benar. Napak tilas historis, memahami isi, dan melaksana-kan pesan Sumpah Pemuda perlu dilaku-kan. Bagi generasi harapan bangsa, janji luhur ini akan dijaga dan diimplementasi-kan sebagai tanda terimakasih pada para pejuang yang telah membangun negeri ini. Namun, bagi generasi “penjual” bangsa, sumpah luhur hanya sebatas euforia historis tanpa arti, bahkan segelintirnya berusaha “mengubur sejarah”. Bila pilihan culas, maka berakibat negeri “terbujur kaku”. Mungkin seisi dunia bisa ditipu dan dibutakan oleh tampilan “kesalehan” dan kefasihan merangkai kata melalui sumpah (janji) palsu atas nama agama. Kenistaan tak bisa ditutupi dari pengawasan Allah dan akan diminta pertanggungjawaban.
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.


