Oleh : Samsul Nizar
(Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Dikisahkan, Abu Dujanah adalah seorang sahabat Rasulullah. Setiap usai melaksana-kan shalat subuh berjamaah bersama Rasulullah, ia selalu pulang terburu-buru tanpa menunggu zikir dan doa selesai dipanjatkan Rasulullah. Suatu hari, Rasulullah bertanya alasannya bergegas pulang setiap selesai shalat subuh. Lalu, Abu Dujanah menjelaskan alasannya karena takut kurma milik tetangganya jatuh dan dimakan oleh anaknya. Ia tak mau perut anaknya diisi oleh sesuatu yang haram (wujud percikan api neraka).
Kisah sebutir kurma juga terjadi pada se-orang ahli ibadah yang bernama Ibrahim bin Adham. Seorang ‘alim yang wara’ dan tekun beribadah. Doanya selalu didengar dan dikabulkan oleh Allah. Pada suatu hari, setelah selesai melaksanakan ibadah haji, ia bermaksud melanjutkan perjalanannya ke Masjid al-Aqsa. Sebelum berangkat ke Palestina, ia membeli 1 kg kurma dengan seorang pedagang tua di pelataran Masjid al-Haram. Ketika kurma selesai ditimbang dan dibungkus, ia melihat sebutir kurma tergeletak di dekat timbangan. Sangkanya, kurma tersebut bagian yang dibeli. Lalu, ia ambil dan memakannya.
Setelah 1 bulan melakukan perjalanan, akhirnya Ibrahim sampai di Masjid al-Aqsa. Ia bahagia dan beribadah dengan begitu khusyu’. Di sela-sela munajatnya, Ibrahim mendengar percakapan 2 malaikat tentang dirinya. Salah seorang malaikat berkata, “itu Ibrahim bin Adham, si ahli ibadah yang wara’. Tapi, 1 bulan belakangan ini ibadah dan munajatnya tak diterima oleh Allah. Sebab, ia telah memakan sebutir kurma yang bukan haknya”.
Mendengar pembicaraan 2 malaikat ter-sebut, membuat Ibrahim bin Adham begitu sedih. Ia segera kembali ke Mekah untuk menemui pedagang tua si penjual kurma. Setibanya di Mekah, ia tak menemui sosok pedagang tua yang dicari. Lalu, ia bertanya dengan pemuda di toko tersebut, “dimana-kah pedagang tua yang kutemui 3 bulan lalu ?”. Si pemuda berkata, “ayahnya telah meninggal dunia 1 bulan yang lalu”. Men-dengar kata si pemuda, Ibrahim bin Adham menjelaskan maksud kedatangannya dan berharap agar ahli waris menghalalkan sebutir kurma yang telah dimakan. Si pemuda berkata, “sebagai ahli waris, aku menghalalkan sebutir kurma yang engkau makan. Tapi, bagaimana 11 saudaraku lainnya yang juga ahli waris ?”. Ibrahim minta ditunjukan di mana ahli waris lainnya. Ia akan mencari dan menemui semuanya dan meminta agar menghalal-kan sebutir kurma yang telah dimakan.
Kedua kisah di atas menegaskan misteri sebutir kurma. Begitu kehati-hatian hamba yang beriman menjaga diri dan keluarga-nya meski hanya memakan sebutir kurma. Ada beberapa pelajaran dari kisah “sebutir kurma” bagi kehidupan manusia, yaitu :
Pertama, Sebutir kurma menjadi tolak ukur keimanan seorang hamba. Sebab, kisah di atas menjadi indikator hamba yang ber-iman. Tapi, kisah tersebut kalanya hanya “cerita bisu” bagi hamba tanpa iman dan kufur nikmat. Seyogyanya, kisah tersebut mampu menambah keimanan, bukan se-makin kufur. Hal ini dinyatakan Allah SWT dalam firman-Nya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal” (QS. al-Anfal : 2).
Ayat di atas merupakan indikator sosok hamba-Nya yang ideal. Setiap gerak nafas menggetarkan iman dan setiap asma-Nya merasakan seakan bersama-Nya.
Kedua, indikator kualitas sebuah keluarga. Bila keluarga beriman, setiap rezeki sangat diperhatikan kehalalannya, baik sifat mau-pun zat. Bila haram, jangankan memakan, menyentuh saja dihindari. Sebab, Allah mengingatkan : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluarga-mu dari api neraka…..” (QS. at-Tahrim : 6).
Ayat di atas merupakan peringatan-Nya pada keluarga beriman yang merindukan surga-Nya. Tapi, bila ayat tersebut dinafi-kan, pertanda wujud keluarga kufur yang suka rezeki haram dan rindu siksa neraka.
Ketiga, keberkahan hadir pada diri yang suci (jasmani dan rohani) atas nikmat yang diraih. Sebab, ia khawatir disangka nikmat ternyata wujud murka-Nya. Dalam Islam, nikmat yang demikian disebut istidraj. Hal ini merujuk atas firman-Nya : “Maka ketika mereka melupakan peringat-an yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mere-ka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa” (QS. al-An’am : 44).
Ayat di atas mengingatkan agar jangan bangga dengan apa yang diperoleh. Di sangka nikmat ternyata wujud murka-Nya.
Keempat, Kenikmatan yang berasal dari sumber yang haram (hasil korupsi dan kolusi) akan mendorong berprilaku haram lainnya (sombong, dusta, zalim, khianat, dan varian lainnya). Akibatnya, perbuatan nista menjadi kebiasaan (hobi) yang begitu sulit diperbaiki. Untuk itu, Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengingatkan, bahwa “makanan haram dan prilaku maksiat bagaikan racun yang merusak kehidupan dunia dan akhirat.
Islam sangat tegas menjelaskan halal dan haram. Bila keharaman dijadikan pakaian dan masuk dalam tubuh, maka berdampak terhalangnya doa, tertolaknya ibadah, rusaknya akal dan hati, kotornya keluarga (keturunan), dan mudah terjerumus bujuk-an setan, serta varian lainnya“. Untuk itu, Rasulullah bersabda : “Setiap daging yang tumbuh dari hasil yang haram, maka nera-ka lebih pantas atasnya” (HR. Thabrani).
Kisah sebutir kurma, meski dilakukan tanpa sengaja dan dilakukan hanya sekali, tapi membuat hamba beriman begitu takut murka Allah. Anehnya, bagi manusia yang rusak imannya, melakukan kemungkaran menjadi kebiasaan dan menikmati rezeki haram menjadi kebanggaan. Pelakunya acapkali sosok yang mengaku beragama, tapi mempermainkan agama. Hal ini secara tegas dicela oleh Allah sesuai firman-Nya : “Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia” (QS. al-An’am : 70).
Keluarga yang mendahulukan iman akan terjaga dari nafsu serakah. Meski sebutir kurma, bila bukan haknya akan dihindari. Ia tak mau menjual iman dan mengotori ke-luarganya dari sesuatu (sumber) yang haram untuk “membeli” murka-Nya. Bagai sosok Lukman al-Hakim, Ali Imran, atau nabi Ibrahim AS sang pahlawan keluarga.
Tapi, berbeda pada keluarga yang menukar iman dengan nikmat duniawi. Tanpa malu flexing dari hasil sumber yang haram. Bagi-nya, dunia merupakan tujuan utama, meski melalui “transaksi” (risywah). Allah saja tega ditipu, apatahlagi terhadap sesama. Sungguh, ruh yang suci menghadirkan jasad yang terpelihara. Ruh yang kotor (sumber haram) mendorong jasad untuk berprilaku nista. Allah SWT mengingatkan : “Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (jangan-lah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui” (QS. al-Baqarah : 188).
Mempertegas ayat di atas, Rasulullah SAW mengingatkan umat melalui sabdanya : ““Laknat Allah SWT kepada pemberi suap dan penerima suap” (HR. Ahmad).
Meski ayat begitu jelas dan Rasulullah telah memperingatkan, namun akibat iman yang kronis, maka ayat telah didustakan dan hadis dinafikan. Meski lidah begitu fasih melantunkan ayat-Nya dan sabda Rasulullah, tapi prilaku bertolak belakang dan menginjak kebenaran. Demikian besar pengaruh rezeki yang haram atas karakter setiap manusia. Untuk itu, wajar bila Allah mengulang firman-Nya (31 kali) : “nikmat Allah yang mana lagi yang akan engkau dustakan” (QS. ar-Rahman).
Jumhur mufassir menjelaskan, pengulang-an ayat di atas merupakan tantangan dari Allah kepada jin dan manusia agar tidak mengingkari nikmat yang telah diberikan-Nya. Namun, nyatanya jin dan manusia tetap dan selalu mengingkari. Pengingkar-an bukan karena ketidaktahuan, tapi justru keingkaran yang penuh kesadaran.
Bila Allah begitu murka akibat memakan sebutir kurma yang berasal dari kebatilan, apatahlagi bila menumpuk sesuatu yang bersumber dari cara yang batil untuk tujuh keturunan. Bayangkan dahsyat murka dan kepedihan siksa yang akan ditimpakan-Nya pada pelaku dan zuriyat yang dengan bangga menikmati setelahnya.
Bila pahlawan bangsa berjuang dan mem-pertaruhkan jiwa raganya untuk meraih ke-merdekaan NKRI, maka pahlawan pengisi kemerdekaan adalah setiap individu yang selalu menjaga diri dan keluarganya dari sesuatu yang haram (zat dan sifat), baik menurut agama dan aturan. Sosok pahla-wan yang berusaha meraih ridha-Nya. Ia mampu melepaskan diri dari penjajahan (bujukan) nafsu dan iblis yang ingin men-jajah keimanan. Sungguh, begitu luas makna pahlawan dalam pandangan Islam. Pahlawan “pejuang rezeki” menjadi kunci lahirnya generasi berkualitas yang selalu terjaga dari perbuatan mungkar. Sebab, kualitas rezeki yang diberikan pada keluarga akan menjadi penentu prilaku zuriyat pada masa depan, bahkan di akhirat kelak. Apakah tumbuh dari sumber yang halal, atau justeru berkembang dari benih yang haram. Semua tergantung atas apa yang akan diisi dan dipakai oleh jasad diri dan zuriyat. Sebab, zuriyat bagaikan tanaman. Ia tumbuh dan “berbuah” sangat tergantung bibit dan asupan nutrisi yang diberi. Jika bibit dan asupan nutrisi halal, maka tumbuh pohon zuriyat sehat rohani dan beriman. Tapi, bila bibit dan asupan nutrisi haram, maka tumbuh pohon zuriyat kufur (sakit rohani) dan tanpa harga diri.
Dalam sejarah, mengusir penjajah begitu berat. Tapi, mengusir nafsu iblis dalam diri agar zuriyat terhindar dari rezeki haram jauh lebih berat. Untuk itu, sosok keluarga yang membawa rezeki halal merupakan pahlawan sejati. Sebab, setiap rezeki yang dibawa jadi ukuran harga diri dan menentu-kan mutu generasi yang akan datang.
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.
Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 10 November 2025


