Oleh : Samsul Nizar
(Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Secara normatif, kepedulian manusia untuk mempercantik dan merawat diri (jasmani) begitu tinggi. Untuk itu, wajar bila berbagai produk skincare tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Semua hadir menawarkan olahan produk-nya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Tak peduli mahal harga dan biaya, bahkan efek samping yang timbul. Semua tertarik dengan tampilan iklan dan janji melangit. Begitu tingginya kepedulian dan perhatian pada perawatan jasmaninya, tapi lupa me-rawat otak dan hatinya.
Secara etimologi, braincare merupakan upaya merawat otak melalui aktivitas ber-fikir cerdas, bijak, dan beradab. Perawatan akal bertujuan agar kebenaran selalu terjaga. Perawatan akal harus bersamaan dengan perawatan hati (livercare) agar mengenal dimensi Ilahi. Islam mengajar-kan cara membangun braincare (QS. Ali Imran : 190-191) dengan memikirkan ciptaan-Nya dan livercare (QS. ar-Ra’d : 28) dengan selalu mengingat-Nya. Dengan demikian, hati suci senantiasa tenang dan berbaik sangka. Hanya saja, manusia selalu lupa bahwa hakikat dan esensi diri bukan sebatas jasmani, tapi terletak pada kualitas akal dan hati. Sebab, jasmani pada waktunya akan mati dan busuk. Tapi, akal dan hati akan mewariskan nilai abadi. Namun, upaya manusia untuk skincare tak berkorelasi signifikan, bahkan acapkali tak pernah peduli untuk merawat kualitas akal (braincare) dan hati (livercare). Akibatnya, tampilan lahiriyah begitu anggun, tapi tak memiliki kecerdasan dan adab. Padahal, eksistensi manusia sangat ditentukan pada akal dan hatinya. Anehnya jualan manusia skincare tanpa braincare dan livercare justeru banyak pembelinya dan ikut memberi “panggung”. Para “pembeli” tentu manusia yang berkarakter sejenis (karakter skincare). Mereka hanya silau pada tampilan lahir (fisik dan status), tanpa peduli isi otak dan hatinya.
Ada beberapa indikasi kecenderungan manusia mengedepankan “skincare” (tampilan status lahiriyah) sebagai tujuan utama, ketimbang merawat braincare (cerdas) dan livercare (adab), antara lain :
Pertama, Manusia yang mengedepankan skincare bertujuan harap pujian (validitas). Untuk itu, berbagai produk skincare selalu menarik untuk dibeli. Umumnya, skincare merupakan rangkaian upaya perawatan jasmani yang menggunakan berbagai produk dan teknik. Upaya ini dilakukan se-cara rutin untuk membersihkan, melem-babkan, dan mempercantik diri. Tujuannya untuk menjaga kesehatan, penampilan, kepercayaan, ketertarikan, dan pujian.
Peradaban modern lebih peduli dan cen-derung memuja tampilan yang dijanjikan skincare. Tak peduli harga selangit asal tujuan tercapai. Bagi kaum borjuis, produk skincare sebagai penopang penampilan dan memperoleh pujian. Bila upaya yang dilakukan bertujuan menampilkan wujud ciptaan untuk mengenal-Nya (kebaikan), maka berujung kebajikan. Tapi, bila upaya yang dilakulan agar tampil menawan dan sempurna melampaui “malaikat” agar bisa menutupi borok “iblis” (sifat) yang meng-kristal dan tersembunyi, maka berujung pada kemunafikan yang nyata (dosa).
Prilaku ini diingatkan Allah melalui firman-Nya : “Aku benar-benar akan menyesatkan mereka, membangkitkan angan-angan kosong mereka, menyuruh mereka (untuk memotong telinga-telinga binatang ternaknya) hingga mereka benar-benar memotongnya, dan menyuruh mereka (mengubah ciptaan Allah) hingga benar-benar mengubahnya. Siapa yang menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah sungguh telah menderita kerugian yang nyata” (QS. an-Nisa’ : 119).
Andai pola hidup ala skincare diperuntuk-an agar orang percaya dan terkesima, maka perbuatan ini termasuk tabarruj (QS. an-Nur : 31). Dalam konteks ini, tabarruj bukan hanya dimaknai perilaku berhias un-tuk memamerkan kecantikan jasmani, tapi sifat “kepongahan dan kemunafikan” atas semua status duniawi yang dimiliki. Atribut atas gelar (akademik dan keagamaan), status sosial, pangkat, jabatan, serta varian lainnya. Bila semua tampilan sosial ini sebatas skincare tanpa braincare, maka tampil manusia asesories yang penuh tipu muslihat. Bila skincare berisi braincare dan livercare, maka tampil manusia berkuali-tas khalifah pembawa rahmatan lil ‘alamin.
Kedua, Manusia berkarakter braincare dan livercare berharap meraih kualitas peng-hambaan dan kekhalifahan. Untuk itu, Islam memberikan perhatian yang tinggi pada akal dan hati. Keduanya merupakan alat menemukan dan memperoleh kebenar-an. Akal mengolah fenomena ayat-Nya yang konkrit. Sedangkan hati menemukan sirr-Nya yang abstrak (keimanan).
Al-Qur’an menerangkan pentingnya akal untuk mempelajari alam semesta dan mengenal Allah. Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya : ”Sesungguhnya dalam pen-ciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal” (QS. Ali ‘Imran : 190).
Akal yang dijaga (braincare) akan menjadi-kan panca indera dan alam sebagai media menemukan kebenaran. Akal yang terjaga (ulul albab) akan menghantarkan manusia berkualitas “penghambaan”. Tapi, bila akal liar dan sakit, ia tak mampu menemukan kebenaran. Ia hanya menjadikan panca indera sebatas asesories memenuhi nafsunya. Akal yang liar dan sakit akan menempatkan manusia pada kehinaan, bahkan melebihi hewan. Hal ini dinyatakan dalam firman-Nya : “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah” (QS. al-A’raf : 179).
Dalam al-Quran, Allah SWT menjelaskan bahwa manusia dianugerahi akal dan hati (ulul albab) untuk memahami ciptaan-Nya, mengenal Allah, bersyukur, dan mengem-bangkan diri. Akal berfungsi untuk berpikir, merenung, dan membedakan manfaat atau mudharat. Sedangkan hati (qalbu) berfungsi sebagai pusat spiritualitas, emosi, dan bersemayamnya keimanan. Untuk itu, braincare akan berupaya men-jaga hati agar tetap bersih dan saling terhubung. Braincare merupakan upaya mengharmoniskan akal dan hati untuk mengantarkan manusia sebagai khalifah fi al-ardh yang menghadirkan rahmatan lil ‘alamin. Tapi, manusia yang mengedepan-kan braincare dan livercare selalu dikucil-kan dan dibenci. Bahkan, produk kecerdas-an akalnya selalu dibenci dan tak dipeduli. Sebab, manusia tanpa akal dan hati hanya mengutamakan pujian asesories belaka.
Padahal, Islam mengajarkan agar manusia merawat braincare untuk meningkatkan kemampuan esensi manusia (QS. al-Baqarah : 31), m embantu meningkatkan kemampuan berpikir jernih, memecahkan masalah, dan menghasilkan keputusan bijaksana. Upaya ini akan mendukung ketahanan dan kemampuan individu untuk mengembangkan potensi yang dimiliki secara maksimal.
Dalam al-Qiran, kata “akal” berikut derivasi-nya disebut sebanyak 49 kali. Dorongan berfikir dinyatakan al-Qur’an secara khusus dengan menggunakan bentuk kata kerja (fi’il mudhari’) dan hanya satu ayat bentuk fi’il madhi. Hal ini menunjukkan bahwa berfikir merupakan proses berkelanjut-an. Bila demikian, dalam ilmu mantiq, bila manusia tak lagi berfikir (akal dan hati), berarti imannya perlu dipertanyakan.
Secara leksikal, kata “akal” dalam bentuk fi’il mudhari’ didominasi oleh dhamir yang komunal (jama’), bukan personal (mufrad). Artinya, olah akal perlu diasah melalui interaksi ilmu (proses belajar mengajar). Proses ini perlu dilakukan secara benar. Dengan demikian, akal dan hati bisa ber-pikir secara maksimal, bukan sebatas “asal-asal dan abal-abal”. Dalam Islam, perintah berfikir dapat ditemukan pada ayat yang mendorong berpikir kritis dan beradab. Dorongan yang mengajak untuk merenungkan penciptaan alam semesta (QS. Ali Imran : 190-191), berfikir tentang kebesaran Allah pada tanda-tanda alam (QS. al-Baqarah : 164), verifikasi informasi sebelum menerimanya (QS. al-Hujurat : 6), dan ayat lainnya yang mengandung frasa “afala ta’qilun” (apakah kau tak mengerti). Ayat-ayat tersebut menantang manusia menggunakan akal (nalar berfikir) dan hati untuk menemukan kebenaran-Nya.
Bila upaya skincare diikuti braincare dan liver care, maka akan hadir sosok khalifah rahmatan lil ‘aalamiin. Sebab, kualitas diri ditentukan kecerdasan akal dan kesucian hati yang berselimut iman, amanah, dan kebenaran nyata. Tatkala paparan di atas dianalisa dengan pendekatan fenomenologi, maka terlihat nyata bahwa kesadaran manusia untuk braincare dan livercare sangat rendah. Akibatnya, daya akal sebatas “akal-akalan” dan hatinya jadi tertutup. Meski tampil shaleh ala skincare (gelar dan status) dengan “bibir merah merona” sebatas lipstik bak “boneka” (tanpa ruh), namun akal dan hatinya mengalami stroke kronis. Tanpa disadari, ia hanya tampil elegan semu tanpa pengakuan, memelas tapi memeras, pandai bicara tanpa karya nyata, menyalahkan tapi tak tau jalan kebenaran, pamer (medsos) tapi seakan tanpa akal, kata manis tapi menyayat luka, pesan ke-baikan tapi prilaku menjijikan, bersumpah atas nama agama tapi sebatas menutupi kemunafikan semata, dan varian lainnya. Manusia begitu mudah terpesona dan percaya oleh tampilan lahir yang dipoles ala skincare, meski tanpa braincare (ke-cerdasan), dan livercare (adab). Jualan asesories shaleh untuk “menipu” sesama. Padahal, isi yang ditutupi berupa timbunan kebohongan dan kemunafikan yang nyata. Jasadnya manusia, tapi batinnya vampir yang haus darah. Anehnya, sosok ini selalu dipuja dan dipercaya. Meraih validitas pujian palsu dari manusia berkarakter serupa, tapi begitu hina dihadapan-Nya.
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.
Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 17 Nopember 2025


