Oleh: Abu Anwar (Rektor IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Pesantren bukan saja sebagai Lembaga pendidikan Islam yang awal tapi juga sebagai pusat pembinaan karakter Islami generasi bangsa agar memeiliki pengetahuan dan akhlak mulia serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kiyai bukan sebagai guru yang mentransferkan pengetahuan tapi juga sebagai manutan baik bagi santri maupun masyarakat pada umumnya. Oleh karenanya Kiyai wajib dihormati baik di dalam maupun di luar pesantren. Konsep ta’zimul ustaz (menghormati guru) adalah salah satu pilar utama dalam sistem pendidikan pesantren. Dalam tradisi ini, hubungan antara santri (murid) dan Kiyai dan ustaz (guru) melampaui hubungan akademik biasa, menjadi ikatan spiritual yang mendalam, yang diyakini sebagai kunci keberkahan ilmu.
Kata Ta’zim berasal dari bahasa Arab yang berarti mengagungkan, memuliakan, dan menghormati. Dalam konteks pesantren, ta’zimul ustaz adalah sikap hormat dan patuh seorang santri kepada kiyai atau guru sebagai jalan untuk mendapatkan rida dan keberkahan ilmu.
Para ulama yang di pesantren, dalam Islam, disebut kiai, ustaz, atau ajengan dianggap sebagai pewaris para nabi yang bertugas menyebarkan ilmu agama. Oleh karena itu, memuliakan guru berarti memuliakan ilmu yang mereka bawa, dan pada akhirnya, memuliakan Allah dan rasul-Nya.
Para santri meyakini bahwa ilmu yang bermanfaat tidak hanya didapat dari kecerdasan akal, tetapi juga dari keberkahan yang diturunkan melalui guru. Sikap tidak hormat dapat menghilangkan keberkahan ilmu itu, yang menyebabkan ilmu sulit meresap atau menjadi tidak bermanfaat.
Konsep ta’zimul ustaz banyak bersumber dari kitab klasik seperti Ta’lim Muta’allim karya imam al-Zarnuji, yang secara khusus membahas adab (akhlak/etika) menuntut ilmu. Kitab ini menjelaskan bahwa menghormati guru adalah salah satu bentuk penghormatan terhadap ilmu itu sendiri.
Implementasi ta’zimul ustaz di pesantren
Santri diajarkan untuk bersikap sopan, ramah, dan rendah hati di hadapan kiyai atau guru. Ini termasuk memberi salam, mencium tangan kiyai, tidak meninggikan suara, dan tidak mendebat kiyai/guru.
Santri dilatih untuk tidak mencari-cari kekurangan kiyai/guru. Mereka harus selalu berprasangka baik (husnudzan) kepada kiyai/guru, karena keyakinan bahwa kiyai/guru bertindak demi kebaikan santri, bahkan saat menegur atau menghukum.
Banyak santri yang mengabdikan diri kepada kiyai/guru mereka, melakukan tugas-tugas personal seperti membersihkan kediaman guru atau membantu pekerjaan lain. Pengabdian ini dianggap sebagai bentuk tabarruk (mencari berkah) dari kiyai/guru.
Santri diajarkan untuk selalu mendoakan kebaikan untuk para kiyai/guru mereka, hal itu sebagai bentuk terima kasih dan rasa syukur atas ilmu yang telah diberikan.
Manfaat ta’zimul ustaz
Dengan menghormati kiyai/guru, santri diharapkan mendapatkan ilmu yang tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memberikan pencerahan dan manfaat dalam kehidupan, yang disebut nur (cahaya) ilmu.
Praktik ta’zimul ustaz secara tidak langsung membentuk karakter dan akhlak santri menjadi lebih baik, karena mereka meneladani sikap rendah hati, sopan, dan patuh.
Hubungan yang kuat dengan guru tidak hanya menguntungkan selama proses belajar, tetapi juga menjadi jalinan spiritual yang terus berlanjut sepanjang hidup. Bahkan, ikatan ini diyakini dapat mengangkat derajat santri di hadapan Allah.
Jadi, ta’zimul ustaz bukan sekadar etika sosial, melainkan fondasi spiritual dan metodologis dalam tradisi pesantren untuk mencapai keberhasilan dalam menuntut ilmu dan pembentukan karakter.
———————————————–Terimakasi———————————————-
Terbit di Kolom Opini Riau Pos Online tanggal 17 Oktober 2025






