Oleh : Samsul Nizar
(Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Biarkan alam meronta melepaskan emosi. Ia muntahkan semua bukti kezaliman dan kemunafikan yang ditutup rapat. Begitu alam “meronta”, para pelaku keserakahan justeru duduk santai sambil minum kopi. Menata strategi untuk membangun alibi. Diselingi canda tawa tanpa dosa sembari menyaksikan –ala home theater— semua derita dan korban yang berjatuhan. Mereka terbiasa dengan tradisi “anjing menggong-gong, kafilah tetap berlalu”.
Sebelum era media sosial, fenomena alam yang sejenis tak banyak diketahui secara luas dan cepat. Begitu informasi terbuka lebar, manusia seluruh dunia menyaksikan realita yang terjadi dan tak bisa ditutupi. Media sosial menjadi “telinga dan mata” yang membuka “ruang gelap” penyebab alam meronta dan akibatnya yang selama ini disembunyikan. Meski semua begitu jelas dan menyayat hati, tapi para pelaku tak mau peduli apatahlagi menyesali.
Bangunan alibi acapkali menyamaratakan bentuk bencana alam. Padahal, penyebab terjadi bencana alam berbeda-beda. Paling tidak, Ada 2 (dua) bentuk bencana alam, yaitu : (1) bencana alam yang disebabkan gerak alam, seperti gempa bumi, gunung meletus, angin topan, gulungan ombak, tsunami, dan lainnya. Bentuk ini disebut musibah alam tanpa campur tangan manusia. Ketika bencana alam yang terjadi secara alami, maka diperlukan uluran tangan untuk saling membantu sesama. (2) bencana alam yang disebabkan ulah tangan manusia yang serakah. Wujudnya seperti bencana kebakaran hutan, banjir, peperangan, kerusuhan, dan longsor akibat perambahan hutan tanpa kendali atas keserakahan tak bertepi. Ketika terjadinya bencana alam yang disebabkan perilaku keserakahan, seyogyanya pelaku yang berbuat harus bertanggungjawab, bukan menimpakan tanggungjawab pada negara dan rakyat. Sebab, mereka secara sengaja menjadi pemicu terjadinya bencana. Hal ini diingatkan oleh pepatah, “tangan yang mencincang, bahu yang memikul”, bukan “lempar batu sembunyi tangan”. Akibat kezaliman manusia yang serakah telah diingatkan melalui firman-Nya : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. ar-Rum : 41).
Meski di ujung ayat terbuka ruang keinsaf-an (taubat), namun manusia tak pernah sadar dan mau menuju perbaikan. Justeru manusia semakin vulgar “menantang” dan rindu murka-Nya. Mungkin begitu karakter manusia yang ingin menjadi “tuhan”. Sebab, iman telah sirna, hati telah mati, telinga tuli, dan mata telah buta. Karakter manusia yang demikian digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya : “Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka. Pada penglihatan mereka ada penutup, dan bagi mereka azab yang sangat pedih” (QS. al-Baqarah : 7).
Ada beberapa fenomena perilaku manusia ketika keserakahan mendominasi dan alam meronta, yaitu :
Pertama, Mencari kambing hitam sembari membangun alibi. Ketika awal musibah melanda, “rombongan kayu” berbaris rapi, berlomba-lomba, dan saling mendahului. Seakan, sedang ada “lomba marathon” yang menjanjikan hadiah besar sedang dipentaskan. Alibi terbangun dengan statemen bahwa rombongan tersebut hanya kayu lapuk yang hanyut dan patah dihantam derasnya air. Sungguh pernyata-an palsu yang bisa diterima oleh manusia dungu. Alasan air yang deras berubah men-jadi gergaji tajam yang mampu memotong kayu dengan ukuran tertentu. Ketergesa-gesaan memberikan statemen “menyesat-kan” tampil akibat urusan diserahkan pada sosok khianat atau bukan ahlinya. Feno-mena ini semakin nyata, bahkan vulgar. Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan melalui sabdanya : “Jika suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya” (HR. Bukhari).
Hadis di atas begitu jelas. Perintah untuk menyerahkan “urusan” pada manusia yang amanah, berintegritas, dan memahami bidang urusan yang diberikan. Kompetensi bukan sebatas gelar, koneksi, “negosiasi”, dan berbalut kepentingan politis berujung pundi. Sebab, ketika salah menyerahkan pekerjaan, jabatan, atau tanggungjawab kepada orang yang tidak kompeten –baik intelektual dan moralitas– untuk mengisi amanah yang diberikan, maka kehancuran, kekacauan, dan musibah akan terjadi, baik dalam skala besar atau kecil. Bagi kedua pihak akan tertumpah dosa dan laknat-Nya (QS. al-Anfal : 27).
Bagi pemilik integitas, amanah merupakan wujud harga diri. Amanah akan diterima bila sesuai keahliannya. Sebab, ia sadar atas keterbatasan kemampuannya. Tapi, bagi para pengharap status, tak peduli alas kompetensi dan moralitas diri. Mendahulu-kan negosiasi berselimut pundi asal men-dapatkan posisi.
Kedua, Musibah menampilkan “karakter manusia”. Paling tidak, ada 4 (empat) karakter yang muncul, yaitu : (1) karakter penolong yang ikhlas membantu. (2) karakter penolong yang tampil untuk “mencitrakan diri” –cari muka– layaknya manusia suci dengan menjadikan media sosial sebagai ruang publikasi. (3) karakter “memanfaatkan musibah” untuk meng-ambil keuntungan diri atau kelompok. (4) karakter masa bodoh atas kesengsaraan yang menimpa orang lain. Mereka umum-nya pelaku yang “menyembunyikan diri di tengah cahaya bukti”. Mengedepankan semboyan ala “anjing menggonggong, kafilah terus berlalu”. Setelah musibah telah teratasi, praktik eksploitasi penyebab musibah tetap –terus– dan semakin masif dilakukan. Perilaku manusia berkarakter ular. Berubah musim, berganti kulit, watak tetap seekor ular. Tampilan mempesona, perilaku membuat semesta merana.
Ketiga, Musibah yang disebabkan oleh ulah manusia yang serakah dan “difasili-tasi”. Hal ini membuktikan keteledoran dan lemahnya sistem pengawasan (perizinan). Atau memang dibiarkan, “dipelihara”, dan silau pundi-pundi.
Sebenarnya, persoalan potongan kayu tak perlu dikhawatirkan dan dicemaskan. Sebab, setiap potongan kayu telah diberi nomor agar “masing-masing kayu tau jalan pulang ke alamat tuannya”. Tapi, tak ada “tuannya” yang mau mengaku sebagai pe-miliknya. Mungkin, nomor register tersebut merupakan “tanda lahir” kayu akhir zaman.
Begitu indah dan jelas Allah membuka aib manusia durjana melalui fenomena alam. Janji-Nya begitu nyata. Sebab, kebenaran tak pernah lahir dari kompromi kebatilan.
Saat ini, media sosial sedang diuji konsis-tensinya dalam memberi informasi dan mengawal keadilan pasca musibah terjadi. Pengawasan terhadap pendistribusian dan penegakan hukum atas pelaku yang menyebabkan terjadinya semua musibah. Untuk itu, perlu dibedakan antara musibah alamiah dan musibah rekayasa.
Meski media sosial telah memainkan perannya “no viral, no justice”, tapi sebagian besar yang diviralkan justeru “going viral doesn’t guarantee justice”. Buktinya, semakin media memviralkan fenomena alam yang sedang meluluhlan-takkan kehidupan, tapi “kumpulan pelaku” tetap tak tersentuh, tak bergeming, dan tak pernah terungkap wujudnya. Hanya sekedar “jualan kata dusta” dan “cari muka”, sembari mencari “kambing hitam” dan sejuta alibi yang dijadikan alasan. Padahal –tanpa disadari– semua alasan menunjukkan karakter aslinya. Muncul alibi dungu yang menyatakan “air hujan dan banjir telah menggergaji gelondongan kayu dengan begitu rapi dan hanya kumpulan kayu lapuk yang frustasi”. Ada pula yang memunculkan alasan bahwa perambahan hutan merupakan keniscaya-an bagi bangsa yang ingin maju. Paru-paru dunia (oksigen) tetap dipertahankan deng-an mengganti hijau hutan dengan sawit. Jadi, tak ada yang bisa disalahkan atas bencana yang terjadi. Lalu, semua kesalah-an ditimpakan pada “cuaca ekstrim”. Pada-hal, semua penyebab hadir karena perilaku manusia yang serakah dan melampaui batas (QS. al-‘Alaq : 6). Anehnya, meski se-mua alasan yang “dicari-cari” telah terbukti keliru, tapi secuil klarifikasi atas kesalahan tak kunjung dilakukan. Kebiasaan minta maaf telah hilang dan tak mampu terucap, apatahlagi bersikap kesatria dan berani mundur bila tak mampu melaksanakan amanah yang diemban. Sungguh, karakter kesatria yang mengedepankan harga diri tak bisa lagi ditemukan. Mungkin, ia telah terkebiri dan ikut menikmati.
Sungguh, fenomena bencana alam yang terjadi merupakan wujud keserakahan manusia yang mengundang murka-Nya. Bagi pelaku keserakahan, bencana alam yang telah membawa kesengsaraan akan berbuah dosa yang menghantarkannya pada sisksa neraka. Sebab, bencana alam berwujud murka-Nya ketika : (1) pelaku yang arogan menentang ayat Allah sesuai keinginan (QS. an-Nisa’ : 137). (2) pemilik ilmu kebenaran, tapi membiarkan terjadi-nya berbagai kejahatan atau kemungkaran (QS. al-Anfal : 25).
Demikian jelas akibat terjadinya berbagai kemungkaran. Namun, manusia justeru menjadikan pelaku kezaliman sebagai “imam kehidupan”. Kehadirannya selalu dielu-elukan, dipuja, dan dihormati. Mung-kin begitu sifat manusia hypocrate bila menghadapi pelaku kemungkaran dan penyebar kezaliman. Hanya peduli pada akibat, tapi acapkali lupa pada penyebab. Begitu fokus pada konsekuensi, tapi membiarkan pelaku eksploitasi. Jika begitu pilihannya, maka persiapkan diri menunggu dan menerima azab-Nya yang lebih pedih (QS. an-Nisa’ : 56).
Anehnya, meski alamat begitu jelas tertulis pada setiap bongkahan kayu, tapi alamat “si tuan” tak –pernah– bisa ditemukan. Mungkin alamatnya telah berubah menjadi judul lagu “alamat palsu“. Atau, “si tuan” merupakan “roh halus” dan retina mata si pencari telah putus. Meski begitu jelas adanya, tapi tak terlacak apalagi tersentuh.
Meski alamatnya tak ditemukan di dunia, tapi pasti bersua di akhirat. Seiring waktu, semua pilu dan penyebabnya akan dilupa-kan. Muncul isu lain yang memalingkan perhatian terhadap pemicu alam meronta.
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.
Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 19 Januari 2026


