Oleh : Samsul Nizar
(Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Eksistensi cermin begitu familiar. Semua manusia mengenal dan pernah bercermin. Tapi, tak semua manusia sempat, mau, atau segelintirnya tak mampu mengambil pelajaran (i’tibar) dari cermin. Padahal, dalam makna kiasan, cermin bisa digunakan untuk “melihat diri” (refleksi diri atau introspeksi untuk melihat karakter, kelebihan, dan kekurangan diri).
Idealnya, cermin untuk melihat diri merupa-kan cermin datar dan bersih. Dalam ilmu psikologi, konsep melihat diri melalui pandangan orang lain disebut looking-glass self (cermin diri).
Dalam kehidupan ini, manusia berhadapan dengan beberapa jenis cermin, antara lain :
Pertama, Cermin hias (datar, cekung, dan cembung). Umumnya, cermin jenis ini digunakan untuk melihat kesempurnaan sisi fisik diri. Ketika ada “bopeng”, aib diri, atau tampilan yang tak sempurna, maka berbagai upaya dilakukan untuk menutupi-nya. Ketika “bopeng kesalahan meluap”, maka tempelan “make up kesalehan” men-dominasi untuk menutupi semua kesalah-an yang ada. Semua upaya dilakukan agar “bopeng diri” bisa tertutupi. Namun, acap-kali manusia lupa bila make up yang ber-lebihan (full coverage) dan terlalu sering digunakan untuk menutupi kekurangan diri akan menyumbat “pori-pori kebenaran” dan merusak kulit (amaliah). Apalagi jika tidak dibersihkan dengan benar (taubat an-nasuha). Akibatnya, kebenaran sulit masuk ke relung hati dan taubat tak lagi dipeduli.
Kedua, Kaca spion. Cermin jenis ini diguna-kan untuk membantu pengemudi melihat perilaku orang lain tanpa pernah melihat perilaku diri dan penumpang yang ada dalam “perintah supir”. Fenomena sosok manusia berkarakter “kaca spion” begitu nyata. Pada aturan dan hukum yang sama untuk melihat persoalan yang sama, tapi berbeda “keputusan” yang berlaku dan diambil. Sebab, putusan dilihat dengan “kaca spion”. Akibatnya, kaca hanya digunakan untuk melihat atau mencari kesalahan orang lain. Sementara kesalahan supir dan penumpang dalam mobil tak pernah terlihat. Padahal, kesalahan “supir dan penumpang” begitu nyata, tapi sengaja ditutupi. Akibatnya, “supir dan penumpang” berpotensi lebih “ugal-ugalan” melanggar aturan lalu lintas.
Ketiga, Cermin sosial. Cermin jenis ini me-rupakan sosok teman sebagai cermin karakter diri. Sebab, karakter manusia terlihat pada pilihan (kualitas) sifat teman yang ada disekitar “ikat pinggangnya”. Hal ini dinyatakan Rasululullah ﷺ dalam sabdanya : “Seseorang itu bergantung pada agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Hadis di atas memberikan pesan tentang pengaruh lingkungan sosial terhadap karakter dan spiritualitas seseorang. Bila lingkungan sosial (teman) sosok yang amanah, maka nilai amanah akan mudah dimunculkan. Namun, ketika lingkungan sosial didominasi manusia khianat dan serakah, maka “tanaman” kemungkaran akan berkembang biak dan membuahkan kezaliman (keserakahan).
Sungguh, kehadiran teman merupakan cermin diri merupakan sarana bagi seorang muslim untuk tetap berada di jalan yang benar. Bijak memilih teman jadi ukuran. Teman yang saleh menjadi tempat untuk mengingatkan bila keliru atas jalan yang dipilih, tempat rujukan untuk mencari solusi yang tepat, dan nasehat bila lupa mensyukuri nikmat-Nya. Hal ini sesuai sabda Rasulullah ﷺ : “Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Oleh karenanya, ingatkanlah aku ketika diriku lupa” (HR. Bukhari).
Teman saleh akan senantiasa menasehati bila melakukan kesalahan dan mengingat-kan bila mendapatkan rezeki agar tak lupa diri. Kehadirannya bagaikan cermin untuk melihat kebaikan. Sementara, bila teman salah yang dijadikan cermin, maka tampil puji menggema untuk “cari muka”. Pujian sekedar “tipuan” untuk meraih keuntungan. Semua berbondong-bondong hadir ketika tumpahan “madu” begitu manis. Tapi, begitu madu telah kering dan masa telah berganti, maka teman salah akan hilang meninggalkan serpihan luka dan kepiluan. Sebab, teman yang dijadikan cermin ternyata sosok maddahin (penjilat) yang hanya memanfaatkan pertemanan selama ada keuntungan.
Eksistensi sosok maddahin kadangkala terungkap ketika “madu” terasa “hambar”. Padahal, ketika madu begitu manis, mereka bagaikan kumpulan semut yang antrean “sembako”. Fenomena ini cermin besar yang acapkali terlambat untuk disadari. Hadir ketika “nasi telah menjadi bubur”. Namun, karakter teman dihadirkan-Nya sesuai kualitas karakter pemimpin. Sebab, kualitas pemimpin tergambar pada kualitas yang dipimpin. Pemimpin amanah akan dikelilingi teman yang amanah. Hal ini dinyatakan Rasulullah ﷺ melalui sabdanya : “Jika Allah SWT menghendaki kebaikan bagi diri seorang pemimpin, maka Allah akan memberinya seorang pendamping (pembantu yang jujur yang akan mengingatkan jika dirinya lalai dan akan membantu jika dirinya ingat” (Shahih. HR. Abu Dawud).
Namun, ketika pemimpin khianat dan fasik, maka Allah hadirkan teman-teman yang sesuai dengan karakternya. Hal ini diingatkan dalam kata hikmah “kalian akan dipimpin oleh orang-orang yang seperti kalian”. Keduanya menjadi cermin bagi yang lain. Cermin buram atau cermin retak seribu. Demikian Allah mempertontonkan gambaran watak manusia dengan menjadi-kan “teman sekelilingnya” sebagai cermin sosial yang begitu nyata.
Sungguh, berbagai kezaliman dapat di-berantas dan perilaku keliru mampu di-koreksi ketika teman yang saleh dimiliki dan menjalankan perannya. Tapi, anehnya justeru manusia lebih memilih teman yang salah agar bisa membantu “melegalkan kesalahan” dan menggelorakan puji tanpa henti. Akibatnya, pelaku kezaliman merasa benar dan kemungkaran dianggap lumrah. Untuk itu, tak heran bila teman yang membawa jalan kesalehan (kebenaran) patut disingkirkan. Sebab, kehadiran “cermin sosial” (teman saleh) akan membuat si fasik tak leluasa melakukan berbagai kesalahan.
Keempat, cermin semesta (ayat kauniyah). Jenis cermin ini melihat semesta sebagai pantulan kebesaran Allah. Sebab, semesta menyajikan ayat-Nya kepada manusia untuk melihat keagungan (kebesaran-Nya) dan begitu daifnya hamba. Hal ini tertuang dalam firman-Nya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka” (QS. Ali Imran : 190-191).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas turun agar manusia merenungkan kuasa dan kebesaran Allah. Bahkan, ayat ini mem-buat Rasulullah ﷺ menangis ketika mem-bacanya. Ayat yang mengajak manusia menggunakan akal dan hatinya untuk memahami alam semesta guna meningkat-kan keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah melalui zikir dan tafakur. Namun, umatnya justeru begitu mudah “mempermainkannya”. Sebab hati, telinga, mata, dan akalnya telah tertutup menerima kebenaran (QS. al-Baqarah : 7).
Kelima, cermin hati (qalbun salim). Cermin jenis ini merujuk sabda Rasulullah ﷺ : “Sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Daging itu adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim).
Merujuk hadis di atas, Imam al-Ghazali menggambarkan hati manusia layaknya cermin. Ketika hati bersih dari nafsu dan dosa, maka cahayanya akan memantulkan ma’rifatullah (mengenal Allah). Untuk itu, manusia yang rindu bersama-Nya akan senantiasa berupaya membersihkan hati (tazkiyatun nafs) dari berbagai penyakit (iri, sombong, fasik, dusta, cinta dunia, dan lainnya). Ketika hati bersih dari kotoran, maka ia akan memantulkan cahaya kebenaran. Namun, jika hati –begitu– kotor dan tak lagi bisa menjadi cermin diri, maka manusia semakin jauh dari cahaya Ilahi (hidayah-Nya). Hal ini diingatkan Allah dalam QS. al-Baqarah : 74 dan 283 (hati keras membatu dan kotor), QS. al-Muthaffifin : 14 (karat / noda hitam akibat maksiat), QS. Luqman : 7 (sombong), QS. Muhammad : 16 (mengikuti hawa nafsu). Anehnya, meski firman-Nya dan sabda Rasulullah begitu jelas, namun manusia semakin nyata mengingkarinya. Sungguh, sifat dan karakter manusia yang demikian melebihi sifat iblis (QS. al-A’raf : 13).
Agar manusia tak terjerumus pada sifat hewan atau iblis, maka diperlukan cermin hati yang suci. Dalam Islam, hati yang suci (qalbun salim) tumbuh pada jiwa yang ter-hindar dari penyakit hati. Hati yang suci melahitkan sifat tawadhu’, ikhlas, dan senantiasa berbaik sangka terhadap ketetapan-Nya. Ketika hati terjaga, maka ketenangan dan kesehatan (mental) akan diraih. Tapi, ketika cermin hati kotor, maka kemunafikan, kesombongan, dan kezalim-an berkembang biak tanpa bisa dicegah. Bahkan, fenomena ini semakin parah bila pemilik hati kotor berbuah perilaku nista tapi “disanjung dan dipuja-puja”.
Sungguh, Allah SWT telah mengingatkan manusia melalui “cermin-cermin-Nya”. Ter-pulang pada setiap manusia untuk men-jadikan ayat-Nya sebagai cermin-Nya atau hanya peduli dengan cermin hias (melihat kehebatan diri) dan kaca spion (melihat ke-kurangan orang lain). Andai kedua pilihan ini yang diambil, maka kesombongan dan kezaliman akan muncul kepermukaan. Ke-tika sifat nista sebagai pilihannya, berarti berharap murka-Nya. Sebab, janji Allah adalah pasti (QS. ar-Ruum : 60). Untuk itu, diperlukan pilihan bijak untuk memilih jenis cermin (kaca). Pilihan cerdas akan meng-hantarkan sosok hamba pilihan yang tawadhu’ dan hanya berharap ridho-Nya.
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.
Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 6 April 2026



