Oleh : Samsul Nizar
(Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Secara sederhana, beragama merupakan wujud keimanan dan ketundukan hamba pada Allah SWT. Untuk itu, manusia akan senantiasa mengamalkan semua ajaran yang diwahyukan melalui Rasul-Nya. Ideal-nya, manusia yang patuh atas ajaran agama (ibadah) akan terimplementasi pada akhlak (adab mulia) sebagai “ruh” dirinya. Sebab, eksistensi agama merupa-kan sandaran utama (primer) dan pemberi arah (pedoman) setiap makhluk-Nya.
Meski manusia makhluk mulia dan unik, tapi terkadang cenderung “aneh”. Keunik-annya membuat manusia bertanggung-jawab atas semua tindakan dan perilaku-nya (moral responsibility). Namun, ketika manusia menjadi “aneh” dan melupakan fitrahnya (kemunafikan beragama), maka ia akan jatuh pada derajat paling hina (QS. at-Tin : 5).
Melalui agama dan potensi yang dimiliki, manusia bisa berbuat kebaikan melebihi malaikat. Namun, bila agama sebatas “topeng”, manusia akan menggunakan potensinya untuk melakukan kemungkaran dan kezaliman melebihi iblis dan hewan paling buas (QS. al-A’raf : 179). Manusia yang mengkhianati agama akan meletakan orang yang jujur jadi terbujur, pemilik sifat amanat dinilai khianat, penjaga kebenaran dianggap kejahatan, sosok pintar dianggap makar, dan pemilik prestasi acapkali perlu diamputasi. Anehnya, terhadap manusia munafik dinilai sosok yang baik, sosok khianat dipandang suci bak malaikat, dan sumpah palsu selalu di gugu (dipercaya) dan ditiru. Allah saja tega dipermainkan dan “ditipu”, apatahlagi sesama manusia. Padahal, Allah sangat murka terhadap perilaku manusia yang mempermainkan dan mengkhianati agama-Nya. Hal ini tertuang pada firman-Nya : “Demikianlah, balasan mereka itu neraka Jahanam, karena kekafiran mereka, dan karena mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai bahan olok-olok” (QS. al-Kahfi : 106).
Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas, bahwa neraka jahanam merupakan bentuk hukuman setimpal akibat kekafiran dan ke-munafikan manusia yang mendustakan, meremehkan, dan mempermainkan Allah dan rasul-Nya. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di menjelaskan bahwa peri-laku ini menjadikan ibadah yang dilakukan tertolak dan tak bernilai sedikit jua. Akibat-nya, mereka akan celaka dan terjerumus ke dalam azab yang sangat pedih.
Ada beberapa indikasi manusia yang se-dang mengkhianati agamanya, antara lain :
Pertama, Bersumpah atas nama Allah (QS. al-An’am : 162), baik ketika beribadah dan/atau menerima amanah, tapi realitanya justeru perilaku mengikuti iblis. Sumpah atas nama Allah sebatas euforia adminis-tratif semata. Akibatnya, Allah dan kitab suci sebatas pemanis bibir dan pelengkap dokumentasi. Ia tak pernah hadir dalam hati, apatahlagi membekas dan mewarnai diri. Sungguh, manusia secara sadar telah atau sedang menipu dan mempermainkan nama Allah (sumpah palsu), serta menjual keyakinan untuk membeli “syahwat dunia”.
Ketika fenomena di atas terjadi, maka wajar bila kejahatan tak menjadi aib yang memalukan meski terpampang begitu nyata. Anehnya, kezaliman dan keserakah-an dipandang sebatas pemandangan indah dan fenomena yang lumrah. Untuk itu, kesalahan akan dianggap kesalehan dan kesalehan dianggap kesalahan yang harus disingkirkan. Akibatnya, kebaikan tak akan terlihat lagi. Meski kebenaran begitu nyata, tapi ia akan tertutupi oleh mata dan hati yang dipenuhi kebencian. Sedangkan, pemilik kesalahan dianggap pahlawan dan gemuruh pujian.
Kedua, Menjadikan agama dan atribut agama sebatas media persembunyian untuk melakukan kejahatan. Melalui tam-pilan dan untaian kata saleh, ternyata se-dang berlangsung kezaliman dan kesera-kahan tanpa henti. Sebab, umat akan mudah percaya dan tertipu tatkala simbol, atribut, dan status agama dijadikan “baju” untuk menutupi kesalahan.
Pencitraan melalui simbol agama begitu kentara tatkala “putusan pesakitan” resmi ditetapkan. Seakan, simbol agama (tampil saleh) mampu menutupi kesalahan yang dilakukan. Padahal, fenomena simbol ini tak pernah hadir sebelumnya. Sungguh, kesalahan yang bertopeng agama merupa-kan musibah terbesar sepanjang sejarah. Untuk itu, Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya : “Dan di antara manusia ada yang berkata, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,’ padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman” (QS. al-Baqarah : 7).
Menurut Ibn Qatadah, ayat di atas men-jelaskan bahwa “setan telah menguasai manusia agar mentaati keinginannya”. Untuk itu, Allah mengunci hati, pendengar-an, dan penglihatan manusia yang kufur. Akibatnya, ia tak akan memperoleh jalan menuju hidayah-Nya.
Ketiga, Menjadikan kesalahan sebagai indikator kesalehan dan menempatkan kesalehan di ruang kesalahan. Kelihaian ini didukung oleh status dan komunitas se-putar “tali pinggang” yang membantunya.
Dalam pandangan Islam, karakter manusia yang menganggap kesalahan (maksiat dan dosa) sebagai kesalehan (ketaatan atau kebaikan) adalah bentuk penyesatan nyata dan bahaya laten. Meski secara zahir ber-wujud nikmat, tapi hakikatnya merupakan laknat dan kutukan-Nya (istidraj). Kondisi ini membuat kesenangan duniawi atau ke-mudahan hidup yang diberikan-Nya mem-buat manusia lupa dan terus menerus berbuat kemaksiatan di muka bumi. Hal ini telah diingatkan oleh Rasulullah ﷺ melalui sabda-nya : “Apabila engkau melihat Allah SWT memberikan nikmat dunia kepada seorang hamba, sementara hamba tersebut terus melakukan maksiat, maka ketahuilah bahwa itu adalah istidraj” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi).
Ketika manusia begitu ringan dan mudah mempermainkan ayat-Nya, maka akan berdampak pada kepribadiannya, yaitu : (1) hatinya menjadi keras dan sulit menerima nasehat kebenaran. (2) hilang rasa takut pada Allah dan –justeru– melakukan pengingkaran. (3) menikmati kesalahan dan kemaksiatan sebagai “prestasi” yang membanggakan bagi memuaskan nafsu duniawinya. Perilaku ini semakin subur dan tak terken-dali tatkala hukum selalu melindungi, dukungan manusia “sekitar ikat pinggang” ikut membantu guna menikmati hasil ke-salahan (kemungkaran kolektif). Kondisi ini semakin parah tatkala pemilik kebenar-an “tertidur pulas” dan tak mau peduli. Aki-batnya, kemungkaran menjadi kebiasaan yang dipertahankan dan kebenaran tak lagi dipedulikan.
Fenomena pelaku kebatilan yang berlin-dung di balik simbol agama bukan hal baru. Bahkan pada masa Rasulullah ﷺ, kaum munafik ikut shalat berjamaah, mendengar khutbah, dan duduk di majelis ilmu. Namun, Allah akan membuka tabir kemunafikannya dan menempatkannya pada tingkatan neraka paling rendah (QS. an-Nisa’ : 145).
Sungguh, kesalehan sejati tak membutuh-kan panggung pencitraan untuk dipuji. Ia tumbuh dalam keheningan, kejujuran, rasa rindu kepada Allah, dan kesadaran bahwa manusia kelak akan mempertanggung-jawabkan seluruh amal dihadapan-Nya. Kesalehan sejati merupakan rahasia hamba bersama Khaliqnya. Namun, era digital kadangkala memberi ruang untuk mengikis kesalehan (keikhlasan) melalui publikasi (pencitraan). Seakan, manusia “tak percaya Allah akan melihat” atau tak puas dengan janji-Nya. Untuk itu, manusia merasa perlu mempublikasikan amaliah untuk memperoleh pengakuan sesama-nya. Semua aktivitas ibadah dipertonton-kan agar terlihat saleh. Akibatnya, sirna keikhlasan bersamaan tegak kesombong-an. Bahkan, melalui media digital, manusia memperlihatkan kelihaiannya memper-mainkan ayat Allah dan Rasul-Nya yang membuat iblis menyerah untuk menggoda manusia. Melalui tampilan kesalehan yang memukau, manusia bebas melakukan ber-bagai kemungkaran. Hal ini mengisyarat-kan begitu berbahayanya manusia yang menjadikan agama sebagai topeng untuk leluasa melakukan kejahatan. Untuk itu, Allah memerintahkan pemilik iman agar menjauhi manusia yang mempermainkan agama. Hal ini tertera pada firman-Nya : “Dan tinggalkanlah orang-orang yang men-jadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia…” (QS. al-An’am : 70).
Menurut Ibn Katsir, melalui ayat di atas, Allah memerintahkan pada manusia yang beriman agar menjauhi orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau. Peringatkanlah (mereka) dengan kebenaran agar terhindar dari siksa neraka. Namun, tatkala peringatan tak lagi dipedulikan, maka berpaling dari manusia tak ingin kebaikan. Sungguh, tak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafaat selain dari Allah dan Rasul-Nya. Bila kezaliman dan kesom-bongan telah menutup hati, maka tak akan ada pintu taubat untuk kembali. Mereka akan semakin terjerumus (perilaku iblis) akibat perbuatannya.
Mungkin dunia sebatas “panggung sandi-wara” yang menampilkan karakter manusia penuh kepalsuan. Berbuat baik ketika ada yang diinginkan. Begitu tergapai apa yang dituju, wujud aslinya terlihat nyata. Mereka merupakan “manusia berkarakter toilet“. Bersih dipermukaan, tapi di dalamnya ber-isi kotoran (najis). Sosoknya bak “si buta memerlukan tongkat. Begitu mata telah melihat, tongkat akan dibuang”. Anehnya, si buta merupakan manusia berilmu tapi tanpa adab dengan status mulia tapi hina dihadapan-Nya (QS. al-Hajj : 18).
Begitu nyata sumpah (atas nama Allah) di-permainkan. Meski aksesoris agama yang dikenakan, tapi kualitasnya sebatas “angin pintu belakang”. Hanya terdengar nyaring dan terendus aroma busuk, tapi tak pernah bisa “ditangkap dan diadili”. Sesungging senyuman tanpa dosa dan tak bersalah.
Teruslah mengkhianati agama untuk men-zalimi dan menipu sesama dengan meng-atasnamakan Allah dan Rasul-Nya. Meski kemunafikannya mampu menipu semua penduduk bumi, tapi Allah dan penduduk langit pasti akan menyaksikan kemungkar-an yang dilakukan dan dipertontonkan.
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.
Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 9 Pebruari 2026


