Oleh : Samsul Nizar
(Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Kisah Penggembala Kambing
.Dalam sejarah Islam dikisahkan, Abdullah bin Umar bin Khattab sedang melakukan perjalanan bersama sahabat lainnya. Dalam perjalanannya, mereka bertemu dengan seorang pemuda yang sedang menggembalakan kambing milik majikannya. Ibnu Umar ingin menguji integritas pemuda tersebut. Ia menemui si pemuda dan menawarkan untuk membeli seekor kambing. Tapi, si penggembala menolak tawaran tersebut. Dengan jujur si pemuda berkata “maaf, semua kambing ini bukan milikku, melainkan milik tuanku. Aku hanya menerima amanah untuk menggem-balakan kambing milik tuanku”. Ibnu Umar kemudian berkata, “jual saja seekor. Kata-kan pada majikanmu ada kambing yang dimakan serigala. Dengan demikian, tuan-mu pasti akan percaya”. Namun, dengan tegas dan penuh keyakinan si pemuda penggembala menjawab, “memang benar majikanku tak akan tau, tapi Allah SWT senantiasa mengetahui dan melihat setiap perbuatan hamba-Nya”. Mendengar jawaban pemuda tersebut, Ibnu Umar terharu dan kagum atas keimanan dan kejujuran yang dimiliki. Karakter mulia dari seorang hamba, miskin, tak memiliki ilmu, dan berasal dari strata yang rendah. Untuk itu, sekembalinya ke Madinah, Ibnu Umar menemui tuan si penggembala untuk membeli budaknya dan semua kambing-nya. Lalu, Ibnu Umar memerdekakan si pemuda dan menyerahkan semua kambing tersebut sebagai hadiah atas kejujurannya. Sungguh wajah peradaban mulia (keemasan) yang begitu menghargai pemilik kejujuran dengan nilai kemuliaan. Sedangkan, wajah peradaban “besi tua” hanya memandang dan menghargai “bingkisan” sesuai negosiasi (transaksi).
Melalui kisah Ibnu Umar dan si penggem-bala kambing mengajarkan sesuatu yang hilang dalam kehidupan akhir zaman. Nilai tersebut antara lain :
Pertama, sifat jujur dan amanah bisa di-miliki setiap manusa tanpa memandang status. Ia hadir pada sosok pemilik iman. Meski secara akademik si penggembala kambing tak berpendidikan, rakyat jelata, dan hidup sederhana (miskin), namun berbekal iman yang kokoh, ia mampu menghadirkan kejujuran dan amanah tanpa tergoyahkan. Apa yang dilakukan mengimplementasikan ajaran Islam yang substansial. Hal ini dinyatakan Rasulullah ﷺ : “Sesungguhnya Allah tidak melihat (rupa) fisik dan harta kalian, tetapi Ia melihat hati dan amal kalian” (HR. Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad).
Hadis di atas begitu jelas. Sungguh, Allah mementingkan kualitas hati dan perbuat-an hamba-Nya, bukan penampilan dan asesories (kekayaan materi atau posisi). Untuk itu, Rasulullah menekankan agar manusia selalu memperbaiki diri secara internal (hati), ketimbang hanya fokus pada membangun citra kemunafikan.
Kejujuran si penggembala kambing meng-implementasikan sabda Rasulullah ﷺ : “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesung-guhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta” (HR. Muslim).
Sementara manusia kadangkala mengaku sebagai pemilik, padahal bukan miliknya. Hal ini bertujuan agar dianggap hebat dan kaya. Bentuk pengakuan yang dilakukan bervariasi. Bahkan, bukan sebatas peng-akuan, tapi “penyerobotan” atas hak dan “masa depan” orang lain. Rasulullah ﷺ mengingatkan : “Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan saudara kalian itu haram bagi kalian” (HR. Bukhari dan Muslim).
Demikian tegas Allah dan Rasul-Nya menje-laskan kualitas seorang hamba. Manusia beriman akan berpihak pada kejujuran. Ia dimuliakan-Nya sebagai penghuni surga (QS. at-Taubah : 119). Sementara, manusia tanpa iman akan berpihak pada kemunafik-an. Ia akan ditempatkan dikerak api neraka (QS. an-Nisa’ : 145).
Kedua, kesadaran akan pengawasan Allah (muraqabah). Meski memiliki kesempatan untuk berbuat curang, tapi ia tau bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Tau. Allah mengingatkan : “Dia mengetahui (pandang-an) mata yang khianat dan apa yang di-sembunyikan oleh hati” (QS. al-Ghafir : 19).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelas-kan bahwa Allah SWT mengetahui segala sesuatu, baik yang terlihat maupun tersembunyi, termasuk “pandangan mata yang khianat” (kerlingan pengkhianatan) dan apa yang tersembunyi di dalam hati (niat buruk di hati). Peringatan ini bertuju-an agar manusia merasa diawasi Allah dan meningkatkan ketakwaan. Sungguh, ilmu-Nya meliputi yang tampak nyata dan ter-sembunyi. Dengan ayat-Nya, seyogyanya manusia menjadi sadar (beradab) dan meninggalkan semua perbuatan tercela. Namun, bagi manusia biadab, semua ajaran agama dan i’tibar yang nyata –di depan mata– akan dinafikan. Semua di-anggap hanya sebatas kisah semata.
Fabel Penggembala Domba
Fabel pengembala domba merupa-kan versi masyarakat eropa tentang sifat manusia yang “silau materi” dan mau menerima tawaran “transaksi”. Dikisahkan, hiduplah seorang penggembala di sebuah peternakan domba. Dalam melaksanakan tugasnya, ia dibantu seekor anjing yang setia. Dengan begitu tekun, penggembala domba menjaga dan merawat semua domba tuannya dengan baik. Suatu hari, datang seorang saudagar kaya yang ingin menguji kejujuran penggembala tersebut. Si saudagar berkata “aku sangat tertarik pada anjingmu. Tubuhnya sehat, kekar, dan sangat setia. Maukah kamu menjual anjing-mu ?. Jika engkau mau, maka akan kubeli dengan harga yang tinggi”. Mendengar tawaran yang menggiurkan tersebut, awal-nya si penggembala ragu. Tapi, bayangan tumpukan uang emas membuatnya setuju untuk menjual anjingnya tersebut. Ia tak peduli atas jasa si anjing yang begitu setia membantu dan menemaninya. Dalam fikirannya hanya ada tumpukan uang emas berkilau yang akan membuatnya kaya raya. Setelah uang diterima, saudagar kembali berkata, “maukah engkau menyembelih, menguliti, dan mencincang daging anjing ini ?. Jika engkau mau, maka akan kubayar pengerjaannya sebesar harga tadi”. Si penggembala kembali tergiur dan mau melaksanakan penyembelihan anjing tersebut. Setelah anjing disembelih, dikuliti, dan dipotong-potong, si saudagar kembali berkata, “maukah engkau memasak daging anjing ini agar bisa kita memakannya bersama ?. Jika engkau mau, maka akan kubayar sebesar harga tadi”. Mendengar tawaran tersebut, si penggembala tanpa ragu menyanggupi dan melaksanakan perintah si saudagar. Setelah daging anjing selesai di masak dan dihidangkan, keduanya dengan lahap memakannya. Derai tawa menghiasi bibir keduanya. Si penggembala sangat bahagia dengan tumpukan uang yang diperoleh, meski secara sadar mengorbankan “nilai kesetiaan” temannya (si anjing).
Kisah penggembala domba di atas men-jelaskan fenomena nyata karakter manusia sepanjang sejarah, yaitu :
Pertama, Karakter manusia yang serakah, khianat, dan lupa diri. Ia begitu mudah mengkhianati kepercayaan tuannya dan begitu mudah “menjual” temannya. Bah-kan, ia tega membunuh (menyembelih), memasak, dan memakan teman (anjing) sendiri. Padahal, meski seekor anjing, tapi ia telah membantu dan setia bersamanya. Hanya disilaukan oleh tumpukan materi, si penggembala tega mengorbankan teman. Fenomena ini seakan menjawab dinamika manusia pemilik sifat tercela. Ketika masa sulit dan menghadapi dinamika, eksistensi teman begitu diperlukan. Tapi, bila berkait-an materi dan posisi, tak ada teman yang abadi. Hanya kepentingan bermuatan ambisi yang lebih utama. Sifat manusia yang demikian bukan sebatas keserakah-an, tapi pengkhianatan atas nilai kesetiaan dan teman yang pernah membantunya.
Kedua, Karakter manusia tak tau balas budi dan lupa diri. Ternyata, tak ada teman yang setia bila berhadapan dengan “pundi-pundi dan posisi”. Meski si anjing telah menemani dan membantunya, tapi tega dijual, disembelih, bahkan dicincang, dimasak, dan memakan “temannya”. Semua disebabkan gemerlap pundi dan posisi (kaya). Dorongan ini membuatnya begitu tega mengorbankan dan memakan “teman”, meski terhadap sosok yang telah membantunya.
Sungguh, mencermati 2 (dua) kisah di atas memperlihatkan karakter manusia dalam kehidupan. Sosok “Karakter penggembala kambing yang amanah dan jujur semakin sulit untuk ditemukan. Sementara, karakter penggembala domba yang khianat dan munafik sangat mudah ditemukan”. Feno-mena pengkhianatan dan kemunafikan selalu berkaitan dengan materi dan posisi. Sifat ini berpotensi terjadi pada setiap diri tanpa terkecuali. Hal ini diingatkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : “Setiap manusia pasti akan menjadi tua. Namun jiwanya tetap muda mengenai dua perkara, yaitu tamak akan harta benda dan selalu ingin panjang umur” (HR. Muslim).
Sungguh, manusia acapkali lupa pada janji kematian dan pertanggungjawaban yaumil hisab (QS. al-Ghasyiyah : 88). Seakan tak lagi ada pengaruh ajaran agama pada diri. Beragama hanya sebatas aksories, bukan substansi yang seyogyanya dimiliki dan dipedomani. Tampil perilaku memuaskan nafsu duniawi tanpa peduli –menjual– agama (QS. Ali Imran : 77).
Konsekuensi pilihan begitu jelas disampai-kan-Nya. Semua kembali pada kualitas keimanan setiap diri, yaitu sadar sebagai hamba-Nya atau merasa tuhan berwujud manusia. Hanya manusia nista yang me-milih derajat hewan (QS. al-A’raf : 179).
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.
Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 5 Januari 2026


