Oleh : Samsul Nizar
(Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Adagium sosial menyatakan, bahwa sosok pemimpin adalah cermin rakyat dan tradisi rakyat adalah cermin pemimpinnya. Dalam konteks ini, Sayidina Ali bin Abi Thalib RA pernah berkata : “Bagaimana keadaan kalian, begitu pula pemimpin kalian”. Jika rakyatnya korup, egois, dan sibuk mencari kesenangan diri, Allah akan memberikan pemimpin yang memiliki sifat serupa. De-mikian pula sebaliknya. Bila rakyat saleh dan istiqamah pada agamanya, maka Allah akan utus pemimpin yang memiliki sifat amanah, adil, beradab, dan membawa kedamaian bagi semesta.
Eksistensi sosok pemimpin perlu difahami secara luas. Kehadirannya bukan sebatas pemimpin formil dan non formil, tapi menyasar pada peribadi setiap diri. Hal ini di-nyatakan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis di atas menegaskan bahwa setiap individu memiliki tanggungjawab atas diri, keluarga, dan masyarakat, sesuai amanah yang diembannya. Kesemua amanah akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.
Mencermati adagium, hadis, dan dinamika fenomena yang terjadi, “ilmu warung kopi” mengelompokkan tipikal sosok pemimpin, antara lain :
Pertama, Tipikal playback (sekedar ingin main-main dan jalan-jalan tanpa mampu melakukan perubahan yang signifikan). “Pelesiran” –dengan alasan– tugas lebih diutamakan dibanding bekerja dan berkarya. Tipikal ini menandakan “ketidak-dewasaan” atas amanah yang dipikul. Semua perilaku “bak anak-anak” yang senang bermain. Kesenangan dan “aji mumpung” atas posisi semata. Menikmati fasilitas tanpa kualitas yang bermanfaat bagi keumatan secara nyata. Bila induk ayam tak mau makan sebelum anaknya kenyang. Sementara manusia acapkali lebih mendahulukan dirinya makmur dan tidur mendengkur di tengah nasib “jelata” yang tersungkur dan terkubur.
Dalam ajaran Islam, pemimpin yang hanya mencari kesenangan diri, mementingkan kelompok, atau khianat terhadap sumpah dan amanah rakyat secara serakah disebut atsarah. Istilah ini bermakna sikap atau perilaku yang lebih mementingkan diri sendiri, monopoli harta dan kuasa, serta berperilaku sewenang-wenang. Sikap yang demikian telah diprediksi oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya : “Sesungguhnya akan ada setelahku pemimpin-pemimpin yang mementingkan diri sendiri (atsarah)…” (HR. Bukhari dan Muslim).
Imam an-Nawawi menjelaskan atsarah sebagai upaya untuk menguasai atau mengambil sesuatu (keuntungan) untuk kesenangan diri sendiri. Padahal, semua kesenangan tersebut menelan biaya yang sangat besar. Biaya yang dipakai terselip hak orang lain atau seyogyanya lebih baik digunakan untuk kepentingan umum.
Kedua, Tipikal flashback (bangga atas prestasi keluarga atau dinasti masa lalu). Padahal, Rasulullah ﷺ mengingatkan :
“Barang siapa yang lamban amalnya, maka nasabnya tidak dapat mengejarnya” (HR. Muslim).
Hadis di atas menjelaskan bahwa keturun-an dan status mulia tidak bermanfaat jika perbuatannya buruk. Sebab, ajaran Islam memerintahkan mempelajari nasab hanya bertujuan membangun silaturahim, bukan untuk membangun kesombongan zuriyat.
Karakter pemimpin tipikal flashback hanya mengandalkan “isme” yang mendukung-nya dan berupaya membangun dinasti “monarchi absolut”. Kebijakan nepotisme ini dilakukan untuk “mengumpulkan keluarga (kolega atau isme teritorial) yang seirama”, tanpa peduli kualitas dan adab-nya. Dengan model ini, kebijakannya lebih leluasa melakukan berbagai bentuk “penyimpangan”. Semua dilakukan untuk memperkuat dan mengembalikan “basis dinasti” yang dibangun. Basis ini bertujuan untuk menutupi semua “kejahatan kolektif” yang dilakukan selama ini.
Ketiga, Tipikal cashback (materialistik ; setiap aktivitas beriringan harap materi berlimpah dan bisa kembali). Karakter pemimpin tipikal cashback menciptakan 2 (dua) model pemimpin, yaitu : (1) model pencuri bila semua biaya “kursi dan posisi” dibiayai sendiri. Sebab, hukum ekonomi menjelaskan agar bisa “mengembalikan” biaya yang telah dikeluarkan dan meng-ambil keuntungan atas “investasi” yang telah ditanam. (2) model “pengabdi” (hamba sahaya) muncul bila semua biaya “kursi dan posisi” dibiayai pemodal (sponsor). Kondisi ini membuat eksistensinya bagai “lembu ditusuk hidungnya” dan “disetir” sesuai keinginan dan kepentingan “si pemodal” (sponsor).
Meski sumpah atas nama agama begitu nyaring untuk menafikan “transaksi”, tapi “tak ada makan siang yang gratis”. Semua “permainan” begitu terang, terbuka, nyata, dan melampaui batas (QS. asy-Syura : 42). Akibatnya, amanah dan sumpah sebatas pemanis kata, tapi isinya pengkhianatan semata. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan : “Tidaklah seorang hamba diserahi Allah untuk memimpin rakyat, lalu pada hari dia mati dalam keadaan berkhianat terhadap rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga baginya” (HR. Muslim).
Meski ancaman ayat dan hadis begitu jelas (tegas), seiring sumpah atas nama agama diucap, serta azab begitu nyata, tapi tak pernah menyurutkan keinginan (nafsu) manusia melakukan berbagai kemungkaran. Agama sebatas lipstik dan Allah sebatas ucapan. Sebab, manusia begitu nyata mengingkari ajaran agama, serta “menantang” semua janji Allah dan Rasul-Nya. Demikian kesombongan ditun-jukkan manusia di muka bumi telah melampaui kesombongan iblis.
Keempat, Tipikal go back (sebatas datang dan pulang, tanpa kerja yang jelas dan target capaian terukur). Kata “go back” adalah frasa bahasa Inggris yang berarti kembali, pulang (tempat asal). Frasa ini menunjukkan pergerakan menjauh dari posisi perbaikan, tapi ber-upaya kembali ke tempat atau kondisi “nyaman” sebelumnya. Padahal, Islam memerintahkan umatnya agar meninggal-kan kebiasaan buruk (munkar) dan menggantinya dengan kebiasaan baik (ma’ruf). Hal ini tertuang pada sabda Rasulullah ﷺ : “Di antara yang termasuk bagusnya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tak berguna (bermanfaat) baginya” (HR. Tirmidzi).
Namun, bagi manusia tipikal go back, hanya rindu melanjutkan kebiasaan lama. Kebiasaan yang memberi keuntungan ber-lipat dan kenikmatan sesaat.
Kelima, Tipikal so back (membangkitkan –kembali– semangat perbaikan). Kata “we’re so back” adalah frasa bahasa Inggris populer yang berarti “kami benar-benar kembali” atau “kami kembali dengan lebih kuat”. Istilah ini sering digunakan sebagai tagar atau ungkapan optimis di media sosial untuk menandai kembalinya seseorang, merek, atau tim setelah sempat vakum, gagal, terpuruk, atau mengalami jeda prestasi. berfikir cerdas dan bijaksana membangun peradaban yang rahmatan lil ‘aalamiin. Semangat ini merupakan prinsip ajaran Islam. Hal ini tertuang pada sabda Rasulullah ﷺ : “Bersemangatlah atas hal-hal yang berman-faat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah…” (HR. Muslim).
Hadis di atas memotivasi manusia agar optimis dan menyadarkan dirinha yang lemah atas kuasa Allah. Dengan sifat ini akan membangunkan kesadaran dan menumbuhkan sifat tawadhu’ seorang pemimpin. Ketika sifat ini mampu dimiliki, maka amanah yang diemban akan digunakan untuk kemashlahatan seluruh alam semesta. Hal ini sesuai sabda Rasulullah ﷺ : “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad).
Manusia tipikal “so back) selalu yakin atas janji-Nya. Allah berfirman : “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” (QS. al-Isra’ : 7).
Demikian jelas janji Allah Maha Sempurna. Memerintahkan manusia untuk senantiasa berbuat kebajikan. Namun, manusia prag-matis lebih mengedepankan apa yang bisa diperoleh, bukan apa yang bisa diberikan. Tapi, bagi manusia tipikal “go back” senan-tiasa berupaya –tiada henti– mengukir karya nyata peradaban yang dinikmati lin-tas generasi. Karya yang dihasilkan meru-pakan wujud kekhalifahan yang amanah, dibanggakan oleh penduduk langit dan bumi, serta dirindukan penduduk surga.
Berbeda dengan manusia tipikal playback, flashback, cashback, dan go back yang hanya memperbanyak kata (konten) dan “heboh pintar” di media massa tanpa karya nyata. Hanya bangga menikmati “posisi” dengan “memekakkan telinga dan mem-butakan mata” atas berbagai kesalahan yang dilakukan dan dampak yang diderita umat sepanjang zaman.
Anehnya, meski keempat tipikal nista di atas nyata terlihat, tapi tak ada yang mau peduli untuk melakukan penindakan se-suai aturan. Akibatnya, berbagai pelanggar-an menjadi “kebiasaan yang dibenarkan”, perilaku nista selalu “ditutupi” dan kesalah-an bisa dimaklumi. Fenomena perilaku ini telah dinyatakan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : “Di antara tanda-tanda Kiamat adalah diangkatnya ilmu dan tersebarnya kebodohan” (HR. Bukhari).
Kekhawatiran Rasulullah bukan hanya peri-laku kaum awam, tapi justeru menerpa kaum khawas yang tau aturan, budaya, adat, ilmu, dan agama. Berselindung dengan “jubah kesalehan” agar bebas melakukan berbagai kesalahan. Akibatnya, semua kesalahan dinilai kesalehan, serta kehadirannya senantiasa dihormati dan dipuja “selevel “dewa”. Keangkuhan yang demikian telah diingatkan dalam QS. al-Baqarah : 41 dan 174, QS. al-Maidah : 44, serta QS. an-Nur : 63 (melarang memper- olok-olok atau membandingkan nabi dan rasul dengan manusia biasa). Begitu jelas semua ayat-Nya, masihkah terus diingkari ?
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.
Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 20 April 2026



