سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(QS.al-Isra’:1)
Isra Mi’raj adalah perjalanan spiritual yang melampaui nalar manusia. Dalam semalam, Rasulullah SAW menembus dimensi ruang dan waktu, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Isra) hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj), tempat yang bahkan malaikat Jibril pun tidak mampu melangkah lebih jauh. Peristiwa ini tidak hanya menggambarkan keajaiban Ilahi, tetapi juga menyadarkan kita akan batasan kemampuan manusia dan ciptaannya, termasuk teknologi seperti kecerdasan buatan (AI). Di tengah pesatnya kemajuan teknologi yang mengubah cara manusia bekerja dan hidup, Isra Mi’raj menghadirkan refleksi mendalam yaitu ada dimensi spiritual yang tidak dapat disentuh, diukur, atau direplikasi oleh teknologi apa pun. Dimensi ini adalah wilayah eksklusif hubungan manusia dengan Tuhannya, tempat keimanan, doa, dan kerinduan kepada Allah menjadi terpatri.
Isra’ Mi’raj dan Intelegensi Buatan (Artificial Intelligence/AI) adalah dua hal yang berasal dari dimensi berbeda, spiritualitas wahyu dan teknologi material, namun dapat dikontekstualisasikan bersama untuk merefleksikan kemajuan peradaban manusia. Isra’ Mi’raj (perjalanan fisik dan ruhani Nabi Muhammad SAW) mengajarkan tentang melampaui batas, sementara AI adalah alat manusia untuk melampaui keterbatasan kognitif.
Berikut adalah refleksi hubungan antara peristiwa Isra’ Mi’raj dengan perkembangan AI:
1. Spiritual sebagai Kompas, AI sebagai Alat
Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa puncak perjalanan manusia adalah “Sidratul Muntaha”—kedekatan dengan Tuhan. Dalam era digital, AI harus dipandang sebagai alat (tools) yang menunjang kehidupan, sedangkan spiritualitas (iman) adalah kompas moralnya. AI dapat digunakan untuk menyebarkan kebaikan dan mempermudah urusan, namun tidak akan bisa menggantikan kebutuhan manusia akan ketenangan batin dan koneksi spiritual.
Ketika Rasulullah SAW mencapai Sidratul Muntaha, beliau memasuki wilayah yang tidak bisa dicapai oleh makhluk lain, termasuk Jibril. Hal ini mengisyaratkan bahwa hubungan dengan Allah adalah murni urusan spiritual, di mana keikhlasan hati dan keimanan menjadi jembatannya. Di dalam dimensi spiritual inilah manusia menemukan kedamaian sejati, makna hidup, dan keberkahan yang tidak dapat dijelaskan oleh logika maupun data. Teknologi, secerdas apa pun, tidak mampu menjawab pertanyaan terdalam manusia misalnya: Mengapa kita ada? Ke mana tujuan akhir kita?
2. Teknologi AI dalam Perspektif “Kecepatan” Isra’ Mi’raj
Isra’ Mi’raj adalah perjalanan yang melampaui batas kecepatan fisik manusia. Dalam perspektif sains, peristiwa ini melampaui pemahaman kecepatan cahaya. AI memberikan gambaran tentang bagaimana manusia berusaha “mempercepat” pemrosesan informasi dan melampaui batasan fisik konvensional. Analoginya, jika Isra’ Mi’raj adalah mukjizat kecepatan tertinggi, AI adalah refleksi usaha manusia untuk mempercepat efisiensi.
Kecerdasan buatan adalah puncak inovasi manusia di era modern. AI mampu menganalisis data dalam skala besar, memprediksi pola, hingga menciptakan solusi untuk tantangan global. Namun, ada batas yang tidak bisa dilampaui oleh teknologi ini: kecerdasan emosional, intuisi moral, dan koneksi spiritual. AI hanya bekerja berdasarkan algoritma dan data yang dimasukkan oleh manusia. Teknologi ini tidak memiliki jiwa, hati, atau kesadaran yang dapat memahami rasa syukur, ketundukan, atau cinta kepada Allah SWT. Sebagai contoh:
- AI tidak dapat berdoa: Doa adalah seruan hati yang tulus kepada Sang Pencipta, yang tidak mungkin diprogram oleh mesin.
- AI tidak memiliki fitrah: Fitrah manusia adalah mencari Tuhan, mengenali keberadaan-Nya, dan tunduk kepada-Nya. Hal ini adalah esensi keberadaan manusia yang tidak dapat direplikasi oleh teknologi.
- AI tidak memahami makna ilahi: AI dapat menganalisis teks keagamaan, tetapi tidak dapat merasakan hikmah di baliknya. Pemahaman spiritual melibatkan hati dan kesadaran yang hanya dimiliki oleh manusia.
3. “Upgrading Spiritual” di Era Digital
Sebagaimana AI yang terus diperbarui (di-upgrade) perangkat lunaknya agar lebih pintar, manusia juga perlu melakukan upgrading spiritual secara berkala. Perenungan Isra’ Mi’raj di era AI adalah ajakan untuk meningkatkan kualitas iman, bukan sekadar terjebak pada kecanggihan teknologi.
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa spiritualitas adalah inti kehidupan. Di era modern ini, teknologi seperti AI harus menjadi pelengkap, bukan pengganti, bagi perjalanan spiritual manusia. Ada beberapa cara untuk menjaga spiritualitas tetap hidup di tengah arus teknologi:
- Menjadikan Teknologi sebagai Pelayan, Bukan Tuan Teknologi, termasuk AI, harus digunakan untuk mendukung kebutuhan manusia, bukan menguasai hidupnya. Sebagai contoh, aplikasi pengingat shalat atau kajian Al-Qur’an berbasis AI dapat membantu memperkuat ibadah, tetapi kesadaran untuk menjalankan ibadah tetap bergantung pada keimanan manusia.
- Memprioritaskan Waktu untuk Allah Di tengah kesibukan yang sering didominasi oleh teknologi, manusia harus tetap meluangkan waktu untuk bermunajat kepada Allah. Shalat, sebagaimana diwajibkan dalam Isra Mi’raj, adalah cara terbaik untuk menjaga hubungan spiritual.
- Menyadari Keterbatasan Teknologi Meskipun teknologi memiliki kemampuan luar biasa, manusia harus menyadari bahwa ada wilayah yang tidak bisa disentuh oleh mesin. Rasa syukur, keikhlasan, dan kebahagiaan sejati hanya bisa ditemukan melalui hubungan yang mendalam dengan Allah.
4. AI untuk Kemaslahatan, Bukan Permusuhan
Isra’ Mi’raj mengajarkan inklusivitas—Nabi Muhammad bertemu dengan para nabi sebelumnya. Spirit ini harus dibawa dalam pengembangan AI, yaitu untuk menyatukan kemanusiaan, menjalin silaturahim, dan melahirkan peradaban yang penuh kedamaian. AI yang dikembangkan dengan etika, yang terinspirasi dari nilai-nilai spiritual, akan membawa maslahat, bukan permusuhan.
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa teknologi harus diarahkan untuk mendukung misi manusia sebagai khalifah di bumi, bukan sekadar mengejar efisiensi atau keuntungan material. Ketika teknologi digunakan tanpa nilai-nilai spiritual, ia bisa menjadi alat yang merusak, bukan membangun. Oleh karena itu, umat Islam perlu mengintegrasikan etika dan spiritualitas dalam pengembangan dan penggunaan teknologi. Isra Mi’raj juga mengingatkan bahwa ada wilayah yang hanya bisa dijelajahi melalui keimanan, bukan melalui inovasi. Wilayah ini adalah rahasia Tuhan, tempat manusia menemukan kedamaian dan jawaban atas pertanyaan terdalam dalam hidupnya.
5. Memahami Batasan AI
Secanggih apa pun AI, teknologi buatan manusia tidak akan pernah bisa melampaui dimensi perjalanan Isra’ Mi’raj. Isra’ Mi’raj menunjukkan keagungan Allah yang tak terbatas, sedangkan AI memiliki keterbatasan teknis dan algoritma.
Isra Mi’raj adalah simbol perjalanan spiritual manusia menuju Allah, melampaui segala batas duniawi. Di era AI, refleksi ini menjadi semakin relevan. Kita harus menyadari bahwa teknologi hanyalah alat, sedangkan hubungan spiritual dengan Allah adalah tujuan. Teknologi, secerdas apa pun, tidak dapat menggantikan kebutuhan manusia akan doa, ibadah, dan kerinduan kepada Sang Pencipta. Sebagaimana Rasulullah SAW diajarkan untuk shalat sebagai bentuk koneksi langsung kepada Allah, kita pun diingatkan untuk menjaga dimensi spiritual ini tetap hidup. Mari kita jadikan teknologi sebagai sarana untuk memperkuat iman, tanpa melupakan bahwa akhir dari segala perjalanan adalah Allah SWT, Sang Pemilik seluruh ilmu dan kehidupan.
Kesimpulan:
Isra’ Mi’raj adalah perjalanan spiritual yang luar biasa, sedangkan AI adalah kemajuan teknologi. Keduanya dapat berdampingan ketika manusia menggunakan AI sebagai alat untuk mencapai kemaslahatan, sekaligus tetap menjaga “perjalanan vertikal” (spiritualitas) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.







