Oleh: Dr. H. Abu Anwar, M.Ag (Rektor IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(Qs.al-Baqarah:183)
Puasa, sebagai rukun Islam yang keempat, berfungsi melatih diri bagi ummat Islam untuk menahan lapar dan dahaga. Dalam realita kehidupan menyingkap suatu fakta lain yang menarik bermula dari temuan Ahli biologi sel asal Jepang, Dr. Yoshinori Ohsumi, tentang sistem autofagi (Autophagy). Melalui penelitiannya Dr. Yoshinori Ohsumi mendapat penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 2016. Menurtnya, autofagi sebagai sebuah proses dekomposisi sel-sel yang stres karena tidak mendapatkan asupan nutrisi. Ketika stres itulah sel tersebut memakan dirinya sendiri. Autofagi (berasal dari bahasa Yunani yang berarti “memakan diri sendiri”) adalah mekanisme alami tubuh untuk mendaur ulang komponen seluler yang rusak, tua, atau tidak berfungsi. Proses ini krusial untuk menjaga keseimbangan seluler (homeostasis), seringkali dipicu saat stres sel, kelaparan, atau puasa, di mana sel memakan bagian-bagian yang tidak penting untuk bertahan hidup.
Bagian yang dimakan oleh sel itu merupakan bagian-bagian yang rusak atau tidak diperlukan dalam tubuh mansia. Komponen tersebut kemudian didaur ulang dan dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi untuk memperbaiki sel. Lalu, sel tersebut akan menjadi baik.
Itulah implikasi dari penemuan Dr. Yoshinori Oshumi. Seluruh rangkaian tersebut, ditemukan pada saat berpuasa. Itu jelas menjadi adanya dalam ajaran dari Islam.
Pada saat yang sama, juga berlaku pada umat-umat sebelumnya. Firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 183 memiliki makna bahwa ibadah puasa bukan mengajarkan mengenai haus dan lapar, tetapi mengandung pengajaran sarat makna di dalamnya. Dalam konteks ini juga untuk memberikan dampak sehatnya fisik kita, sehatnya sel-sel kita.
Berikut ini penjelasan mengenai hasil penelitiannya terkait puasa.
- Proses Autofagi
Autofagi adalah mekanisme pembersihan sel di mana sel-sel tubuh memecah dan mendaur ulang komponen yang rusak atau tidak berguna.
Proses ini membantu tubuh membersihkan racun dan memperbarui sel untuk menjaga kesehatan tubuh.
- Puasa dan Aktivasi Autofagi
Penelitian Dr. Ohsumi menunjukkan bahwa proses autofagi diaktifkan saat tubuh tidak menerima asupan makanan selama beberapa jam, biasanya setelah 8 hingga 12 jam berpuasa.
Saat tubuh kekurangan energi dari makanan, ia mulai menggunakan cadangan energi dari sel-sel yang rusak, sehingga mempercepat regenerasi sel baru.
- Manfaat Kesehatan
Proses ini memiliki berbagai manfaat kesehatan, di antaranya:
- Mencegah penyakit degeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson. Penyakit Alzheimer adalah gangguan neurodegeneratif progresif, penyebab paling umum dari demensia, yang merusak sel otak sehingga menyebabkan penurunan fungsi kognitif, daya ingat, kemampuan berpikir, dan perubahan perilaku. Umumnya menyerang lansia di atas 65 tahun, penyakit ini ditandai dengan penumpukan protein amiloid di otak.
- Memperlambat penuaan.
- Memperkuat sistem kekebalan tubuh.
- Mengurangi risiko kanker.
- Menjaga kesehatan jantung.
- Puasa Intermiten
Dr. Ohsumi juga menyatakan bahwa metode puasa intermiten (intermittent fasting), di mana seseorang tidak makan selama 8-16 jam, sangat efektif dalam merangsang autofagi. Metode ini semakin populer di seluruh dunia karena dianggap sebagai cara alami untuk memperbaiki kesehatan tanpa obat-obatan.
Sehinnga menurut Dr. Yoshinori Ohsumi sistem autofagi ini dapat membantu tubuh membersihkan dan mencegah dari berbagai penyakit, seperti kanker. Dengan kata lain, bahwa ibadah puasa benar-benar memberikan manfaat (maslahat) yang amat banyak untuk tubuh manusia.
Rasulullah bersabda, “Shumu Tashihhu” (صُومُوا تَصِحُّوا), yang artinya “Berpuasalah, niscaya kamu akan sehat,” adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ath-Thabarani, dan Ibnu Sunni. Secara sanad, hadits ini dinilai dhaif (lemah) atau bahkan matruk (ditinggalkan) menurut sebagian ahli hadits seperti Syaikh Al-Albani, karena adanya perawi yang lemah dalam rantai sanadnya.
Penelitian Dr. Yoshinori Ohsumi membuktikan bahwa puasa, secara ilmiah, tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan dengan memperbaiki sel-sel tubuh secara alami.






