Edi Purnomo (Kabag AUAK IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Dalam hening malam dan dalam kesunyian aku dapatkan wejangan dari seorang `alim, dimana dengan kerendahan hati dia sendiri menyampaiakan bahwa ini semua meneruskan wejangan gurunya. Khawatir kehilangan beberapa wejangan berharga tersebut, segera aku abadikan dalam tulisan menjelang datangnya subuh. Bukannya berlibihan, namun saya merasa bahwa diri ini tidak se-dhobit dan tidak se-cerdas orang-orang yang diberikan Allah kelebihan untuk mengingat dan menghafal. Sebelum hilang dari ingatanku segera aku torehkan dalam file memori kumpulan catatan di laptop.
Banyak sekali nasehat mengajariku berfikir sederhana dalam menghadapi liku-liku kehidupan di tengah masyarakat dimana kita bergaul, bertetangga, berkomunikasi dan bersosial lannya.
Pertama;
Berhentilah berfikir berlebihan, karena sebatang besi bisa rusak karena karatnya sendiri. Jangan kau biarkan fikiranmu merusak dirimu. Tenanglah jangan terlalu cemas karena cerita hidupmu sudah ditulis oleh penulis skenario terbaik yakni Allah SWT. Percayalah setiap episud hidupmu memiliki maksud dan waktunya sendiri.
Nasehat di atas merupakan sebuah pengingat dan ungkapan agar kita selalu tenang bahwa Allah sudah mengatur segalanya dan pastinya harus kita yakini disetiap rencana Allah pasti membawa kedamaian pada setiap kecemasan yang kita alami. Sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Insyirah ayat 5 – 6, dua kali diulang “Fainna ma`al `Usri Yusra” (فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ ) “ Inna ma`al `u`sri yusra” (إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا) artinya maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.
Ayat di atas menekankan pentingnya sabar dan tawakkal, karena tidak ada kesulitan yang abadi dan pastilah Allah akan memberikan pertolongan kepada orang yang sabar dan tawakkal setelah diberikan cobaan. Pelajaran berharga dari nasehat tersebut (1) kekhawatiran yang kita alami akan menjadi ringan apabila kita menyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi pastilah merupakan ketentuan dan kehendakNya. (2) memang masa depan sudah tertulis, namun tetaplah fokus terhadap apa yang kita lakukan hari ini dengan tetap berserah diri kepada Allah.(3) jika kita mengahadapi sesuatu kita juga dapat mencari dukungan dengan berbicara tentang perasaan kepada teman, keluarga, atau pemuka agama yang dapat memberikan suatu kenyamanan dan perspektif yang berharga.
Kedua,
Untuk apa terdidik jika tak memiliki kesopanan , untuk apa dihargai jika tidak tau diri. Hidup jangan seperti pohon pisang, punya jantung tetapi tak punya hati.
Pernyataan tersebut merupakan refleksi filosofis yang sangat tajam dalam hal prioritas nilai-nilai dalam kehidupan bermasyarak dan sorotan gagasan bahwa pendidikan dan harga diri formal akan kehilangan esensinya jika tidak disertai dengan etika dan kesadaran diri. Secara sederhana pemikiran tersebut dapat kita ungkapkan bahwa (1) Kecerdasan dan pendidikan yang diperoleh seseorang yang semestinya menjadi kekuatan seseorang akan menjadi sebaliknya yakni menjadi kelemahan jika tidak dipergunakan dengan tanpa kesopanan, rasa hormat dan empati. Perlu diingat bahwa Integritas karakter dipandang sebagai kekuatan fundamental dalam interaksi sosial dari pada pengetahuan akademis.(2) Harga diri atau penghargaan yang kita dapatkan dari masyarakat akan tidak berarti jika kita tidak “tau diri” atau menyadari posisi dan bataan serta tanggung jawabnya dalam hubungan sosial karena pada hakekatnya “tau diri” merupakan bentuk refleksi diri dan kerendahan hati.
Kalimat tersebut adalah sebuah sindiran mendalam tentang pentingnya menjaga akhlak dan etika di atas ilmu atau kecerdasan, juga dapat dimaknai bahwa pendidikan tanpa kesopanan itu menjadi sesuatu yang sia-sia. Kepandaian atau pintaran dan status sosial yang disandang seseorang tidak ada artinya jika tidak diiringi budi pekerti, empati, dan kesadaran diri, karena pada hakekatnya kesadaran siapa dan bagaimana kita itu menjadi fondasi hidup bermasyarakat yang benar.
Pesan utama dari ungkapan di atas adalah Pendidikan dan kecerdasan harus diimbangi dengan akhlak mulia. Budi pekerti menjadi sebuah prioritas dari sekadar memiliki kepintaran, sehingga seseorang mempu menempatkan posisinya di masyarakat sebagai apa dan harus berbuat apa dan bagaimana. Ungkapan tersebut juga mengandung Nilai Kemanusiaan, artinya Hidup bermakna jika dilandasi hati nurani.Kalimat ini adalah pengingat kuat agar manusia tidak hanya fokus pada pencapaian intelektual atau materi, tetapi juga pada pengembangan karakter dan moralitas.
Ketiga;
Jangan pernah mencari benarmu sendiri tetapi juga carilah salahmu, karena jika kamu menemukan kesalahanmu maka benarkanlah dan akuilah salahmu itu. mulut manusia terkadang terlalu sempurna dalam mengoreksi tetapi selalunya terlalu bodoh dalam instrospeksi.
Dalam Syarah Riyadhush Shalihin, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menegaskan bahwa yang wajib bagi seorang insan adalah kembali kepada kebenaran,Karena hal ini lebih mulia di sisi Allah juga lebih mulia di sisi manusia, lebih selamat bagi jiwanya dan lebih bersih.( Syarah Riyadhush Shalihin, 3/ 537) Pustaka Imam Asy-Syafii.
Sifat manusia selalunya mengedepankan anggapan kebenaran dari dirinya sehingga menutup kebenaran yang dilakukan orang lain. Manusia biasa pasti tidak sempurna namun tidaklah mesti salah semua. Kelebihan dan kekurangan melekat pada manusia. Terkadang banyakpun kebaikan dan kelebihan seseorang jika dipandang dari sisi kebencian pastilah akan tertutup dengan kesalahan walaupun sedikit.
Keempat;
Harga diri yang paling utama : kalau orang menjauh kita tidak usah mendekat, kalau orang buang muka tidak usah menyapa, kalau orang tidak suka kita tidak usah memaksa untuk suka kepada kita. Silaturrahmi itu memang penting karena itu sebagian akhlak yang diajarkan Rasulullah, tetapi harga diri tetap dijaga.
Untaian nasehat di atas menjadi satu prinsip mengupayakan menjaga harga diri yang menekatkan akan pentingnya memiliki kesadaran bahwa persahabatan itu tidaklah bisa kita paksa. Orang lain menyukai diri kita biarkanlah datang dari lubuk hatinya dan bukan karena keterpaksaan. Prinsip ini mengajarkan kita untuk mengedepankan ketenangan ketika harga diri terabaikan ataupun ditolak. Prinsip ini setidaknya memiliki tiga tujuan, yang pertama, agar kita tidak larut dalam sakit hati yang berkepanjangan serta tidak kecewa. Kedua, Menunjukkan bahwa diri kita berharga dan tidak bergantung pada validasi orang lain.ketiga, sebuah ketegasan bahwa hubungan yang tulus antara satu dengan yang lain datangnya dari kedua belah pihak, bukan dari paksaan.
Menjauh kalau dijahui bukan berarti sombong, namun menghargai batasan dan tidak terlihat putus asa atau mengejar-ngejar seseorang yang sudah menarik diri atau sengaja memutuskan persahabatan. Begitu halnya jika orang tidak lagi menyukai kita, kita Tidak usah memaksa disukai artinya kita perlu menerima kenyataan bahwa tidak semua orang akan menyukai kita, dan tidak perlu berusaha keras mengubah perasaan orang lain untuk menyukai, karena sesuatu yang sia-sia menyakinkan orang yang sudah tidak menyukai.
Kelima;
Kita tidak perlu terpesona dan terlalu tertarik mengikuti gaya hidup siapapun, kita juga tidak usah perduli dengan omongan orang lain selamu cara yang kita pilih tidak pernah merugikan siapapun, kita harusnya tetap berjalan di jalan kita sendiri, orang lain hanya menilai tapi sejatinya hidup ini adalah tanggungjawab kita sendiri yang akan kita pertanggungjawabkan tidak hanya berakhirnya hidup di dunia namun sampai ke yaumul hisab.
Manusia diciptakan Allah telah dibekali potensi bahkan ketentuan yang beragam akan nasib, rizki, jodoh dan lainnya. QS. An-Najm ayat 39 menegaskan bahwa seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dalam QS. Al-Qamar ayat 49 ditegaskan bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (ketentuan). QS. Adz-Dzariyat ayat 49 memberi penjelasan bahwa segala sesuatu ciptakan berpasang-pasangan agar kita selalu mengingat kebesaran Allah. QS. Ar-Ra’d ayat 11 menjelaskan Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.
Karakteristik diri merupakan Otentisitas atau keaslian. Ungkapan di atas merupakan pentingnya menjadi diri sendiri daripada meniru orang lain. Satu dengan yang lain tidak bisa dibandingkan. Sikap percaya dengan diri sendiri dan kesadaran diri dengan tidak memiliki kecemburuan atas keberhasilan yang diperolehi orang lain merupakan upaya menjaga kesehatan mental agar tetap tumbuh sebuah kepercayaan akan kemampuan diri sendiri.
Pesan kelima ini mempromosikan ketahanan (Resiliensi) terhadap opini dan tekanan sosial, yang merupakan bagian penting dari kecerdasan emosional.juga menjadi penekanan yang kuat pada etika pribadi, yang menyatakan bahwa selama pilihan Anda tidak merugikan orang lain, pilihan tersebut dapat dibenarkan.
Keenam;
Semua ucapan kita adalah doa, maka katakanlah dalam hati, saya harus memilih kata-kata baik untuk diriku sendiri. maka ucapkanlah bismillah untuk mengatakan tubuh ini sehat, jiwa ini tenang dan bahagia, tubuh ini kuat dan selalu diberkai Allah, saya semangat dan saya termasuk hamba Allah yang selalu beruntung dalam hal apapun, maka sejatinya yang saya inginkan adalah dapat berbuat baik kepada siapapun hingga berakhirnya kehidupan. Keinginan dan hasratku akan kebahagiaan tetap selalu ingin ku gapai/raih agar aku tidak kehilangan rasa syukur atas apa yang telah Allah berikan. Keberuntungan yang aku inginkan bukankanlah hanya keuntungan yang disebabkan keberpihakan duniawi dengan berlimpahnya rizki dan harta benda tetapi karena Allah selalu menuntun di setiap langkah dan gerakku.
Nasehat keenam dapat kita petik bahwa setiap usaha atau pekerjaan apapun niat untuk kebaikan awali dengan bismillah (dengan Nama Allah). Iringan doa akan menuntun kita untuk keberhasilan yang kita inginkan, namun tetap berserah terhadap apa yang menjadi ketetapanNya. Jangan pernah pesimis dengan apa yang akan kita capai, sandarkan semuanya kepada Allah, karena semua ucapan untuk diri kita sendiri adalah menjadi doa. Keselamatan, Kesehatan, kekuatan, ketenangan, kebahagiaan semuanya hak Allah, tidaklan kita berharap hanya kepadaNya.Bersyukur tidak hanya dengan mengucapkan al-hamdulillah, tetapi harus kita barengi dengan bukti atau implentasi perbuatan baik kepada sesama maupun makhluk lainnya.
Allahu a`lamu,






