Oleh : Samsul Nizar
(Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Secara bahasa, aksesoris berarti “barang pelengkap yang digunakan untuk memper-cantik atau menyempurnakan penampilan diri”. Eksistensinya sebatas media agar tampilan (lahiriyah) terlihat sempurna. Meski sifatnya temporer dan sementara, tapi manusia berlomba-lomba memiliki-nya. Bila aksesoris yang dipakai secara alami (sederhana), maka menampilkan ke-indahan. Tapi, bila over aksesoris (kemu-nafikan), justeru memperlihatkan begitu banyak kelemahan yang ingin ditutupi. Kelemahan tersebut membuat hadir ketidakpercayaan yang membelenggu. Sebab, begitu banyak sisi keterbatasan, dosa, dan perilaku sumbang yang tak terkendali. Untuk itu, diperlukan kumpulan aksesoris “tipuan” yang begitu aneh, norak, dan menggelikan.
Secara umum, aksesoris sederhana pada area interaksi sosial bisa dimaklumi. Sebab, manusia merupakan makhluk yang ingin tampil elegan. Tapi, bila aksesoris ke-salehan bertujuan menutupi kemunafikan, maka wujud ibadah “aksesoris” merupakan kebatilan yang nyata. Sebab, kesalehan yang ditampilkan sebatas tipuan (vertikal-horizontal) untuk menutupi kesalahan. Akibatnya, wujud ibadah yang ditampilkan acapkali bertolak-belakang dengan realitas perilaku. Ternyata, rangkaian ibadah hanya tampil sebatas menutupi kejahatan yang disembunyikan. Allah saja ditipu, apalagi sesamanya. Ia lupa sabda Rasulullah ﷺ mengingatkan : “Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian” (HR. Muslim).
Di antara fenomena tergelincirnya manusia akhir zaman ke lembah “ibadah aksesoris” terlihat pada tampilan ibadah, termasuk ketika memperingati isra’ dan mi’raj. Setiap tanggal 27 Rajab, umat Islam seluruh dunia memperingati isra’ dan mi’raj seba-gai peristiwa agung ketika Allah memper-jalankan Rasulullah ﷺ untuk menjemput perintah shalat. Hal ini dinyatakan melalui firman-Nya : “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami per-lihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. al-Isra’ : 1).
Peristiwa isra’ dan mi’raj dibenarkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, para sahabat, dan pemilik iman. Tapi, bagi pemilik iman “transaksional“, peringatan dan ajaran agama terkesan “dipersendaguraukan”. Ia diimani dan agenda rutin, tapi sebatas “aksesoris” untuk memamerkan kesalehan semu. Rangkaian aktivitas ritual tanpa faktual. Akibatnya, isi isra’ dan mi’raj tak terimplementasi dalam kehidupan.
Paling tidak, ada beberapa indikasi peringatan isra’ dan mi’raj sebatas agenda aksesoris (rutinitas) dan ritual tanpa faktual, antara lain :
Pertama, Idealnya, peringatan isra’ mi’raj bertujuan memperkuat keimanan atas Kemahakuasaan Allah. Namun, ada kala-nya peringatan tersebut sebatas “rutinitas” keagamaan yang tak berkorelasi dengan perilaku (amaliah) nyata. Fenomena ini mengindikasikan –secara substansi– pe- ringatan isra’ mi’raj sebatas seremonial. Khabar yang dilihat oleh Rasulullah melalui isra’ dan mi’raj hanya mengantarkan kerinduan sesaat dan harap surga tanpa keinginan untuk “meninggalkan” perilaku penghuni neraka. Tampil elegan dengan aksesoris –ketika divonis “pesakitan”– kesalehan, tapi realitanya senang melakukan kezaliman dan berbagai kemungkaran secara berulang. Semakin berulang peringatan isra’ mi’raj diikuti seirama usia bertambah, semakin rutin pula kemungkaran dilakukan (tiada henti).
Kedua, Dalam kajian ilmu tauhid, Allah ﷻ memiliki sifat wajib dan sifat mustahil. Fenomena perilaku manusia akhir zaman justeru mengedepankan sifat mustahil dan meninggalkan sifat wajib bagi Allah-Nya. Sungguh perilaku kesyirikan yang nyata.
Ketika peristiwa isra’ dan mi’raj menjelas-kan nikmat surga dan siksa neraka, seyog-yanya manusia termotivasi meraih dan ber-harap surga-Nya. Tapi, realitanya manusia –seakan– justeru memilih neraka. Padahal, kisah isra’ dan mi’raj yang diperingati agar ingat dan dipahami secara baik. Nyatanya, kisah isra’ mi’raj hanya cerita dongeng atau sekedar peringatan yang tak jadi pedoman (acuan) dalam kehidupan.
Secara logika –sadar atau tak sadar–feno-mena perilaku di atas menjelaskan sifat manusia yang tersembunyi dan disem-bunyikan, yaitu : (1) meragukan kebenaran isra’ mi’raj. (2) meragukan kebenaran ayat-Nya yang diperlihatkan pada peristiwa isra’ mi’raj. (3) meragukan hari pembalasan (yaumil hisab). Buktinya, tak tergambar ketakutan ketika melakukan kesalahan. (4) menantang atau mempermainkan Allah dan Rasul-Nya. Seakan, semua kesalahan begitu mudah diampuni melalui taubat yang –nanti– dilakukan. Sikap ini menjadi-kan manusia memaksimalkan berbagai kejahatan dan keserakahan. (5) menjadi-kan “atribut agama” –berikut aksesoris– sebagai tempat “persembunyian” yang aman melakukan kejahatan. Seakan, Allah tak tau dan bisa ditipu dengan amaliah “kemunafikan” (transaksional).
Semua fenomena kemunafikan dalam ber-agama di atas semakin nyata. Begitu aktif melaksanakan peringatan isra’ mi’raj, tapi perilaku bak penghuni neraka. Kezaliman jadi kelaziman, kemunafikan jadi kebiasa-an, transaksi (negosiasi) jadi tradisi, kebohongan jadi kebanggaan, kebiadaban jadi acuan, dan varian lainnya. Akibatnya, praktik korupsi, kolusi, negosiasi dan tran-saksi, nepotisme, kezaliman, kemunafikan, menjual dan mencampuradukan agama (sinkretik), berikut varian perilaku penghuni neraka justeru menjadi pilihan utama yang ditradisikan. Padahal, semua akibat telah diperlihatkan melalui isra’ dan mi’raj.
Meski Allah telah mengingatkan akibat apa yang dilakukan, tapi tak membuat manusia takut. Padahal, Allah telah meng-ingatkan melalui firman-Nya : “Dan barang-siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS. an-Nisa’ : 115).
Ibnu Katsir menjelaskan ayat di atas seba-gai bentuk bahaya yang besar bila hamba menentang Allah dan Rasul-Nya. Setelah jelas kebenaran disampaikan, tapi manusia tetap memilih mengikuti jalan kesesatan. Untuk itu, ia akan dimasukkan dalam kerak neraka jahanam sebagai tempat kembali yang terburuk.
Dalam ilmu tauhid, ketika manusia ber-ibadah, seyogyanya memunculkan ke-ikhlasan, bukan kemunafikan apalagi mempermainkan-Nya. Hal ini diingatkan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu” (HR. Bukhari dan Muslim).
Fenomena perilaku manusia akhir zaman justeru bertolakbelakang dengan hadis di atas. Setiap aktivitas ibadah selalu dijadi-kan objek yang diunggah untuk memper-lihatkan kesalehannya di media sosial. Seakan, ibadah bukan untuk Allah, tapi untuk dinilai (dipuji) oleh sesamanya. Sedangkan, semua aktivitas kemungkaran selalu disembunyikan, seakan Allah tak melihat apa yang dilakukan. Berbagai balutan aksesoris lahiriyah dan retorika kesalehan dijadikan alat untuk menutupi kemungkaran. Padahal, semua perbuatan tak luput dari pengetahuan-Nya.
Ketiga, “Mendustakan” berita kehidupan di alam barzakh (kubur), Padang Mahsyar, mizan, shirat al-mustaqiem, surga, dan neraka yang begitu nyata. Seakan, ia hidup abadi tanpa akhir. Meski lisan begitu fasih menjelaskan isi isra’ mi’raj, tapi didustakan dalam wujud perilaku kemungkaran.
Ada 3 (tiga) tipikal manusia menyikapi kebenaran isra’ mi’raj, yaitu : (1) tipikal Abu Bakar ash-Shiddiq. Membenarkan secara imani dan diamalkan (totalitas). (2) tipikal Abu Jahal dan Abu Lahab. Menolak isra’ mi’raj sebagai berita bohong. (3) tipikal Abu Ubay (munafik). Tampilan –umum– layaknya manusia beriman, tapi perilaku mungkar. Memperingati isra’ dan mi’raj bak penghuni surga, tapi hati dan perilakunya wujud penghuni kerak neraka jahannam.
Berangkat ketiga tipikal di atas, seyogya-nya setiap diri merenungkan firman-Nya : “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa mengerja-kan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula” (QS. al-Zalzalah : 7-8).
Ayat di atas mengingatkan agar manusia tidak meremehkan semua perbuatan (baik dan buruk) sekecil apapun. Sebab, semua akan dicatat dan memperoleh balasan.
Sungguh, peristiwa isra’ dan mi’raj men-jelaskan nilai kebaikan (surga) dan nilai kejahatan (neraka). Meski setiap tahun diperingati dengan suka cita, tapi belum tentu dipedomani dalam realita kehidup-an. Melalui isra’ dan mi’raj, Allah menjelas-kan nilai kebaikan dan keburukan. Namun, manusia acapkali mengingkari. Meski kebaikan dan keburukan senantiasa berpasangan, tapi semua tergantung pada kualitas iman. Apakah ingin menjauhi keburukan atau justeru melestarikannya sebagai “profesi” yang disenangi (hobi). Anehnya, pemilik “tradisi kemungkaran” acapkali dipuja, dihormati, dan diberi posisi. Akibatnya, kezaliman dan kemu-nafikan tumbuh subur dalam “etalase transparan”. Keamanannya selalu dijaga ketat oleh para penjilat dari kerak neraka. Sungguh fenomena karakter Fir’aun dan Namrudz akhir zaman. Manusia yang demi-kian bukan hanya menipu sesama, tapi –bahkan– begitu nyata menipu Allah dan Rasul-Nya (QS. al-Baqarah : 8). Ketika waktunya tiba, siksa Allah sangat pedih. Sungguh, isra’ dan mi’raj wujud bukti nyata bahwa akhir kehidupan adalah kepastian. Tapi, manusia acapkali kufur dan meng-ingkarinya. Peringatan isra’ dan mi’raj sebatas tampilan –rutinitas– “aksesoris”, tanpa berbekas pada karakter diri. Hanya kaya teori (kata), tapi fakir implementasi.
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.
Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 12 Januari 2026


