Oleh : Samsul Nizar
(Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Telah hampir dua minggu berlalu pertemu-an Presiden Prabowo (15 Januari 2025) dengan 1.200 pimpinan PT dan guru besar di istana negara. Sungguh, catatan sejarah monumental yang patut diapresiasi, meski belum menghasilkan ide yang besar yang fenomenal. Perhatian pada penambahan anggaran penelitian yang berujung aturan bahwa hasilnya harus termuat pada jurnal terindeks scopus.
Sungguh, jurnal scopus bagaikan “tuhan” administrasi yang terkadang –umumnya– menghantui finansial banyak kalangan. Se-cara teoritis, tujuan utama jurnal terindeks scopus sebagai acuan untuk menjamin kredibilitas, akurasi, dan kualitas referensi ilmiah dalam penelitian. Sebab, jurnal scopus menerapkan standar peer-review yang ketat. Melalui jurnal terindeks scopus, terjadi peningkatan rekognisi akademik, memperluas jejaring keilmuan, dan menjadi tolak ukur untuk kenaikan jabatan, akreditasi, serta pengajuan hibah penelitian. Padahal, realita yang muncul lebih pada nilai finansial. Akibatnya, eksistensi jurnal scopus tampil bak “primadona dan tambang emas” dunia modern. Sebab, publikasi di jurnal terindeks scopus –yang umumnya– berbayar dengan kisaran biaya antara USD 300 – USD 3.000. Padahal, tak semua insan akademik memiliki kemampuan finansial yang mumpuni. Meski ada segelintir jurnal terindeks scopus yang tak perlu biaya, tapi jenis jurnal ini hanya bisa diakses secara terbatas untuk pelanggan / pembaca yang membayar. Jurnal jenis ini biasanya me-miliki peminat yang sangat banyak, serta proses review yang lebih ketat dan lama.
Ruang “tambang emas” scopus bukan hanya menjadi incaran bagi segelintir oknum penulis ideal, tapi juga “penulis berbayar” menjajakan jasa, penerjemah (translator) “berbayar”, penerbit berbayar, reviwer berbayar, dan ada pula sekedar numpang nama (“penumpang gelap”) tanpa nulis dan tanpa bayar. Bahkan, tak sedikit penulis yang telah “tertipu” oleh jurnal scopus. Ketika awalnya jurnal tersebut terindeks scopus, tapi pasca pelunasan pembayaran dilakukan, ternyata jurnal mengalami discontinue. Bila hal ini terjadi, tak ada pihak yang peduli.
Kebijakan atas jurnal terindeks scopus perlu dianalisa secara bijak dan mencer-daskan. Mungkin pada bidang ilmu ter-tentu (terapan) bisa dijadikan syarat untuk pengembangan ilmu dan teknologi masa depan. Tapi, tak semua bidang ilmu perlu dipublikasikan melalui jurnal scopus. Sebab, sebuah karya diukur pada manfaat yang diberikan dan kebenaran yang disam-paikan, bukan sebatas casing tapi tak pernah memberi manfaat bagi peradaban, bahkan tak pernah dibaca dan dijadikan rujukan. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian lebih cermat dan terukur atas kebermanfaatan menjadikannya sebagai acuan. Ukuran sederhana bisa dilihat dengan membandingkan jumlah pembaca atas tulisan jurnal scopus dengan karya ilmiah dalam bentuk buku sebagai sumber rujukan. Hal ini bisa dilihat pada google scholar tulisan penulis pada kedua jenis publikasi yang terkadang tak relevan dengan biaya besar yang dikeluarkan.
Agaknya, Presiden Prabowo perlu meng-agendakan pertemuan jilid ke-2 dengan para akademisi kritis tanpa “kepentingan”. Sebab, pertemuan jilid ke-1 belum sempat membicarakan dan menghasilkan ide cerdas bagi penyelesaian akar masalah yang terjadi di lembaga pendidikan tinggi. Sebab, masalah yang ada begitu rumit dan berkelindan. Mungkin tak perlu menghadir-kan “guru yang besar-besar“, tapi undang-an cukup para pemilik kecerdasan dan kepedulian yang besar untuk diajak berfikir dan mencari solusi cerdas bagi peradaban masa depan negeri ini.
Sungguh, sejarah kemajuan peradaban Islam abad pertengahan membuktikan kemajuan ilmu pengetahuan tanpa perlu scopus. Para ilmuan menulis buku (kitab) berkualitas dengan hasil yang berkorelasi dengan adab si pengarangnya. Bahkan, ilmuwan muslim rentang abad 8-15 M telah mencapai puncak kejayaan dalam berbagai bidang keilmuan dan mampu menjembatani ilmu pengetahuan kuno dengan modern. Mereka menawarkan ilmu pengetahuan yang “mengguncang dunia” tanpa scopus. Mereka melakukan penelitian dan hasilnya dibukukan. Bahkan, karyanya mampu menjadi rujukan utama sepanjang masa. Di antara tokoh tersebut antara lain : Al-Khawarizmi (aljabar/algoritma), Ibnu Sina (kedokteran), al-Zahrawi (bedah), Ibnu Al-Haytham (optik), serta Al-Jazari (robotika/mekanik), Jabir bin Hayyan (kimia), Ibnu Khaldun (Sosiologi), dan lainnya. Kualitas keilmuan mereka mampu menjadikan Baghdad dan Andalusia sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia.
Para ilmuan di atas tak pernah menjadikan karyanya sebagai ilmu ekslusif. Semua ka-langan bisa membaca buah kecerdasan yang diinfakannya. Sebab, mereka sadar bahwa “meski sejarah bisa menghapus namanya, tapi tak mampu menghapus karyanya”. Karya ilmu pengetahuan tanpa perlu publikasi, tapi selalu diapresiasi.
Ada beberapa wujud kehadiran kebijakan jurnal terindeks scopus sebagai acuan justeru menjadi persoalan, antara lain :
Pertama, Jurnal terindeks scopus merupa-kan publikasi dan rujukan ilmiah berbayar (open access) yang menempatkannya begitu exclusive dan expensive. Untuk itu,
perlu dikaji ulang penerapan kebijakan jurnal scopus sebagai syarat tunggal keilmuan dan administrasi. Apakah semua tulisan yang dimuat pada jurnal terindeks scopus akan/telah memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu oleh ilmuan seaudahnya. Berapa prosentase kontribusi peradaban yang dihasilkan oleh tulisan yang dimuat dalam jurnal terindeks scopus telah berkorelasi bagi bangunan peradaban dengan biaya yang dikeluarkan agar tulisan bisa diterbitkan. Perlu kajian mendalam sebelum kebijakan diberlaku-kan atas dampak ekonomis, manfaat praktis, dan tingkat kejujuran (adab) ketika tulisan diterbitkan pada jurnal terindeks scopus. Atau tulisan pada jurnal terindeks tapi hanya sebatas publikasi pelengkap administrasi semata, tanpa berani melaku-kan analisa dan pengembangan nyata. Sungguh, kebijakan penulisan di jurnal terindeks scopus memungkinkan terjadi pergeseran kemurnian dan keikhkasan menulis karya ilmu pengetahuan. Seyogya-nya karya ilmiah ditulis karena Allah dan Rasul-Nya untuk memperkenalkan kebenaran-Nya. Namun berpotensi bergeser sebatas nilai kepentingan administrasi dan publikasi.
Dalam sejarah peradaban Islam, setiap karya ulama selalu diminta agar bisa diterbitkan. Bahkan, khalifah al-Ma’mun (Abdullah al-Ma’mun bin Harun al-Rasyid) begitu menghargai karya atau buku ilmu pengetahuan dengan timbangan emas seberat buku tersebut. Di sini terlihat begitu tinggi adab atas ilmuan dan ilmu yang ditulis. Adab ini menghantarkan ke-berkahan ilmu bagi penulis dan pembaca-nya. Dengan demikian, penulis tak sekedar menulis “pelepas tanya”, tapi benar-benar menulis ilmu yang bernas. Namun, era ke-bijakan jurnal scopus justeru penulis me-minta agar tulisannya diterbitkan. Padahal, ilmu adalah amanah untuk disebarkan, bukan sebagai “komoditas transaksional”. Untuk itu, Allah telah mengingatkan dalam QS. al-Baqarah : 41.
Kedua, Kebijakan jurnal terindeks scopus juga tampil pada program SISTER (Sistem Informasi Sumber Daya Terintegrasi) seba-gai unsur BKD (Beban Kerja Dosen) yang berfungsi sebagai platform digital resmi. Platform ini dipersiapkan untuk meren-canakan, melaporkan, dan mengevaluasi kinerja Tridarma PT (pendidikan, peneliti-an, pengabdian), serta tugas penunjang lain. SISTER menjadi basis data utama untuk memvalidasi pemenuhan beban kerja, syarat sertifikasi dosen, dan pengajuan angka kredit. Akibatnya, keberhasilan menanamkan ilmu dan adab menjadi kurang diutamakan (terlupakan). Sebab, tuntutan penyelesaian dan pemenuhan tugas sebatas administratif yang begitu menyita waktu dan finansial, bukan secara sub-stantif (transformasi ilmu dan internalisasi moral).
Andai konseptor dan penentu kebijakan di atas –pada waktunya– kembali ke dunia akademik pasca tanpa status dan minus “fulus”, akankah mampu memenuhi dan melaksanakan semua kebijakan yang telah digariskan ?. Biarlah waktu yang akan men-jawab. Sebab, kebijakan perlu pertimbang-an komprehensif yang didukung oleh data dan fakta yang bisa dipertanggungjawab-kan. Rasulullah ﷺ pernah berpesan : “Barang siapa yang menyulitkan (orang lain), maka Allah akan mempersulitnya pada hari kiamat” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sebab, semua kebijakan bukan semata-mata mengejar popularitas atau ingin di-akui. Semua kebijakan akan dipertang-gungjawabkan di hadapan-Nya. Rasulullah ﷺ mengingatkan : “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan-nya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kebijakan yang menempatkan syarat tunggal acapkali menjadikannya tampil bak “tuhan”. Untuk itu, Allah menciptakan makhluk berpasangan agar tak merasa jadi “tuhan”. Meski tulisan tentang scopus pernah penulis sajikan, tapi tak ada yang peduli, apalagi memberi pengaruh bagi negeri. Penulis hanya bak burung pipit yang membawa setes air di paruhnya yang kecil untuk memadam-kan kobaran api yang membakar nabi Ibrahim AS. Tulisan ini hanya sebatas wujud ikhtiar penulis agar disaksikan Allah dan penghuni langit, meski tak pernah ada sambutan penduduk bumi yang terlalu sibuk dengan publikasi.
Mungkin zamannya manusia dipandang terhormat bila makan hotdog dan lupa nasi. Analogi sederhana bagi menggambar-kan upaya mengadopsi negara maju yang telah makmur secara finansial dengan budaya ilmu pengetahuan yang mumpuni. Jangan sampai “latah” dan lupa realita atas kondisi yang masih terjadi di negeri ini. Petiklah sejarah ilmuan tempo dulu. Ilmuan hakiki tak butuh dan sibuk minta dipublikasi, tapi kaya karya dan aksi.
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.
Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 26 Januari 2026


