Oleh : Samsul Nizar
(Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Dikisahkan, ketika semua hewan kebingu-ngan melihat api berkobar membakar nabi Ibrahim AS, hanya burung pipit yang tampil sigap membantu. Dengan sekuat tenaga, ia berulangkali mengambil air melalui paruhnya dan meneteskannya di tengah kobaran api. Meski upayanya tak mampu memadamkan api, tapi ia telah berupaya melawan kezaliman raja Namrudz.
Melihat apa yang dilakukan burung pipit, si cicak justeru tertawa sembari berkata : “wahai burung pipit, apa yang engkau lakukan adalah sia-sia. Mana mungkin air diparuhmu bisa memadamkan api yang menyala. Nabi Ibrahim tak akan bisa di-selamatkan”. Mendengar ucapan cicak, si burung pipit berkata, “memang benar dan aku sadar jika air yang kubawa diparuhku tak akan bisa mematikan kobaran api yang membakar nabi Ibrahim AS. Tapi, aku ingin Allah SWT dan penduduk langit menyaksi-kan bahwa aku telah berusaha menolong hamba dan utusan-Nya yang membawa ajaran kebenaran. Sebab, Allah tak melihat apakah aku berhasil atau gagal memadam-kan api, tapi aku berharap semoga Allah SWT menyaksikan upayaku memadamkan api (kezaliman) yang menimpa hamba-Nya yang mulia”. Demikian keteguhan hati si burung pipit dan kemunafikan si cicak.
Pada akhirnya, Allah SWT memperlihatkan kuasa-Nya dengan memerintahkan kobar-an api agar dingin dan menyelamatkan nabi Ibrahim. Hal ini sesuai firman-Nya : “Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim” (QS. Al-Anbiya’ : 69).
Kisah sederhana burung pipit dan cicak di atas mengandung pelajaran yang istimewa bagi manusia yang berakal. Adapun pelajaran tersebut antara lain :
Pertama, Burung pipit tak mau berpangku tangan. Ia tegas menegakan kebenaran dan tak membiarkan kesewenangan “merajalela”. Tamparan bagi manusia yang hanya “banyak teori” dan membiarkan kemungkaran terjadi di depan matanya. Sungguh, burung pipit telah mengimple-mentasikan sabda Rasulullah ﷺ : “Barangsiapa di antara kamu melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tanganmu (kuasa). Jika tidak mampu, maka dengan lisanmu (nasehat). Jika tidak mampu (juga), maka dengan hatimu, dan yang demikian adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).
Burung pipit mengajarkan manusia bahwa ketika kezaliman hanya sekedar dilihat tanpa usaha menghentikannya, maka berarti ia ikut membiarkan kezaliman terus berkembang biak. Meski hanya dengan paruhnya yang kecil, burung pipit berusaha ikut memadamkan api kezaliman. Demiki-an pula manusia, meski dengan upaya yang sederhana, ia berusaha mencegah kemungkaran. Walau upayanya dipandang sinis, diejek, dan dibenci oleh penduduk bumi, tapi apa yang dilakukan begitu mulia di mata penduduk langit. Sebab, ia telah berjihad di jalan Allah. Sebab, ia sadar bila kezaliman dibiarkan, maka ia ibaratkan seekor cicak. Apalagi bila ia ikut bersama melakukan kezaliman dan kejahatan, maka ia bagaikan para pembantu raja Namrudz.
Kedua, Cicak hanya bisa mengejek, men-cela, dan berpangku tangan ketika api membakar nabi Ibrahim. Bahkan, tanpa disadari dan secara sembunyi-sembunyi, cicak meniup api agar terus berkobar. Ia bukan hanya mematahkan semangat burung pipit untuk menolong memadam-kan api, tapi justeru ikut membantu meniup api agar kobarannya semakin besar. Sikap ini menunjukkan keberpihak-an cicak terhadap Raja Namrud yang zalim. Sikap yang demikian menghantar-kannya sebagai hewan yang fasik dan munafik. Begitu api padam dan nabi Ibrahim AS selamat, suara cicak begitu nyaring, seakan ia sang penyelamat dan tampil sebagai pahlawan. Sikap cicak ini bertujuan harap dipuji dan diberi “posisi”. Anehnya, karakter cicak terlihat pada sifat manusia munafik. Ketika kezaliman di depan mata, ia hanya berani berbisik dibelakang, tapi tak berani bila dihadapan. Bahkan, ia justeru ikut membantu dan meminta posisi tertentu. Ketika posisi telah diraih, mulutnya semakin terkunci. Diam tanpa berani “meluruskan” kejahatan agar posisinya terselamatkan. Bermodal-kan kemunafikan agar biaya yang ditanam bisa kembali. Sifat yang demikian telah dinukilkan Allah dalam firman-Nya : “Dan bila dikatakan kepada mereka : Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab : Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan” (QS. al-Baqarah : 11).
Menurut Imam al-Baidhawi, tindakan mem-buat kerusakan di atas dilakukan manusia munafik. Ia berupaya membuat tipu daya dan berkomplot dengan orang kafir. Mela-kukan aktivitas yang mengatasnamakan toleransi dan membuka rahasia kekuatan umat Islam. Pada waktunya, perilaku ini akan menyebabkan turun murka-Nya dan menimbulkan mafsadat di muka bumi.
Ketiga, Melokalisir kefasikan manusia “berkarakter cicak” agar tak berkembang. Sebab, eksiatensinya berpotensi memati-kan semangat menegakan kebenaran agar kezaliman mampu dipadamkan. Kefasikan dan kemunafikan cicak digambarkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : “Dahulu cicak ikut membantu meniup api –yang membakar– nabi Ibrahim AS” (HR. Bukhari).
Ternyata, sifat cicak bukan hanya mema-tahkan semangat hadirnya kebaikan, tapi diam-diam berkontribusi “meniup” api kezaliman agar terus berkobar. Sifat yang demikian perlu diwaspadai. Namun aneh-nya, pemilik watak cicak lebih disenangi oleh pemilik sifat yang serupa (bunglon). Sebab, ia pintar beradaptasi dan tampil memukau dengan “jubah” kesalehan.
Sungguh, kisah burung pipit dan cicak di atas mengingatkan manusia yang beriman bahwa ketika berhadapan dengan pilihan kebenaran dan kebatilan (kezaliman), maka akan tampil sosok manusia : (1) pemilik harga diri yang memilih keberpihak-an pada kebenaran. Mungkin usaha yang dilakukan tampak terlalu kecil seperti burung pipit, tapi Allah tetap menilainya kebaikan yang besar. (2) sosok manusia yang menjual iman dan harga diri dengan menjilat atau tumpukan pundi untuk mem-beli posisi. (3) tampil sosok manusia fasik dan munafik ala seekor cicak yang secara sembunyi (belakang layar) berpihak dan membantu kezaliman untuk mendapatkan “posisi aman”. Sosok cicak yang selalu merayap, melompat, dan berpindah dari rezim kezaliman Namrudz kepada rezim kezaliman lainnya. Untuk itu, tak berlebih-an bila Rasulullah ﷺ menyebut cicak sebagai “fuwaisiqah“, yaitu binatang kecil yang jahat dan berpotensi membawa mudarat atau bahaya. Hal ini diperjelas oleh Imam an-Nawawi yang mengatakan bahwa cicak termasuk hewan fasiq, yaitu hewan yang menimbulkan dampak negatif pada manusia. Sifat ini hadir pada diri manusia yang oportunis (tampil saleh menutupi salah), pandai memanfaatkan situasi, dan mudah beradaptasi (bunglon) untuk meraih keuntungan pribadi. Sifat ini dinyatakan oleh Rasulullah ﷺ : “Kalian akan menjumpai seburuk-buruk manusia, yaitu orang yang bermuka dua (oportunis), dia datang ke sini dengan satu sikap dan bila datang ke yang lain dengan sikap yang lain” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Melalui hadis di atas, terlihat jelas bahwa tabiat manusia munafik ala cicak merupa-kan sifat tercela dan dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai seburuk-buruk sifat. Anehnya, sifat ini justeru selalu muncul di tengah masyarakat sepanjang zaman. Tampil sosok manusia “masa bodoh” atas perilaku kezaliman dan hilangnya sifat kritis terhadap kemungkaran (meski terjadi di depan matanya). Sosok yang hanya peduli pada kepentingan diri, meski harus meniru cicak atau bunglon. Pemilik sifat ini sangat berbahaya. Sebab, pertanda ia tak lagi peduli terhadap kebenaran. Padahal, Rasulullah ﷺ telah berpesan : “Kalian harus memerintahkan kebaikan dan men-cegah kemungkaran. Bila tidak, maka Allah akan menjadikan orang-orang jahat di antaramu menguasai dan mencengkeram-mu. Andaikata orang-orang baik di antara-mu berdo’a untuk keselamatan, maka do’a mereka tidak akan dikabulkan” (HR. at-Tirmidzi).
Demikian tegas dan jelas hadis di atas. Tapi, manusia berkarakter cicak acapkali mengalahkan manusia berkarakter burung pipit. Akal pragmatis lebih dijadikan acuan dan pilihan utama. Padahal, ia tau bila semua yang dilakukan akan dipertang-gungjawabkan dihadapan Allah SWT. Hal ini berulang kali ditemukan dalam al-Quran, antara lain : QS. al-Isra : 34 (memenuhi janji), QS. al-Isra : 36 (pendengaran, peng-lihatan, hati, tindakan, dan niat akan diper-tanggungjawabkan di akhirat kelak), serta QS. al-Muddatsir : 38 (setiap diri bertang-gungjawab atas perbuatannya). Namun, semua ayat-Nya hanya sekedar dibaca tanpa dipahami, apatahlagi dijadikan acuan dan diamalkan. Sebab, hatinya telah tertutup (QS. al-Baqarah : 7). Sungguh, manusia begitu zalim (QS. al-Ahzab: 72).
Hanya segelintir kecil manusia mampu istiqomah dan menjaga amanah (QS. al-Maidah : 13). Tapi, nasibnya selalu dikucil-kan dan dizalimi (QS. al-An’am : 33). Akibat-nya, tak ada yang mau tampil menghenti-kan kezaliman dan kemungkaran. Padahal, semua fenomena kezaliman dan ayat-Nya begitu jelas. Seakan, semua potensi yang diberikan-Nya (potensi diri dan agama) sebagai alat kebenaran tak lagi digunakan.
Sungguh, pemilik sifat burung pipit yang berupaya mematikan api kemungkaran begitu langka dan hampir punah. Bila masih ada, ia akan dibenci dan dikucilkan. Sementara sosok cicak yang “membantu kezaliman” selalu meraih posisi, dominan dan berkembang “beranak-pinak”. Anehnya, sifat cicak kalanya menguasai hati manusia berilmu yang tergiur status yang rela menjual agama dan adab mulia.
Sungguh, nasib manusia bijak selalu di-benci. Sebaliknya, manusia jahil yang ber-karakter cicak justeru dipuji dan disenangi. Sebab, ia mampu tampil tanpa malu untuk melakukan “lompatan” kesalahan, kemuna-fikan, keserakahan, kesombongan, dan kezaliman di pentas sandiwara dengan topeng keshalehan. Mungkin, manusia tak lagi percaya pada janji-Nya. Kelak, pasti Allah buka aib hamba-Nya yang “menjual” agama yang awalnya mulia menjadi hina.
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.
Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 2 Pebruari 2026


