Oleh : Samsul Nizar
(Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Ketika asyik berjalan, tanpa disadari ada lobang besar menganga di depan. Seorang teman yang melihat bahaya tersebut mengingatkan dan menyadarkan adanya bahaya dihadapannya. Dengan peringatan yang disampaikan, si pejalan kaki bisa selamat dari terperosok dalam lubang yang begitu membahayakannya. Secara ideal, apa yang dilakukan teman yang telah memberi peringatan ketika bahaya akan –mininal– menerima ucapan terimakasih. Tapi, bila peringatan teman atas bahaya tersebut dinafikan dan dibenci, maka lobang yang curam dan menganga siap menelannya. Atau bila peringatan bahaya justeru dianggap “bentuk kebencian”, maka perlu ditelisik “kejiwaan dan akal” si pene-rima peringatan. Mungkin ada “kerusakan pada hati, tuli, atau kelainan jiwa” yang kronis dan patut diwaspadai. Mungkin ia “penderita mania” setiap dinasehati, di- peringatkan, dan benci kebenaran.
Fenomena kisah sederhana di atas mung-kin –awalnya– sebatas analogi fiksi, tapi begitu nyata dalam realita kehidupan. Realita yang terjadi justeru acapkali di luar nalar sehat (QS. az-Zumar : 9). Meski tujuannya untuk menyelamatkan, tapi kadangkala direspon penuh kebencian. Bahkan responnya bak makhluk tak beradab dan berakal (QS. al-Furqan : 44).
Dalam fenomena nyata, ada beberapa nilai nasehat dan kritik yang direspon “negatif” oleh si penerimanya, antara lain :
Petama, Nasehat dianggap ketidaksenang-an dan penghinaan. Setiap nasehat diang-gap akan “menurunkan harga diri dan statusnya” di mata koleganya. Sikap arogan yang demikian telah diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya :“Dan aku telah memberi nasihat kepada kalian, tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat” (QS. al-A’raf : 79).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelas-kan bentuk sikap kaum Tsamud yang me-nolak peringatan nabi Saleh AS. Akibatnya, Allah menurunkan azab berupa gempa dan petir yang melenyapkan kaum Tsamud. Si-kap sombong manusia yang menolah kebe-naran diingatkan berulangkali dalam bebe-rapa firman-Nya, antara lain : QS. Ali Imran : 104, QS. al-A’raf : 62 dan 68, serta QS. al-‘Ashr : 1-3. Namun, semua peringatan kebenaran acapkali diingkari.
Sungguh, Islam merupakan agama yang berisi nasehat. Hal ini disampaikan oleh Rasulullah ﷺ : “Agama itu adalah nasihat” (HR. Muslim).
Hadis di atas menjelaskan bahwa inti ajaran Islam adalah nasehat agar umat istiqomah dalam menjalankan hak Allah dan Rasul-Nya. Bahkan, Allah menasihati Rasulullah melalui teguran yang mendidik dan terjaga kemuliaannya. Hal ini ditemu-kan pada QS. ‘Abasa : 1-10, QS. al-Anfal : 67, QS. at-Taubah : 43, QS. al-Kahfi : 23-24.
Ketika hadis dan ayat di atas dianalisa se-cara filosofis, seyogyanya pemeluk agama sangat rindu dan berharap untuk mem-peroleh nasehat dan teguran. Ketika sikap pemeluk agama alergi nasehat, maka berarti membenci kebenaran dan tak memerlukan agama. Padahal, isi ajaran agama (Islam) berupa nasehat mulia. Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ melalui sabda-Nya : “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim).
Untuk itu, agar bijak menerima nasehat, Sayidina Ali bin Abi Thalib RA pernah berpesan, “Lihatlah (dengarkan) apa yang dibicarakan, jangan lihat (dengarkan) siapa yang bicara”. Pesan yang mengandung makna agar melihat dan mendengarkan pembicaraan (nasehat) yang berkualitas, bukan hanya melihat status si pembicara. Bisa jadi pesan kebenaran berasal dari “gembel” atau seorang yang dibenci, tapi isinya berkualitas intan berlian. Tapi, ke-banyakan manusia hanya peduli dan men-dengarkan kata “orang-orang sekitar ikat pinggangnya” atau pemilik status mulia. Padahal, bisa jadi isinya hanya kumpulan “kotoran (najis)” yang bisa mengundang celaka (mudharat), baik diri atau masya-rakat secara luas.
Kedua, Kritik yang berisi kebenaran dinilai bentuk kebencian, perlawanan, dan racun. Padahal, kritik merupakan upaya memberi peringatan dari pemilik kecerdasan, iman, dan kebenaran. Dalam Islam, kritik merupa-kan bentuk amar ma’ruf nahi munkar dan termasuk ibadah. Namun, kritik wajib disampaikan dengan adab yang baik (ikhlas, santun, dan berdasarkan bukti sahih), serta bertujuan memperbaiki, bukan menjatuhkan atau memecah belah. Kritik yang beradab pertanda ciri manusia berakhlak. Hal ini sesuai firman-Nya : “Maka berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat”(QS. al-‘Ala : 9).
Bahkan, al-Qur’an mencontohkan kritik (peringatan) terhadap kezaliman dan kesewenang-wenangan Fir’aun. Dalam al-Quran, kritik ini terulang sebanyak 74 kali atas kesombongan, kezaliman, dan perilaku tirani yang dilakukannya. Untuk itu, Islam membedakan antara kritik konstruktif (nasihat) dengan kritik yang berisi ghibah, kebencian, atau fitnah yang merusak. Bagi pemilik ilmu dan iman, kritik merupakan bagian muhasabah yang amat diperlukan. Tapi, bagi pengharap pujian, setiap kritik dianggap bentuk kebencian dan dikhawatirkan akan membuka kesalah-annya. Untuk itu, setiap pengkritik perlu disingkirkan. Namun, sikap ini membuat pembenci kritik semakin sering melakukan kesalahan demi kesalahan lainnya tanpa terkendali.
Ketiga, Pujian dinilai prestise dan prestasi yang membuka pintu kebahagiaan bagi si penerima. Manusia begitu senang bila dipuji, tapi tak pernah sadar bila tak ada nilai kepantasan baginya untuk dipuji. Puji kemunafikan begitu menggunung ketika “status dan kuasa” masih dimiliki dan ter-selip hasrat yang ingin diraih. Tapi, begitu status dan kuasa sirna atau harapan telah/tak bisa diraih, pujian berganti cercaan, hinaan, dan fitnah berkepanjangan.
Untaian pujian semu merupakan sifat manusia munafik yang didorong hawa nafsu (kepentingan). Sedangkan harap puji merupakan indikasi manusia lupa diri. Sebab, ia lupa bila pujian yang didapatkan berpotensi tumbuhnya penyakit hati (riya’, ujub, atau sum’ah) dan gangguan narsistik lainnya. Harap pujian membuat manusia rentan sombong (angkuh), memandang rendah orang lain, pamrih, dan lupa Allah. Sedangkan pemuji melakukannya karena “maksud” terselubung penuh kemunafikan. Untuk itu, Rasulullah ﷺ begitu mencela sifat dan perilaku yang demikian. Hal ini diungkapkan Sayidina Umar bin Khattab RA : “Kami diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ untuk menyiramkan pasir ke wajah orang-orang yang memuji (berlebihan)” (HR. Muslim).
Melalui hadis di atas, Rasulullah ﷺ meng-antisipasi umatnya agar terhindar dari ujub. Sebab, sifat ini akan menyebabkan manusia lupa diri. Namun, Islam memper-bolehkan pujian selama sesuai ajaran agama (kebenaran). Bahkan, Allah memuji Rasulullah ﷺ atas kemuliaan akhlaknya. Hal ini tertera pada firman-Nya :“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki budi pekerti yang agung” (QS. al-Qalam : 4).
Melalui ayat di atas, pujian dibolehkan. Bahkan, Allah memuji Rasulullah dan hamba-Nya yang berpegang teguh pada aturan-Nya. Allah memuji atas kualitas keimanan, akhlak, dan rindu hamba pada rahmat-Nya. Mereka merupakan hamba yang memperoleh keberkahan-Nya. Hal ini terungkap pada firman-Nya : “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. al-Baqarah : 5).
Menurut Ibnu Katsir, hamba yang meraih keberuntungan pada ayat di atas ketika mampu memiliki sifat yang tertuang pada ayat 1-4 (percaya ghaib, shalat, infak, iman pada Al-Qur’an dan kitab terdahulu, serta meyakini hari pembalasan). Mereka akan memperoleh hidayah dan petunjuk-Nya.
Sungguh, manusia merupakan makhluk yang lemah dan acapkali keliru (QS. an-Nisa’ : 28). Tapi, anehnya justeru enggan untuk diberi nasehat, kritik, dan peringatan. Sifat munafik antara ketidaksempurnaan di satu sisi, tapi merasa begitu sempurna di sisi lain. Ketika diberi nasehat, tapi suka membantah (QS. al-Kahfi : 54). Sebelum mendapat nikmat, munajat dan janji atas nama Allah. Tapi, begitu nikmat telah diraih, acapkali lupa diri dan ingkar janji (QS. Yunus : 12). Bak sifat Qarun yang tak tau bersyukur, kelak azab-Nya sangat pedih (QS. al-Qasas : 76-82). Pujian yang diperoleh bukan puji keikhlasan, tapi puji kemunafikan selama berada “di atas”. Ketika berada di bawah dan azab-Nya menimpa, pujian menggema berubah menjadi cibiran dan hinaan yang berkepanjangan. Begitu banyak i’tibar di-perlihatkan-Nya dalam kehidupan. Ketika nasehat tak dipeduli, kritik membuat alergi, pembawa kebenaran dibuli, pujian mem-buat lupa diri, dan berakhir “dijeruji besi”. Meski semua begitu nyata, namun acap-kali membutakan mata dan hati manusia oleh gemerincing pujian yang begitu nyaring memekakkan telinga kebenaran. Sifat nista ini bisa menimpa pada semua hamba-Nya. Tak peduli strata (kedudukan dan zuriyat), pemilik harta, titel berjejer, berilmu (sebatas teori), dan status sosial (alim) tinggi yang dimiliki. Bahkan, melalui berbagai status dan fasilitas yang dimiliki membuatnya terbuka peluang hanya rindu dan silau pujian, tapi alergi nasehat dan kritik. Ketika hal ini menjadi watak diri, maka sulit diperbaiki. Kelak, bila azab-Nya hadir, tak ada lagi gunanya penyesalan. Bak pepatah “nasi sudah menjadi bubur”. Para penasehat tak lagi ingin menasehati dan para pemuja tak terlihat lagi keber-adaannya. Tinggal diri memetik semua tanaman kesombongan dan kezaliman. Terlihat nyata karakter asli si pemuja yang hadir sekedar “penikmat madu”. Ketika madu telah kering, ia akan pindah dan menjilat –bak seekor anjing– dan menjual diri (hamba sahaya) pada pemilik madu lainnya. Sifat manusia fasik yang sulit disadarkan berulang kali diingatkan-Nya : “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?” (QS. ar-Rahman). Meski ayat demikian jelas, tapi manusia begitu jumawa (sombong) mengingkarinya.
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.
Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 13 April 2026



