Kepulauan Meranti – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Bina Desa Berkelanjutan Tahun 2026 IAIN Datuk Laksemana Bengkalis menggelar sosialisasi dan pelatihan pembuatan Teh Kulit Manggis Herbal “Merbah” bagi masyarakat Desa Meranti Bunting, pada Minggu (16/8/2026). Kegiatan ini merupakan wujud nyata dari program unggulan yang dikembangkan mahasiswa selama menjalankan pengabdian di desa tersebut. Produk ini lahir dari program unggulan bertajuk “Dari Manggis untuk Desa: Penguatan Ekonomi Kreatif dan Pemberdayaan Masyarakat melalui Inovasi Teh Kulit Manggis Herbal ‘Merbah’ Menuju Desa Berdampak dan Berkelanjutan di Desa Meranti Bunting”.
Program ini merupakan hasil kerja sama mahasiswa dari tiga dusun di Desa Meranti Bunting di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Prayugo, M.Si. Kegiatan ini sejalan dengan tema besar KKN 2026, “Mengabdi Sepenuh Hati: Harmoni dan Transformasi Sosial Desa yang Berdampak dan Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045”.
Desa Meranti Bunting dikenal memiliki potensi buah manggis yang cukup melimpah, terutama saat musim panen. Selama ini, pemanfaatan manggis di masyarakat masih terbatas pada konsumsi buah segar, sementara kulitnya kerap berakhir sebagai limbah organik yang belum dikelola secara optimal. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN melakukan observasi lapangan, wawancara, serta diskusi bersama pemerintah desa untuk memetakan potensi dan permasalahan yang ada. Dari proses tersebut, muncul gagasan untuk mengolah kulit manggis menjadi produk teh herbal dengan menerapkan prinsip zero waste, yaitu mengurangi limbah dengan mengubahnya menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Salah satu anggota kelompok KKN, Ahmad Adapi yang akrab disapa Dapi, menceritakan bahwa ide ini berawal dari hal sederhana yang selama ini luput dari perhatian warga.
“Awalnya kami melihat kulit manggis itu cuma dibuang begitu saja setelah dagingnya dimakan, padahal jumlahnya banyak sekali saat musim panen. Dari situ kami coba cari cara supaya kulit manggis ini punya nilai, tidak sekadar jadi sampah. Alhamdulillah, dengan dukungan masyarakat dan pemerintah desa, akhirnya bisa terwujud jadi produk Teh Merbah ini,” ujar Dapi.
Nama “Merbah” sendiri merupakan singkatan dari Meranti Bunting Herbal, dipilih sebagai identitas produk yang menegaskan keterkaitan antara hasil inovasi ini dengan desa asalnya.
Rangkaian kegiatan program dimulai dari sosialisasi kepada masyarakat, dilanjutkan dengan pelatihan pengolahan yang meliputi pemilihan dan pembersihan kulit manggis, proses pengeringan, peracikan teh, hingga pengemasan produk. Mahasiswa turut mendampingi masyarakat dalam pengembangan desain kemasan, pemberian label, serta pengenalan strategi pemasaran, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Seluruh tahapan ini melibatkan masyarakat Desa Meranti Bunting, khususnya kelompok perempuan atau PKK, pemuda desa, dan pelaku UMKM, sebagai bagian dari upaya pemberdayaan agar program dapat terus berjalan meski masa KKN telah berakhir.
Kehadiran Teh Kulit Manggis Herbal “Merbah” memberikan sejumlah manfaat, mulai dari peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah hasil alam, terbukanya peluang usaha baru berbasis potensi lokal, hingga berkurangnya limbah organik di lingkungan desa. Produk ini juga diharapkan dapat menjadi salah satu produk khas yang memperkuat identitas ekonomi kreatif Desa Meranti Bunting. Ke depan, keberlanjutan program akan didukung melalui penguatan kelompok pengelola, pengembangan variasi kemasan, perluasan pemasaran digital, serta kemitraan dengan pemerintah desa dan pelaku UMKM setempat.
Melalui program ini, mahasiswa KKN Desa Meranti Bunting berharap dapat meninggalkan lebih dari sekadar produk, tetapi juga pengetahuan dan semangat pemberdayaan yang dapat terus dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat.
Kelompok KKN Desa Meranti Bunting, Bina Desa Berkelanjutan 2026, IAIN Datuk Laksemana Bengkalis







