Oleh : Samsul Nizar
(Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Sebagai hamba-Nya, eksistensi ibadah merupakan keniscayaan. Sebab, rangkaian ibadah merupakan bentuk kesadaran diri sebagai hamba dihadapan Allah Yang Maha Besar. Untuk itu, ibadah hakikatnya merupakan kebutuhan hamba untuk me-nyadarkan diri lebih mengenal Rabb-nya. Hal ini tertuang pada firman-Nya : “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS. az-Zariyat : 56).
Menurut Ibn Katsir, sesungguhnya Allah menciptakan semua makhluk untuk ber-ibadah bukan karena Allah membutuhkan makhluk, tapi makhluk yang membutuhkan dan berhajat pada Allah. Pendapat ini diperkuat oleh Ibnu Juraij bahwa tujuan ibadah sebagai bentuk pengakuan kehambaan, upaya mengenal-Nya, dan menggantung-kan harapan. Untuk itu, Allah mengutus para nabi dan Rasul untuk menyampaikan risalah-Nya. Bahkan, Allah menciptakan semesta sebagai ayat-Nya untuk manusia. Hal ini sesuai firman-Nya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesar-an Allah) bagi orang yang berakal” (QS. Ali Imran : 190).
Ayat di atas merupakan dorongan agar manusia meneliti dan merenungkan alam semesta (saintifik) yang terintegrasi dengan dimensi spiritual. Bahkan, Ibn Katsir menegaskan bahwa penciptaan langit, bumi, dan pergantian siang-malam merupakan –di antara– tanda kebesaran Allah bagi ulul albab (berakal nan beradab).
Di antara sekian banyak ciptaan-Nya yang berkaitan dengan ibadah adalah perilaku kerbau. Melalui kerbau, manusia berakal akan berkaca atas karakter dan kualitas imannya, antara lain :
Pertama, Setiap kerbau dibersihkan oleh pemiliknya, ia tetap mencari dan kembali “ke kubangan” yang kotor. Agar kerbau “jinak dan patuh pada tuannya”, maka hidungnya akan ditusuk. Ketika manusia “dicucuk hidungnya”, maka hilang kemer-dekaan akal dan punah kebenaran oleh pengaruh kepentingan. Ia patuh bak kerbau yang bekerja untuk melayani keinginan tuannya “membajak sawah” menghasilkan pundi. Sebab, ia juga akan memperoleh “bagian” atas kesetiaannya. Tapi, si tuan tak peduli bila kerbau menyukai kubangan lumpur (kotor). Ketika kerbau mencari kubangan karena kelenjar keringatnya sedikit dan tidak tahan panas. Sedangkan manusia “main dilumpur kotor” karena “kelenjar kehewanannya” yang lebih dominan. Bila kerbau didorong oleh nafsu dan syahwat “kenikmatan” biologis, maka perilaku manusia pun demikian pula. Tak terpikir kotornya lumpur (dosa) dan lintah (hukum) yang akan menggigit dan menang-kapnya. Meski ketika ibadah jasmani dan rohani suci, tapi pemilik sifat kerbau akan melanjutkan kebiasaan mencari “kumbang-an lumpur” yang kotor dan bernajis.
Kedua, kerbau makan semua rumput tanpa peduli siapa pemiliknya. Bahkan, tanpa dosa mengumbar nafsu syahwat di depan umum. Sebab, ia makhluk tanpa akal dan rasa malu. Ia lebih mengedepankan nafsu biologis tanpa peduli terhadap lingkungan-nya. Anehnya, segelintir manusia meniru tabi’at kerbau. Menghalalkan segala cara untuk “mengenyangkan” nafsunya. Tak tersisa rasa malu, justeru bangga bila berhasil melakukan kejahatan di depan umum. Fenomena ini menempatkan pe-laku kesalahan dianggap “raja” dan pen-jaga kebenaran dipandang “rakyat jelata”. Akibatnya, para “pendosa” diagungkan dan jadi rujukan, pengkhianat diberi amanah, serta pelanggar hukum berbicara tentang dalil hukum (agama). Sungguh perilaku yang begitu memilukan dan menjijikan.
Ketiga, Tegak mengedepankan kepala di depan, tapi tanpa malu ketika mengeluar-kan kotoran dengan penuh “kebanggaan”. Hanya beda waktu dan tempat, tapi substansinya tetap kotoran dan bernajis. Berbeda dengan manusia ala kerbau. Ia meninggikan kepala (sombong) dan menyembunyikan kotorannya. Andai ada manusia yang memperlihatkan kotoran hanya waktu bayi atau hilang ingatannya.
Bila dianalisa fenomena biologis kerbau, terlihat berkorelasi dengan sifat manusia. Semakin tinggi kepalanya (sombong) dengan berbagai variannya, maka semakin banyak “kotoran” yang ingin disembunyi-kan. Padahal, Allah mencela manusia yang sombong (QS. Lukman : 18).
Fenomena sifat manusia yang cenderung bak kerbau telah diingatkan oleh Allah me-lalui firman-Nya : “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah” (QS. al-A’raf : 179).
Dalam beribadah, manusia seyogyanya bercermin pada ulat, bukan ular. Ketika ulat berganti kulit akan lahir kupu-kupu yang indah di pandang mata. Sementara, meski ular berganti kulit, ia tetap seekor ular berbisa dan mematikan. Demikian per-bedaan antara kualitas manusia beribadah sejati dan berbadah imitasi.
Ketika kerbau bergelimang lumpur karena biologisnya, tapi manusia “bergelimang ko-toran” karena hatinya yang rusak. Hal ini dinyatakan oleh Rasulullah ﷺ : “Ketahui-lah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati (qalbu)” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis di atas memperlihat analogi posisi hati bak raja, akal bak menteri, dan tubuh bak rakyat. Bila raja bijaksana dan menteri cerdas beradab, maka rakyat negeri jasmani akan berakhlak mulia. Namun, bila raja zalim dan menteri bodoh, maka rakyat negeri jasmani akan melakukan perilaku kemungkaran yang melanggar hukum. Semua tergantung pada setiap diri yang telah diingatkan Allah dalam firman-Nya : “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS. asy-Syams : 9-10).
Menurut Ibnu Katsir, jiwa disucikan dengan menaati Allah, membersihkannya dari akhlak tercela, dan mengisinya dengan sifat terpuji (ketaatan, ikhlas, dan jujur). Sedangkan jiwa yang kotor akan menutupi potensi kebaikan dan justeru menyuburkan perilaku kemaksiatan (kezaliman).
Namun, “kejahilan” manusia akhir zaman telah melampaui batas. Bak pepatah me-nyebut “bagai srigala berbulu domba”. Tampil anggun manusia sempurna, tapi perilaku melebihi hewan strata terbawah. Komunitas pemilik “kesucian jiwa” justeru dibenci dan disingkirkan. Sedangkan komu-nitas pemilik “jiwa yang kotor” –secara terang melakukan kriminalitas– justeru di-hargai, dihormati, dipelihara, dipercaya, dan dilindungi oleh pundi-pundi. Akibat-nya, jiwa yang kotor semakin terjerumus dan tenggelam dalam kemungkaran, syubhat, dan sulit meninggalkan kemak-siatan. Mungkin demikian gerak pilihan manusia akhir zaman yang ingin bebas melebihi hewan. Hanya mempertahankan tampilan wujud biologis, tapi tak peduli pada sisi “jiwanya” yang begitu tercela dan hina (QS. al-A’raf : 179).
Sungguh, ramadhan hadir untuk menyadar-kan dan menunjukan manusia arah jalan pulang pada agama-Nya. Namun, ada kala-nya petunjuk agama justeru dipermainkan. Rangakaian ibadah sebatas “menggugur-kan” kewajiban (syariat), tanpa mampu menemukan tujuan penghambaan sejati (hakikat), apatahlagi berbuah pada adab dan ketaqwaan yang hakiki (makrifat).
Jasmani bisa dipoles tampil menawan dan kata bisa merangkai kalimat seakan penuh kebaikan. Namun, kualitas dan kata hati (al-qalb) tak bisa dibohongi. Ia merupakan fitrah Ilahiah (tempat kesadaran) dan per-janjian (alam mitsaq) yang mengakui Allah sebagai Rabb-nya (ma’rifatullah). Hal ini diingatkan-Nya melalui QS. al-A’raf : 172. Namun, manusia yang jiwanya kotor justeru ingin “membohongi kebenaran hatinya” sendiri. Jika hal ini terjadi, maka semakin sulit ditemukan nilai kebenaran dari dirinya terhadap orang lain. Padahal, hati yang fitrah akan menemukan ketena-ngan saat mengingat Allah (QS. ar-Ra’d : 28). Sebaliknya, hati yang kotor akan resah dan keras, serta diterpa kegelisahan yang berkepanjangan (QS. al-Baqarah : 74).
Ketika berbicara hati, kerbau kadangkala lebih jujur dan tau balas budi. Setelah di-pelihara dan diberi makan, ia balas dengan kerja keras membantu tuannya. Sementara manusia, melebihi kerbau yang “dicucuk hidung” untuk meraih apa yang diinginkan, bahkan rela “menghambakan diri” untuk “tuannya”. Namun, setelah tercapai yang diinginkan, terlihat nyata sifat aslinya yang tersembunyi. Tegak sifat angkuh, khianat, zalim, munafik, dan lupa pada si penolong-nya. Mungkin manusia ingin melampaui kerbau yang tak memiliki perasaan dan “membungkuk untuk menanduk” setiap yang coba menghalanginya. Sosok muna-fik yang menyebabkan “tak ada perteman-an dan kesetiaan sejati, tapi kokohnya onggokan kepentingan yang akan abadi”.
Ibadah segogyanya menghantarkan setiap manusia lebih mengenal dan taat pada Allah dan Rasul-Nya. Namun, ketaatan yang hadir acapkali sebatas pelaksanaan dan tampilan. Begitu rangkaian aktivitas ibadah telah selesai dilaksanakan, maka manusia kembali mencari dan berendam dalam kubangan untuk menyejukan nafsu hewani bak kerbau. Sungguh, “ajakan ber-agama” terhadap diri perlu dilakukan secara berkelanjutan. Namun, manusia acapkali lupa dan hanya sibuk mengajak sesamanya, tapi membiarkan dirinya berperilaku melebihi kerbau. Jati diri ala manusia pilihan atau ala kerbau akan terlihat selama ramadhan, bahkan semakin nyata pasca ramadhan berlalu. Setiap pilihan sangat tergantung kualitas karakter diri. Semua akan terlihat meski ditutup rapat oleh barisan pendusta yang membela dengan topeng kemunafikan.
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.
Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 2 Maret 2026


