Oleh : Dr. H. Abu Anwar, M.Ag (Rektor IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Menjadi seorang pemimpin sekilas tampak menyenangkan. Namun, tak banyak yang menyadari betapa panjang dan terjalnya proses yang harus dilalui seseorang sebelum akhirnya dipercaya mengemban amanah tersebut.
Nabi Muhammad SAW adalah sebaik-baik teladan kepemimpinan. Sebelum memimpin umat, beliau melewati berbagai fase kehidupan yang menempa kepekaan sosial dan keimanannya: menjadi yatim piatu sejak kecil, ikut menggembalakan ternak bersama sang paman, gigih membela kaum yang terzalimi, hingga tekun mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pengalaman prihatin serupa juga dialami oleh para pemimpin penerus risalah beliau. Berbagai kesulitan hidup yang pernah mereka rasakan justru menjadi bekal empati terbaik ketika memegang tampuk kepemimpinan. Dari sinilah lahir dorongan kuat untuk membawa masyarakat keluar dari keterpurukan.
Kesadaran akan beratnya tanggung jawab ini tercermin dalam sejarah awal berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). Kala itu, tidak sedikit kiai yang justru merasa berat dan enggan ketika diminta menerima amanah sebagai pengurus jam’iyyah.
Bagi para ulama, setiap keputusan wajib berlandaskan hukum Islam dan kemaslahatan bersama. Kepemimpinan dan keputusan di tubuh organisasi tidak dirancang demi kepentingan politik praktis belaka, melainkan atas dasar pertimbangan keagamaan serta kebaikan jemaah (jam’iyyah).






