Oleh : Samsul Nizar
(Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Dikisahkan, pada suatu hari Syekh Abu Yazid al-Bustami melakukan perjalanan. Di tengah jalan, beliau berpapasan dengan seekor anjing. Karena khawatir anjing ter-sebut akan menyentuh pakaiannya, lalu be-liau mengangkat jubahnya. Melihat apa yang dilakukan Syekh al-Bustami –dengan izin Allah– si anjing berkata : “wahai Syekh, kenapa engkau mengangkat jubahmu ?. Apakah engkau takut tersentuh dengan tubuhku yang bernajis ?. Ingatlah wahai tuan, andai pakaianmu tersentuh najis tubuhku, engkau bisa mensucikannya dengan air sebanyak 7 (tujuh) kali dan salah satunya dengan tanah. Tapi, bila engkau mengangkat jubahmu karena merasa dirimu lebih mulia (suci) dan menganggap diriku lebih hina (najis), maka najis kesombongan yang menempel di hatimu tak mampu disucikan meski eng-kau basuh untuk mensucikannya dengan air 7 (tujuh) samudera. Semua air akan kering, tapi hatimu tetap kotor”.
Mendengar ucapan si anjing, Syekh Abu Yazid al-Bustami tersentak dan tertunduk malu. Ia sadar dan meminta maaf atas kesalahannya. Ia berharap agar si anjing mau bersahabat dan mau berjalan bersamanya. Tapi, si anjing menolak sopan ajakan tersebut dan berkata : “maaf, aku tidak mau. Sebab, nanti engkau akan malu, dicemooh oleh pengikutmu, dan mereka akan melempariku dengan batu. Semua orang menganggapku hina. Padahal, aku adalah hamba-Nya dan senantiasa berserah diri pada Allah yang menciptakan alam semesta. Lihatlah diriku yang serba kekurangan. Tak ada se-potong tulang yang kusimpan dan kubawa. Sementara engkau masih membawa sekarung gandum untuk dimakan”. Sifat mulia dari seekor anjing dengan nasehat berkualitas tanpa “pamrih posisi”, apalagi berharap kompensasi dan dipuji.
Setelah berkata, si anjing pergi berlalu meninggalkannya. Kini, Syekh al-Bustami tinggal sendiri sambil merenung apa yang dikatakan si anjing. Beliau sadar, ia telah diingatkan oleh seekor anjing atas sikap-nya. Seraya beliau bermunajat, memohon ampunan kepada Allah, “Yaa Allah, dihadapan seekor anjing saja aku tak lebih mulia. Bagaimana kelak aku dihadapan-Mu. Ampuni dan sucikanlah hatiku dari segala kotoran duniawi”.
Melalui kisah di atas, Allah menyampaikan pelajaran yang sangat berharga pada hamba-Nya yang terpilih, yaitu :
Pertama, Kesucian dan kesalehan bukan terletak pada tampilan aksesoris lahiriyah (jasmani, jubah kemuliaan, status, dan mu-lut manis), tapi pada hati yang suci dan ikhlas. Sebab, seekor anjing (Qithmir) diabadikan dalam al-Quran dan dijamin sebagai penghuni surga. Derajatnya ditinggikan-Nya karena kesetiaan menjaga ashabul kahfi (QS. al-Kahfi : 18). Menurut Ibn Katsir, ayat ini menjelaskan kesetiaan anjing menjaga hamba yang dimuliakan-Nya di depan pintu gua. Setiap ashabul kahfi membalikan tubuhnya, si anjing ikut berbalik. Seakan-akan ia selalu terjaga dan waspada menjaga hamba pilihan-Nya. Sementara segelintir manusia hanya “menjaga” bila ada kepentingan. Tapi, bila kepentingan sirna, ia akan menggigit sang penolong. Hal ini diungkap pada pepatah “bak menolong anjing terjepit”.
Kedua, Kebenaran bisa hadir dari mulut hamba yang dipilih-Nya, bahkan makhluk yang dipandang hina dihadapan manusia, tapi begitu mulia dihadapan-Nya. Sebalik-nya, meski mulia dihadapan manusia, tapi bisa jadi begitu hina dihadapan-Nya. Bagi manusia yang terhijab oleh hati yang kotor, ia tak mampu melihat “intan” dari mulut orang yang dibenci dan dimusuhi. Padahal, nasehatnya penuh hikmah dan berkualitas intan, tapi dianggap kotoran tak berharga. Sebaliknya, meski “kotoran” yang keluar dari mulut orang yang memiliki status dan politis (sanjungan), justeru dinilai intan dan vitamin menyehatkan seiring gema pujian.
Padahal, Sayidina Ali bin Abi Thalib RA pernah berpesan : “Lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan melihat siapa yang mengatakan.” Tapi, manusia yang merugi justeru “lihatlah siapa yang berkata dan statusnya, bukan apa yang dikatakannya”. Namun, sifat manusia begitu aneh. Padahal, ia makhluk berakal (QS. al-Isra’ : 70).
Ajaran Islam justeru sangat memuliakan nasihat dari orang pintar (berilmu, saleh, beradab, dan bijaksana) yang membawa kebenaran. Hal ini bukan hanya sebatas kewajiban saling menasihati, tapi jalan untuk memperbaiki diri agar terhindar dari kesesatan. Untuk itu, Allah melarang untuk menempatkan dan mendengar nasehat orang bodoh dan munafik. Hal ini dinyata-kan dalam firman-Nya : “…berpalinglah dari orang-orang bodoh” (QS. al-A’raf : 199).
Para mufasir menjelaskan makna ayat di atas sebagai bentuk larangan menjadikan orang bodoh dan munafik sebagai “imam”. Sebab, nasehat dan katanya tak memberi manfaat, melainkan hanya menambah masalah. Bahkan, kata dan perbuatannya acapkali bertolak belakang dengan realita.
Meski Allah begitu jelas mengingatkan ma-nusia, namun anehnya selalu diingkari. Untuk itu, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan : “Sesungguhnya Allah SWT membenci setiap hamba yang pandai dalam urusan dunia tetapi bodoh (ingkar *pen) dalam perkara akhirat” (HR. al-Hakim).
Meski ayat dan hadis di atas begitu jelas, tapi manusia jahil (ingkar) acapkali lebih mendahulukan dan menempatkan orang bodoh dan licik untuk berada disekeliling-nya. Pilihan ini mungkin disebabkan oleh beberapa alasan, antara lain : (1) agar si pengendali terlihat lebih pintar, unggul, dan bijaksana. (2) manusia bodoh lebih mudah diatur dan dikendalikan sesuai keinginan si pengendali, bahkan bisa menjadi “kambing hitam” agar “tangan pengendali” terlihat bersih. (3) membuka ruang bagi “penjilat” yang hanya pintar menguntai kata puji, tapi tak pernah berfikir untuk memberi solusi. Akibatnya, perilaku salah dianggap feno-mena yang lumrah, melanggar hukum jadi “maklum”, berbuat nista tak jadi dosa, dan “negosiasi” jadi tradisi. Sebab, semua yang dilakukan oleh “pengendali” selalu disambut tepukan gemuruh. Untuk itu, wajar bila banyak “pengendali” semakin leluasa melakukan pelanggaran dan ter-perosok pada kehinaan. Ia hanya silau oleh gemerlap pundi dan tersenyum bangga oleh taburan puji. Akibatnya, tak sedikit “pengendali” yang suka puji semakin lupa diri dan terjerembab di balik jeruji besi. Hal ini merupakan keniscayaan. Sebab, Rasulullah ﷺ pernah bermunajat secara khusus dalam doanya : “Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia” (HR. Muslim).
Meski tampilan sang “pengendali” begitu anggun dengan aksesoris kesalehan dan kesucian, tapi ia tak bisa menipu Allah dan Rasul-Nya. Hal ini diingatkan Rasulullah ﷺ melalui sabdanya : “Barang siapa yang menipu kami, bukanlah dia dari golongan kami” (HR Muslim).
Meski begitu jelas ancaman Allah dan Rasul-Nya, tapi semakin nyata berbagai kemungkaran yang “ditradisikan”. Sung-guh manusia benar-benar telah melampaui batas (QS. al-Maidah : 87). Berjanji atas nama Allah dan Rasulullah, tapi sebatas aksesories administrasi yang tak berkore-lasi perilaku. Semakin tinggi status, justeru semakin sombong dan jauh dari agama.
Ketiga, Allah menghadirkan seekor anjing yang berstatus hewan najis, tapi memiliki sisi sifat mulia untuk menyadarkan hamba yang dikehendaki-Nya. Anjing merupakan hewan yang setia dan memiliki karakter tau balas budi. Sebab, secara teoritis, ia termasuk hewan yang memiliki ingatan sosial kuat (mengenali dan taat perintah), ingatan episodik yang mampu mengingat peristiwa masa lalu, serta memiliki penciuman dan pendengaran untuk mengenali pemilik atau tempat tertentu. Sungguh, tak ada yang sia-sia dalam ciptaan-Nya. Allah beri kelebihan pada se-tiap hamba-Nya, meski seekor hewan. Hanya saja, manusia acapkali melupakan-nya (QS. Ali Imran : 191).
Meski anjing hewan yang najis, tapi ia tak pernah lupa terhadap perlakukan manusia terhadapnya (sosok penolong). Sedangkan pada segelintir manusia justeru –acapkali– lupa –karena sebongkah tulang– terhadap orang yang pernah menolongnya. Memang, seekor anjing tak pernah bisa menjadi manusia. Tapi, setiap manusia berpotensi melebihi sifat seekor anjing (QS. al-A’raf : 179). Mulutnya selalu “meng-gonggong” bila dibelakang, tapi diam bila berhadapan dan terisi penuh “makanan”. Padahal, posisi mulut di depan agar keluar kualitas kebenaran. Tapi, acapkali kata yang keluar berkualitas “pintu belakang”.
Sungguh, bila kisah yang dialami Syekh Abu Yazid al-Bustami di atas menjadi re-nungan oleh hati dan akal yang suci seba-gai pelajaran yang bermakna. Sebab, me-lalui seekor anjing, Allah mengajarkan pada manusia untuk menata dan member-sihkan hatinya agar tak merasa mulia.
Keempat, Selevel syekh al-Bustami justeru meminta maaf dan ingin bersahabat dengan anjing yang telah menyadarkan kesalahan dirinya. Sedangkan manusia justru membenci dan memusuhi orang yang mengkritik untuk menyadarkannya. Untuk itu, melalui kisah syekh al-Bustami dan seekor anjing, Allah mengajarkan agar manusia terhindar dari sifat merasa mulia atas status, ilmu, harta, atau tampilan lahiriyah yang memukau dan menawan.
Namun, bagi manusia yang akal dan hati yang kotor, maka kisah di atas hanya sebatas cerita fiksi “penghantar tidur”. Cara pandang ini akan “menidurkan” sisi kemanusiaan dan membangunkan sisi kehewanan untuk mendominasi seluruh gerak kehidupan. Akibatnya, meski tampil sempurna bak “manusia setengah dewa”, tapi isi sebenarnya bak “manusia setengah hewan”. Sifat ini menandakan kemunafik-an hakiki yang sedang disembunyikan. Sebab mereka tau secara pasti, tapi begitu “bangga” mengingkari. Pada waktunya, Allah akan buka semua aib dan menghina-kan manusia yang ingkar, sombong, zalim, lupa diri, dan secara sadar mendustakan ajaran agama-Nya (QS. Ali Imran : 112).
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.
Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 23 Pebruari 2026



