Oleh : Samsul Nizar
(Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Dalam eskatologi Islam, sosok Dajjal me-rupakan makhluk antagonis. Kemunculan-nya sebagai tanda datangnya hari kiamat dan ujian terbesar bagi umat manusia sepanjang sejarah. Hal ini sesuai sabda Rasulullah ﷺ : “Sesungguhnya kiamat itu tidak akan terjadi sehingga kalian melihat sepuluh tanda-tandanya, di antaranya kemunculan Dajjal” (HR. Muslim).
Menurut Imam Nawawi (Syarah Shahih Muslim), Ibn Katsir (al-Bidayah wa an-Nihayah), dan Imam Ahmad bin Hambal (Musnad Ahmad) menyebutkan secara spesifik 10 tanda-tanda fisik Dajjal. Ciri-ciri tersebut bisa dimaknai dalam 2 (dua) perspektif, yaitu : (1) makna lafaz ; mudah teridentifikasi secara lahiriyah. (2) makna majaz (sifat atau karakter) ; sangat sulit teridentifikasi secara fisik. Sebab, bisa saja tampilan lahiriyah berwujud manusia sempurna (saleh), tapi menyembunyikan sifat dajjal dalam dirinya. Bila makna ini digunakan, maka sifat “dajjal” hanya akan terlihat pada sifat dan perilaku aslinya.
Meski kehadiran dajjal sangat menakut-kan, tapi masih ada sosok lain yang lebih dikhawatirkan oleh Rasulullah ﷺ . Hal ini disampaikan melalui sabdanya : “Ada yang paling aku khawatirkan dari kalian ketim-bang Dajjal”. Sahabat kemudian bertanya, ‘Apa itu wahai Rasulullah ?` Beliau menjawab, yaitu ulama (ilmuan) su` adab (buruk adab)” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa hadis di atas merupakan kisah Nabi Muhammad ﷺ ketika melakukan perjalanan isra’ dan mi’raj. Rasulullah melihat ada sekelompok kaum yang bibirnya dipotong dengan gunting api neraka. Lalu Rasulullah ﷺ ber-tanya : “Siapa kalian ?”. Mereka menjawab, “kami adalah orang-orang yang memerin-tahkan kebaikan, tapi tidak melakukannya. Kami selalu menyampaikan agar umat mencegah keburukan, tapi justeru kami sendiri mengerjakannya dengan penuh kesadaran“. Ternyata, mereka mencari ilmu hanya untuk memperoleh kedudukan, menumpuk harta, dan menyombongkan diri atas jumlah pengikutnya. Sungguh, ia telah terperdaya dan berteman dengan dajjal. Ilmu dan posisi sebatas berharap pujian duniawi. Dihalalkan semua cara untuk memperoleh apa yang diinginkan. Ia menyangka bila “topeng keilmuan dan kesalehan” yang ditampilkan bisa menipu Allah dan Rasul-Nya. Padahal, semua ibadah yang dikerjakan akan tertolak dan tak bermanfaat. Sebab, perkataannya tak berkorelasi dengan hati dan perilakunya. Hal ini diingatkan Rasulullah ﷺ : “Barang-siapa yang melakukan amalan yang bukan ajaran kami, maka amalannya tersebut akan tertolak” (HR. Muslim).
Bahkan, Rasulullah ﷺ mempertegaskan-nya : “Barang siapa mencari ilmu yang seharusnya untuk Allah (ikhlas), namun dia mencarinya untuk mendapatkan harta benda dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).
Ada beberapa alasan kekhawatiran yang disampaikan oleh Rasulullah, antara lain :
Pertama, Karakter (tabiat) ulama su’ lebih mengedepankan popularitas dan tampilan lahiriyah ketimbang isi hati yang sebenar-nya kotor. Ilmu, gelar, dan status yang di-miliki menjadi faktor penyebab terjadinya berbagai kemungkaran. Mengerti halal dan haram (hukum) atau perintah dan larang-an, tapi kesemuanya sebatas kata (teori) semata. Sedangkan hati, kata, dan perilaku secara terang dan nyata telah menginjak-injak hukum dan ajaran agama.
Sosok ulama (ilmuan) su’ di atas akan tampil di akhir zaman. Untuk itu, wajar bila Rasulullah ﷺ begitu khawatir ketimbang kehadiran dajjal. Sebab, sosok dajjal hanya bertujuan menyesatkan orang yang lemah imannya (jahil). Tapi, ulama su’ memiliki lidah yang “bercabang seribu” (munafik). Tampil begitu memukau dengan kata bijak tapi perilakunya berwujud kemungkaran, hatinya busuk menyimpan dendam dan kelicikan, serta mengaku berilmu tapi fatwa yang disampaikan demi menyenang-kan “junjungannya”. Namun, mereka alpa atas kuasa-Nya yang –pada waktunya– akan menampakkan semua tabiat aslinya.
Ulama su’ menjadikan ilmunya sebatas sarana untuk meraih status (popularitas) guna menumpuk pundi dengan cara tak terpuji. Kata indah bila di podium, tapi buruk dalam tindakan nyata. Dirinya tak bisa disentuh karena dibela pengikut yang telah terhipnotis oleh tampilan dan kajian-nya. Sungguh, sosok ilmuan su’ sangat berbahaya. Dengan keluasan ilmu, status, kedudukan, atribut, dan pengaruh, ia bisa menipu dan mempengaruhi manusia jahil secara masif. Sebab, semua perkataan dan perbuatannya akan menjadi acuan. Akibatnya, umat tersesat dan terpecah-belah. Dampak ini melebihi kesesatan yang dibawa oleh Dajjal. Tak ada yang berani menasehati atas status yang dimilikinya. Tampil saleh untuk menutupi kesalahan, lihai berdebat atas kefasihan lisannya, dan arogan dengan memanfaat-kan kemunafikan dan fanatik pengikutnya.
Kedua, Kekhawatiran Rasulullah terhadap ilmuan (ulama) su’ bukan pada bidang agama semata, tapi menerpa pada semua manusia yang berilmu secara umumnya. Artinya, ilmuwan dalam bidang apapun berpotensi menyandang predikat ilmuan (ulama) su’ tatkala kata indah tapi berperi-laku nista, menyampaikan yang haq (benar) tapi bertabiat bathil (salah), bicara adab tapi biadab, menerima amanah tapi khianat, meraih status dengan menghalal-kan segala cara, menjaga hukum tapi menjual hukum, atau varian nista lainnya.
Dalam Islam, seorang ulama (ilmuan) idealnya berada di jalan kebenaran (adil), mencerdaskan umat, mengayomi, suluh yang menerangi, serta adabnya dijadikan pedoman. Namun, ketika ulama (ilmuan) su’ terobsesi pada kepentingan pribadi atau kelompok (subyektif), maka sosoknya akan selalu “menginjak” moral (adab) dan kebenaran. Anehnya, fanatisme dan dukungan umat acapkali di luar nalar.
Hadir “pembela” para ilmuan (ulama) su’ yang siap “pasang badan” tatkala sosok “idolanya” disalahkan. Berbagai dalil dan teori pembenaran dimunculkan. Kondisi ini menyebabkan “sang idola” menikmati ke-salahan yang berterusan. Kondisi ini diper-parah atas “anugerah amanah” politis yang diraihnya. Pilihan yang salah memberikan amanah pada ilmuan su’ akan sangat berbahaya. Sungguh tak ada manusia yang sempurna. Setiap manusia berpotensi melakukan kesalahan. Tapi, hal ini bukan jadi alasan melakukan kemungkaran. Ketika umat terlalu fanatik terhadap sosok ulama (ilmuan) su’, serta kontrol sosial dan politis begitu lemah, maka tampil pem-bela subyektif (komunitas jahil) yang digunakan sebagai “mesin pembela” perilaku kemungkarannya.
Ketiga, Karakter ilmuan (ulama) su’ lebih mengedepankan subyektifitas kepenting-an subyektif. Tampil lebih dominan dengan “menyingkirkan ulama hakiki”. Fatwanya direkayasa untuk menjilat “sang idola”. Untuk itu, Rasulullah ﷺ mengingatkan : “Jika kamu melihat seorang ‘alim (ulama atau ilmuan *pen) yang banyak bercampur (bergaul) dengan penguasa, ketahuilah, sesungguhnya dia itu adalah pencuri (atas amanahnya *pen)” (HR. ad-Dailamy).
Sedangkan ulama (ilmuan) hakiki senan-tiasa istiqomah menjaga kebenaran dan mencerdaskan. Ia senantiasa menjaga marwah (muru’ah) diri, membimbing umat ke jalan kebenaran, beradab mulia, dan lentera yang menerangi umat. Sosok ini sesuai firman-Nya : “… sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (beradab *pen). Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun” (QS. al-Fathir : 28).
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa sosok ulama sejati adalah orang yang memiliki ilmu yang menuntun pada kebesaran dan kekuasaan Allah. Mereka memahami tanda kebesaran-Nya yang membuatnya takut dan taat kepada-Nya. Sosok ulama hakiki senantiasa menegakan kebenaran dan moralitas. Meski upayanya akan ber-tentangan dengan “pemilik kepentingan”, tapi kebijaksanaannya bisa menyadarkan. Sebab, ulama sejati akan selalu menegak-an kebenaran-Nya, bukan merekayasa ke-benaran untuk kepentingan dirinya. Hal ini sesuai firman-Nya : “Wahai orang-orang yang beriman !. Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang tergugat) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka jangan-lah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang (dari kebenaran). Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau berpaling (dari kebenaran), maka sungguh, Allah Mahateliti terhadap segala yang kamu kerjakan” (QS. an-Nisa’ : 135).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelas-kan perintah-Nya agar manusia beriman menjadi penegak keadilan dan saksi yang jujur karena Allah. Meski hal tersebut akan menjadikan dirinya hina di bumi, tapi mulia dihadapan-Nya. Allah melarang manusia melakukan memanfaatkan status yang di-berikan untuk memuaskan hawa nafsu dengan menebar kezaliman. Padahal, melalui ibadah puasa, Allah mengajarkan manusia untuk mengendalikan diri dari per-buatan yang membatalkan puasa (syariat) dan semua yang bisa menggerus nilai puasa (hakikat). Namun, semua sebatas euforia. Bahkan, ilmuan (ulama) su’ al-adab acapkali melampaui batas. Demi mengejar “status” –tak peduli– menyewa joki, menyiapkan “onggokan pundi”, dan berharap pundi berlipat kembali. Anehnya, kebanyakan tokoh (ilmuan) membisu dan sekedar menyaksikan. Tak tersisa muru’ah yang layak dibanggakan. Padahal, keterpu-rukan moral semakin akut. Akibatnya, kemungkaran dan kezaliman merajalela dengan memanfaatkan gelar dan status mulia, tapi wujud cara dan perilaku tercela. Sungguh, Allah saja tega ditipu dan diper-mainkan, apatahlagi aturan dan terhadap sesamanya. Meski perilaku su’ al-adab terpampang nyata, tapi sanjungan dan pembelaan terus mengalir deras. Sungguh, “salah dan silaf memang sifat manusiawi. Tapi perilaku kesalahan yang berulang, tanda hobi dan watak asli”. Mungkin ini alasan yang membuat Rasulullah ﷺ begitu khawatir terhadap ilmuan (ulama) su’ al-adab yang akan melebihi dajjal.
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.
Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 9 Maret 2026



