Oleh : Samsul Nizar
(Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Dalam tradisi umat Islam, bulan syawal “kemenangan, kembali fitrah dan waktu untuk menjalin silaturrahim dan saling bermaafan. Bahkan, tradisi ini dilembaga-kan dalam adat. Silaturrahim sejati ber-tujuan menyambung tali kasih sayang. Tak peduli status sosial yang dimiliki. Semua lebur dalam kesetaraan dan keikhlasan.
Berbeda dengan silaturrahim kepalsuan (imitasi). Jalinan yang didasari kepenting-an sesaat (pamrih, materi, kedudukan, atau varian lainnya). Iringan untaian kata maaf sebatas “basa basi” semata. Bila ada “status” dan menjanjikan harapan, silaturra-him terbangun begitu mempesona. Semua begitu indah, seakan tak ada yang nista. Aroma kebusukan dinilai aroma wangi, kesalahan dianggap biasa, dan kezaliman dipandang wajar. Sungguh, silaturrahim sebatas “ada perlu” akan sirna ketika ke-pentingan telah diraih atau tak ada “madu” yang diperoleh. Untaian kata pujian tak lagi terdengar. Justeru terdengar “bisik-bisik” pergunjingan dan kebencian yang membahana. Jalinan silaturrahim model ini akan terputus secara alamiah. Sungguh, Allah sedang mementaskan karakter nista manusia yang sebenarnya. Padahal, perintah membangun silaturrahim telah diingatkan melalui firman-Nya : “Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ?. Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka” (QS. Muhammad : 22-23).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelas-kan bahwa Allah mencela sikap kaum munafik yang enggan berjihad, membuat kerusakan di muka bumi, memutuskan silaturahmi, dan menolak kebenaran yang di bawa oleh Rasulullah. Untuk itu, Allah jadikan pendengaran tuli dan membutakan penglihatan mereka dari petunjuk-Nya. Bahkan, Rasulullah ﷺ memperkuat me-lalui sabdanya : “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahim” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam tataran ideal, silaturrahim mampu membuka hadirnya rezeki. Ajaran ini merupakan perintah agama. Hanya saja segelintir manusia hanya menjadikan silaturrahim sebagai “jalan kejahatan dan kepalsuan”. “Silaturrahim” sebagai media “transaksi” untuk memuluskan tujuan dan ambisi yang berkelindan rapi.
Ada beberapa fenomena perilaku silatur-rahim kepalsuan yang begitu kentara di depan mata, antara lain :
Pertama, Silaturrahim “penuh kepentingan” dan bertopeng kepura-puraan. Silaturrahim terselubung maksud tertentu ketika diri memiliki status. Tapi, tanpa status atau tak lagi bisa memberi manfaat, maka tak ada lagi silaturrahim. Model ini bak madu di kelopak bunga. Ketika ada madu, banyak kumbang yang hinggap “menikmati”. Tapi, begitu madu kering dan bunga layu, ia akan ditinggalkan berguguran tanpa ada yang peduli.
Perilaku silaturrahim tanpa mengedepan-kan keikhlasan dan mengingat kebaikan sesama menjadi fenomena akhir zaman. Tampil silaturrahim ala “Qarun”. Ketika miskin memelas dan berharap agar Allah mengabulkan doanya. Ketika harap telah terpenuhi, Allah dilupakan dan merasa ke-berhasilan yang diraih merupakan prestasi-nya, tanpa kuasa Allah apalagi orang lain. Sikap arogan ini membuatnya lupa Allah dan jasa orang lain (kacang lupa kulitnya).
Kedua, Kata memaafkan sebatas lipstik pemanis bibir. Padahal, hatinya terpatri dendam kesumat yang tak bertepi. Allah sangat mencela sikap kepalsuan yang de-mikian. Hal ini diingatkan melalui firman-Nya : “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik” (QS. at-Taubah : 67).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelas-kan karakter orang-orang munafik (laki-laki dan perempuan) yang saling mendukung dalam keburukan. Mereka bermufakat pada kemungkaran, memutuskan silatur-rahim, bahkan melupakan Allah. Karakter ini merupakan sosok manusia fasik dan menyebabkannya semakin jauh dari rahmat-Nya. Sebab, silaturrahim yang dibangun sebatas kepura-puraan. Sikap kepalsuan yang harus dihindari. Untuk itu, setiap manusia perlu berusaha membersih-kan hatinya. Jika masih terasa berat, jang-an menampakkannya dalam perbuatan dan berusaha memaafkan dengan tulus.
Ketiga, Meminta maaf untuk selanjutnya melakukan kesalahan kembali. Majelis silaturrahim (halal bi halal) sebatas sere-monial ajang saling memaafkan, tanpa pernah menyesali apa yang dilakukan. Momentum ini acapkali menampilkan type manusia yang ditutupi, yaitu : (1) bagi pemilik status, ajang saling memaafkan sebagai kesempatan “membersihkan” kezaliman yang telah dilakukan. Kelak, kezaliman yang sama tetap dilakukan dan kembali dibersihkan pada silaturrahim se-lanjutnya. (2) bagi pihak yang penuh kepen-tingan, kesempatan silaturrahim menjadi peluang “bermanis bibir” mencari ruang meraih “simpati” sang penentu posisi. Hal ini terus terjadi setiap kesempatan silatur-rahim sepanjang sejarah karakter kepalsu-an. Hanya beda waktu, tempat, dan pelaku. Ketika “kepentingan” tak lagi diperlukan, maka silaturrahim tak lagi diperlukan. Jadi, silaturrahim hanya ada tatkala ada kepen-tingan (posisi) dan terputus tatkala hilang “madu” yang diharapkan. Ternyata, silatur-rahim hadir penuh kepalsuan dan diisi oleh manusia bertopeng kesalehan. Akibatnya, nilai silaturrahim mudah terbangun dan mudah terputus sesuai kepentingan yang dituju. Padahal, sifat yang demikian meru-pakan perilaku penduduk neraka. Hal ini diingatkan oleh Rasulullah ﷺ : “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali persaudaraan (silaturrahim)” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis di atas begitu tegas menjelaskan bahwa penyebar kebencian merupakan perilaku nista yang dibenci oleh Allah. Apalagi bila kebencian yang tersembunyi melalui topeng kesalehan. Allah meng-ingatkan dalam firman-Nya : “…Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka ada-lah lebih besar…” (QS. Ali Imran : 118-119).
Dalam Islam, sifat fasik terbagi dalam 2 (dua) bentuk, antara lain : (1) fasik besar (kufur). (2) fasik kecil (munafik dan zalim). Pelakunya diancam menempati neraka jahanam. Hal ini diingatkan melalui firman-Nya : “Wahai orang-orang yang beriman !. Jika seseorang yang fasik datang kepada-mu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelaka-kan suatu kaum karena kebodohan (kece-robohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu” (QS. Al-Hujurat : 6).
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas meng-ingatkan agar melakukan tabayyun (verifikasi) terhadap berita yang dibawa orang fasik. Tujuannya agar tak terburu-buru menerima informasi dan mengambil tindakan yang bisa berakibat kezaliman atau fitnah atas informasi yang keliru. Namun, manusia acapkali tak mau peduli dan menerima info tanpa verifikasi atas informasi yang bersumber dari kaum fasik. Bahkan, menjadikan kaum fasik sebagai rujukan utama yang diposisikan “sekitar pinggangnya”. Bila sang pengendali adalah kaum fasik dan sosok “kudanya” merupa-kan pemilik status yang berharap “belaian dan tumpukan rumput segar”. Sayangnya, kuda tak sadar. Ketika tak bisa “berpacu dan menghasilkan pundi”, ia akan dicam-pakan dan disembelih untuk sang pengen-dali berpindah mencari tumpangan lain.
Keempat, Silaturrahim serba pamrih. Sila-turrahim dilakukan ketika “berbalas”. Bila tak ada balasan, silaturrahim tak perlu di-lakukan. Di sisi lain, silaturrahim tanpa mampu “mengunci” mata dan mulut atas apa yang dilihat ketika bersilaturrahim. Se-bab, silaturrahim bukan “membandingkan” kekayaan dan makanan yang dihidangkan.
Kelima, Praktik silaturrahim dan halal bi halal akhir zaman tanpa mengedepankan adab. Praktik berkunjung sebatas “basa basi” dan kadangkala dengan melihat status sosial sebagai arah yang dituju. Ke-tika pelaku zalim “berstatus” digdaya dan si korban (terzalimi) berstatus jelata, maka sosok pelaku zalim akan didatangi oleh sosok yang terzalimi untuk “mengemis” minta maaf. Akibatnya, pelaku kezaliman semakin pongah dan korban kezaliman semakin tak dihargai. Seyogyanya, pelaku zalim yang bersilaturrahim ke pihak yang dizalimi. Sungguh sirna adab silaturrahim yang dicontohkan Rasulullah ﷺ. Padahal, beliau mengingatkan : “Barangsiapa yang pernah berbuat zalim terhadap kehormat-an saudaranya atau sesuatu apa pun, hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak berman-faat dinar dan dirham…” (HR. Bukhari).
Hadis di atas seakan telah diputarbalikan. Ketika “kursi dan dirham” mampu dikuasai, maka kezaliman halal dilakukan dan kesa-lahan tak menuntut pintu meminta maaf. Sungguh, ternyata manusia bukan sebatas melakukan praktik silaturrahim kepalsuan, tapi menjurus silaturrahim kesombongan.
Saatnya setiap diri menilai tujuan, karakter, dan kualitas silaturrahim yang dilakukan. Sejauhmana ketulusan saling bermaafan yang diucapkan. Ketika ketulusan yang me-warnai, maka hadir pelangi indah yang me-lukiskan kedamaian. Namun, tatkala silaturrahim dan saling bermaafan sebatas menjaga tradisi dan validitas diri (mulia), maka hadir kepalsuan nyata yang menodai peradaban. Memang, “watak lalat tak bisa dirubah dengan wanginya parfum. Ia tetap akan berinteraksi dengan komunitasnya untuk mencari tumpukan sampah dan rindu aroma busuk yang menyengat”. De-mikian pelaku silaturrahim palsu akan men-cari komunitasnya untuk mengokohkan kepalsuan. Sungguh, “sekolah ramadhan” telah diselesaikan, tapi tak semua mampu mendapatkan “ijazah-Nya” (muttaqien) se-bagai warna karakter diri. Sebatas pernah ketemu, tapi tak saling mengenali.
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.
Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 23 Maret 2026



