Oleh : Samsul Nizar
(Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis)
Dalam sejarah umat manusia, nabi Adam AS merupakan manusia pertama. Awalnya, ia menempati surga yang penuh kenikmat-an. Namun, nabi Adam dikeluarkan dari surga ke bumi karena memakan buah khuldi. Padahal, hanya buah khuldi tanam-an surga yang dilarang. Tapi, dengan ke-licikan iblis, larangan tersebut dilanggar. Akibatnya, nabi Adam diturunkan di India dan Siti Hawa di Jeddah. Keduanya kem-bali dipertemukan di Jabal Rahmah se-telah bertaubat atas semua kesalahannya.
Namun, ada alasan sejarah yang menye-babkan nabi Adam AS turun ke bumi. Alas-an yang acapkali terlupakan. Nabi Adam melakukan kesalahan (makan buah khuldi) karena iblis bersumpah “atas nama Allah”. Akibatnya, nabi Adam begitu percaya dan memakannya. Padahal, ia telah melanggar larangan Allah. Untuk itu, Allah memanggil Adam agar menjelaskan alasan melanggar larangan-Nya. Ath-Thabari dalam Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil ay al-Qur’an menjelaskan, ketika Allah bertanya alasan pelanggaran, nabi Adam AS berkata : “wa izzatika, fa wa Allahi ma adzunnu anna ahadan yakhlifu bika kadziban” (Demi kehormatan-Mu ya Allah. Demi Allah, aku tidak pernah me-nyangka ada hamba-Mu yang bersumpah [mempermainkan] nama-Mu kemudian dia berdusta). Sebab, nabi Adam tak mengira ada makhluk Allah yang berani bersumpah dengan “menjual dan mengatasnamakan Allah” untuk mendustai sesamanya guna melakukan kemaksiatan dan kezaliman. Ternyata, hanya iblis dan pengikutnya yang berani dan tanpa ragu bersumpah dengan “menjual” nama Allah. Semua dilakukan demi meraih apa yang diinginkannya.
Atas pernyataan jujur nabi Adam di atas, Allah memberikan keringanan sanksi dengan menempatkannya ke bumi, tapi memberinya bekal “ilmu dan cara bertaubat” atas kesalahan yang telah dilakukannya. Hal ini dinukilkan Allah dalam QS. al-A’raf : 23. Doa ini merupakan bentuk pengakuan jujur nabi Adam atas semua kesalahan yang telah merugikan dirinya. Ia mudah percaya oleh tipuan iblis. Ternyata, iblis adalah guru sumpah palsu dengan “menjual nama Allah”.
Dengan sejarah di atas terlihat bahwa ke-biasaan bersumpah “menjual nama Allah” merupakan kebiasaan iblis. “Ajaran iblis” ini selalu hadir sepanjang sejarah dan dilanjutkan oleh manusia “sang murid iblis” sesuai masanya. Ada beberapa indikator penerus kebiasaan iblis yang bersumpah dengan “menjual nama Allah dan Rasul-Nya” demi meraih keinginannya, yaitu :
Pertama, Bersumpah atas nama Allah sebatas “pemanis bibir dan pelengkap administrasi“, bukan pernyataan nurani (iman). Padahal, bersumpah atas nama Allah untuk mendustai dengan adalah dosa besar. Allah sangat murka pada pelaku (munafik) yang bersumpah palsu. Perilaku ini telah mempermainkan nama Allah dan merusak keimanannya. Mereka adalah manusia fasik. Allah mengingatkan melalui firman-Nya : “Dan janganlah kamu gunakan sumpah-sumpahmu untuk menipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki(mu) sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah ; dan bagimu azab yang berat” (QS. an-Nahl : 94).
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat di atas menegaskan larangan Allah pada hamba yang menjadikan sumpah sebagai alat melakukan penipuan atau makar. Peri-laku tersebut akan merobohkan imannya setelah tegak kokoh. Pelaku pelanggaran atas sumpah palsu akan merasakan azab di dunia, menghalanginya dari jalan Allah, dan mendapat siksa yang berat di akhirat. Ancaman ini merupakan i’tibar bagi hamba yang beriman agar tetap setia pada janji (sumpah) dan kebenaran.
Kedua, Asesoris dan atribut kesalehan se-batas menutupi tumpukan kesalahan. Peri-laku yang demikian merupakan praktik kaum munafik. Sifat ini sangat berbahaya. Ia akan menghancurkan Islam dari dalam (musuh dalam selimut). Tampil anggun de-ngan atribut kesalehan hanya bertujuan un-tuk memperdaya umat. Katanya indah se-akan sosok manusia paling suci, padahal hati dan perilakunya penuh najis. Tampilan dan katanya memukau dan memikat hati, tapi sebatas “jebakan” memuluskan hasrat duniawi. Untuk itu, wajar bila Rasulullah ﷺ sangat mengkhawatirkan sosok manusia yang demikian. Hal ini sesuai sabdanya : “Yang paling aku takuti menimpa umatku adalah orang munafik yang pandai bicara” (HR. Ahmad).
Bahkan, Allah SWT menyebutkan bahwa keberadaan manusia yang munafik hanya menambah kerusakan dan kekacauan di muka bumi (QS. at-Taubah: 47). Anehnya, eksistensi manusia munafik acapkali justeru “dipuja dan dibela” oleh pemilik sifat yang sama. Standard pembelaan bukan karena “benar dan salah” atau “tau dan tak tau”, tapi sejauhmana sosok munafik yang menjual agama tersebut memberi manfaat bagi si pembela atau pemuja. Sikap ini menjadikan kemunafikan tumbuh subur melebihi cendawan yang tumbuh dimusim penghujan. Begitu naifnya manusia pelaku kemunafikan dan kumpulan pembela yang secara sadar melestarikan tradisi iblis dengan “menjual nama Allah” untuk melanggengkan nafsu duniawinya.
Ketiga, menggunakan status agama untuk menjual kebenaran Allah. Istilah “menjual agama” adalah kiasan yang merujuk pada tindakan menukar kebenaran atau ajaran agama demi keuntungan duniawi (harta, tahta, atau popularitas). Dalam Islam, perbuatan ini merupakan perilaku tercela. Untuk itu, berulang kali Allah telah meng-ingatkan melalui firman-firman-Nya (QS. al-Baqarah : 41-42, dan 79 ; QS. Ali Imran : 199 ; QS. al-Maidah : 44 ; QS. al-Ma’un : 1). Bahkan, Rasulullah ﷺ kembali mengingat-kan dan melarang keras umatnya berbuat yang demikian. Namun, semua firman-Nya dan hadis Rasulullah seakan sekedar “per-mainan dan dipersendaguraukan” belaka. Meski umumnya manusia tau atas semua larangan tersebut, namun secara sadar “mempermainkannya” untuk ditukar dengan keinginan duniawi. Sungguh, manusia dengan begitu sadar sedang “menantang dan menentang” Allah dan Rasul-Nya. Padahal, Allah telah mengingat-kan : “Siapa yang menentang Rasul (Nabi Muhammad) setelah jelas kebenaran bagi-nya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dalam kesesatannya dan akan Kami masukkan ke dalam (neraka) Jahanam. Itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS. an-Nisa’ : 115).
Merujuk tafsir Ibnu Katsir, ayat di atas me-rupakan ancaman keras bagi orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya. Ketika ancaman ini tak membuat manusia sadar, maka Allah akan membiarkan pelakunya dalam kesesatan agar kelak menempati neraka jahanam sebagai tempat kembali yang paling hina.
Andai nabi Adam AS hadir untuk menyaksi-kan fenomena perilaku zuriyatnya di akhir zaman, ia pasti akan kecewa dan sedih. Ternyata, zuriyatnya bukan sekedar objek (seperti nabi Adam), tapi subjek (seperti iblis) yang begitu sadar telah “menjual dan mempermainkan nama Allah” sebagai tradisi memperoleh posisi. Ketika nabi Adam (objek) diturunkan ke bumi karena ditipu iblis, tapi zuriyatnya di bumi justeru sebagai subjek yang menipu atas nama Allah dan Rasul-Nya. Sungguh nyata ke-fasikan manusia yang melestarikan sifat iblis dengan “sumpah atas nama Allah” untuk menipu sesamanya. Meski ayat dan hadis begitu jelas mengingatkan, namun begitu nyata pula pengingkaran yang dilakukan oleh manusia. Ketika pelakunya sosok yang tak memiliki pengaruh, maka dampaknya bisa diminimalkan. Tapi, bila pelakunya sosok yang memiliki posisi dan pengaruh, maka dampaknya begitu masif. Bahkan, dampak mudharat dan kezaliman-nya akan dirasakan turun temurun.
Ketika “sumpah menjual nama Allah” di atas dilanggengkan, ditradisikan, didiam-kan, dianggap biasa, dan tanpa merasa ber-salah, maka pertanda iman telah punah. Hanya tersisa wujud manusia, tapi perilaku melebihi hewan melata. Ternyata, hal ini telah diingatkan oleh Allah melalui firman-Nya : “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak diperguna-kannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya un-tuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS. al-A’raf : 179).
Menurut Ibn Katsir, manusia yang digam-barkan ayat di atas merupakan wujud manusia yang tidak mau mendengar kebe-naran, tidak mau melihat jalan hidayah, dan mulutnya melebihi binatang ternak yang terlepas bebas. Mereka tidak dapat memanfaatkan indera-indera tersebut kecuali hanya memuaskan keinginan nafsu duniawi dan hewaninya semata.
Sungguh, semua kebenaran al-Quran hadir begitu nyata. Kebanyakan sebatas dibaca tanpa diamalkan. Padahal, tujuan utama diturunkan al-Qur’an untuk ditadabburi dan dipedomani, bukan sekadar bacaan apa-lagi dijadikan “topeng kemunafikan”. Untuk itu, Allah menegur orang yang tidak mau mentadabburi al-Qur’an (QS. Muhammad : 24 dan QS. Shad : 29) apatahlagi “menjual nama Allah” untuk meraih keuntungan diri. Sungguh, manusia yang suka bersumpah atas nama Allah untuk menipu adalah iblis.
Ketika kesadaran tak tersisa, keimanan se-batas pengakuan, dan ajaran agama seke-dar kamuflase, maka teruslah bersumpah dengan “menjual nama Allah, Rasul-Nya, ayat al-Quran, dan hadis” untuk memuas-kan nafsu duniawi sampai iblis tertawa bangga atas prestasi dan kadigdayaan yang engkau lakukan. Kelak, iblis akan “berguru” pada manusia. Sebab, iblis hanya “menjual nama Allah” untuk menipu nabi Adam AS. Sedangkan manusia lebih piawai. Ia bukan saja menjual nama Allah (sumpah palsu), tapi mempermainkan ajaran Allah dan Rasul-Nya, bahkan men-jadikan agama sebagai topeng untuk me-raih dan memuaskan apa yang diinginkan.
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.
Terbit di Kolom Betuah harian Riau Pos Online tgl. 30 Maret 2026



