Bengkalis – Di sela-sela jamuan makan halal bihalal, digelar diskusi bincang-bincang ringan dengan team Memahami Sejarah dan Makna Halal Bihalal dalam Perspektif Dakwah, Sosiologi dan Komunikasi, di Aula FDK IAIN Datuk Laksemana Bengkalis, Selasa (13/4/2026).
“Ada sepuluh berita koran Belanda yang memberitakan tentang acara halal bihalal sejak tahun 1930-1939. Halal bihalal digelar di keraton Surakarta, Solo. Juga digelar di Salatiga, Ngawi, bahkan Muhammadiyah juga menggelar Halal Bihalal di Solo. Data ini membuktikan bahwa halal bihalal sudah digelar sebelum Indonesia mereka, ujar Dekan FDKI Dr. Jarir, M.Ag didampingi Wakil Dekan FDKI Dr. Khoiri, MH.

Seminar yang dipandu Wakil Dekan Fakultas Syariah dan Ekonimi Islam Dr. Ma’arif M.Hum, saling mengisi tentang makna halal bihalal. Di masa kemederkaan, Halal Bihalal digelar di istana negara, Presiden Soekarno hadir Bersama tamu undangan, kalangan duta besar dari luar negeri.
“Bukan hanya digelar di istana negara, tetapi Menteri, Parlemen, Gubernur, staf Bank Indonesia, komunitas suku, persatuan istri pejabat dan pejabat lainnya menggelar halal bihalal. Paling heboh di Medan, rumah gubernur Sumatera Utara Abdul Hakim dipenuhi ribuan tamu. Acara ini dipimpin doa Ustaz Bustami Lubis.
Terjadi perubahan menu dan bentuk, di awal halal bihalal yang digelar di Keraton Surakarta lebih formal, untuk kalangan keluarga keraton, namun saat digelar di istana negara, yang diundang kalangan duta besar dan tamu pejabat.

Dr. Ma’arif menjelaskan mengapa menu halal bihalal dengan ketupat, karena ketupat itu dibuat dari janur, yang berasal dari kata arab, ja’a nur, artinya datang cahaya.
“Semua tradisi dalam Islam mengandung makna,” ujarnya.







